|
|
|
hallo mas ari,
salam kenal, aku mina, pekerja kantoran plus ibu rumah tangga, yang memiliki kepedulian sesama.
saya terkesan dengan postingan mas ari, dengan judl : "susahnya jadi dermawan di indonesia". saya baru saja mengalami hal tersebut.
jadi begini ceritanya mas ari, saya atas insiatif pribadi membantu mencarikan donasi untuk kelompok belajar PAUD Plamboyan di desa perpencil, desa plosodyong, kab. gunung kidul (where my big family came from). dimana saya tersentuh melihat kegigihan para murid dan para pengajar dengan segala keterbatasan yang mereka miliki : fasilitas gedung yang masih menggunakan balai desa dan ber-alaskan tikar, alat bantu belajar yang sagat terbatas serta para pengajar yang sudah 3 tahun lebih rela tidak di gaji. apa yang saya lakukan adalah mencari donatur yang mau memberikan bantuan baik bantuan jangka panjang ataupun jangka pendek dengan cara mengirimkan proposal ke perusahaan2 yang memiliki program CSR dan ternyata seperti postingan mas ari, saya merasakan kesusahaan dan kesulitan untuk mendapatkan respon dari mereka. memang ada yang memberikan respon, tidak bisa membantu karena mereka sedang menjalankan program lain, ada juga yang memberikan respon : akan di pertimbangkan tetapi sampai hampi 1 bulan tidak ada follow up-nya, malah ada yang sama sekali tidak merespon.
saya sependapat dengan artikel di postingan mas ari. apa yang telah dituliskan di artikel tersebut adalah kondisi nyata di negeri indonesia, dimana kedermawanan kelompok harus ter-ekspos media demi terlihat oleh masyarakat luas bahkan dunia. padahal sebagai negeri yang berpenduduk mayoritas beragama, yang telah diajarkan oleh agama apa pun bahwa : sebaiknya saat tangan kanan diatas, tangan kiri tidak boleh melihat. mungkinkah pelajaran tersebut pelajaran tersebut sudah tidak relevan pada masa kini?
terima kasih atas waktu dan perhatian mas ari, yang telah memberikan kesempatan untuk curhat 
salam,
mina
mina |
04.27.09 - 3:13 am | #
|
|
Commenting by HaloScan
|