Komentar Bijak tentang PKS

Gravatar Hari libur ini entah mengapa saya sangat tertarik untuk membaca surah Al Anfal, mungkin terkait dengan angka delapan. Surah ke delapan. Jadi saya habiskan waktu beberapa jam, sambil menunggui kegiatan anak, untuk memahami surah ini. Buka lemari, saya pilih tafsir Al Azhar dari ulama kita fadhilatussyaikh Buya Hamka rahihamullah. Sungguh tafsir ini amat mengena, Buya memulai pembahasan tafsir dengan menceritakan riwayat perang Badr. Buya juga menjelaskan bahwa ajaran tauhid menimbulkan revolusi dalam jiwa penganutnya terhadap segala kekuasaan yang tidak mendasarkan dan menyandarkan dirinya kepada kuasa mutlak Allah, atau menolak kekuasaan tertinggi Allah. Pemimpin dengan kekuasaan yang bersifat merampas hak Allah, yang tidak menghargai hukum Ilahi, hanyalah akan mengeluarkan pengikutnya dari terang benderang kepada gelap gulita di segala lapangan hidup. Maka selama tauhid itu ada, selama itu pula jiwa berontak (terhadap thoghut) itu terdapat dalam diri penganutnya. Oleh sebab itu, di manapun dan kapanpun, orang yang bertauhid pasti punya semangat jihad. Dengan semangat inilah kerajaan Romawi dan Persia dulu dihancurkan oleh kekuatan Islam. Demikian Buya Hamka dalam mukadimah tafsir surah Al Anfal.

Sungguh mengena, kalau kita bandingkan dengan pernyataan para pemimpin jamaah dakwah ini, seperti finalnya Pancasila dan UUD 45, hilangnya politik identitas jamaah kepada politik kepentingan, tidak pentingnya menegakkan hukum Allah (syariah) secara formal, dst.
Omong besar pidato ke mana-mana tentang rekonsiliasi nasional, tapi dengan kader-kadernya sendiri, yang bahkan lebih senior ketimbang sang sekjen, tidak ada rekonsiliasi. Omong besar pidato ke mana-mana tentang menikmati demokrasi, tapi nasehat dengan sandaran Quran dan sunnah dari kader-kadernya sendiri alergi. Omong besar tentang mengelola ketidaksetujuan terhadap hasil syuro tapi usulan/masukan untuk dibahas dalam syuro saja tidak diterima (apatah lagi dibahas). Omong besar tentang kematangan tarbawi untuk menerima perbedaan, tapi perbedaan dengan saudara sendiri disikapi dengan sikap reaktif frontal (larangan bermajelis ke masjid al Hikmah, larangan mendekati para ustadz FKP, dst). Bicara ke mana-mana tentang Soeharto sebagai ustadziatul ummah (guru bangsa) dengan segala kekurangan yang harus diterima, tapi melarang kader-kadernya sendiri untuk mendekat kepada ustadz-ustadz jamaah ini sendiri. Jadi memang lebih tepat dimaknai sebagai omong besar.
Banyak orang ingin merubah bangsanya, tapi jarang orang yang mau merubah dirinya sendiri.

Saya Pikir PKS untuk 2009 akan ditinggalkan para kadernya. Demi Allah !!!
Allah akan membalikan semua keadaan PKS pada berdiri awalnya agar dia tidak terlena dengan slogan dan citranya.

Allahu gyatuna.....




Name:

Email:

URL:

Comment:  ? 

 

Commenting by HaloScan