Para Kritikus berkata...

Gravatar Yah namanya jg lg emosi mbae, g kenal tuh yg namanya logika.. Kalo sy dlm posisi bu prita, dah sy maki2 tuh dokter.. B-)


Gravatar "Ya, Dewi Prita adalah nama lain dari Dewi Kunti, ibu dari Adipati Karna, Yudhistira, Bima, dan Arjuna"

Canggih bener sih, sampe kepikir ke sana. Hebat lah kau mak!


Gravatar Menurut gue, dengan memenjarakan Prita justru RS ini sukses membentuk opini negatif tentang dirinya sendiri. Waktu pertama denger kasusnya, yang terlintas di pikiran gue bukan masalah dipenjaranya Prita, melainkan: “Buset, serem amat cara ni RS menanggapi komplen pasien.” Bayangan gue, seandainya RS ini memilih cara lain yang lebih ‘lembut’ dan nggak main jeblosin orang, belum tentu kasus ini akan jadi seheboh sekarang. Belum tentu juga semua orang akan menaruh perhatian pada kasus ‘penipuan’ tsb, karena setersebar-tersebarnya berita melalui e-mail, berapa banyak sih orang yang akan betul2 termakan? Lain halnya kalo udah diangkat media se-Indonesia, bikin heboh semua orang, sampai Capres pun berlomba2 nengok. Jadinya di mata masyarakat ya bagaikan merengkuh dua pulau sekali dayung; udah nipu, beringas pula. :-D

Di sisi lain, meski banyak pencampuran antara observasi, persepsi dan emosi di e-mail tsb, setahu gue, awalnya Prita menulis itu ‘hanya’ untuk ‘sharing’ ke teman2nya, semacam kalangan sendiri gitu, tapi tenyata e-mailnya menyebar. Kalo judulnya udah curhat ke temen ya susah, segala filter juga diterabas. Cuma, yang agak ganggu di pikiran, kalo emang niatnya semata2 pengen curhat, kenapa harus lewat e-mail sih? Buat gue, waktu lo posting sesuatu di INTERNET, entah surat komplen, foto telanjang, video ciuman, dan segala hal ‘beresiko’ lainnya, lo harus punya nyali segede gajah dulu. Pertimbangkan baik2. Pikir dua kali. Belajar dari pengalaman yang udah ada. Setidaknya, dengan mawas terhadap kemungkinan menyebarnya e-mail, lo bisa lebih berhati-hati dan mengantisipasi hal2 yang nggak perlu. Internet gitu loh.


Gravatar “The emotions aren't always immediately subject to reason, but they are always immediately subject to action”

William James



Gravatar Yang saya bingung, kok kasus ini dipake juga buat ajang kampanye ya ? Mbak Mega ngunjungi Mbak Prita langsung di Rutan Tangerang, Pak JK malah langsung ke Polisi, trus Pak SBY memerintahkan bebaskan Prita. Heran deh...
BTW, memang sih, emailnya si Mbak Prita ini terdengar pedes juga, tapi ya tolong lah, masak sampai masuk penjara. Jadi tahanan kota aja juga sudah cukup. Ngga tega ngelihat anak2nya... huks huks...


Gravatar Kalo aq siy kyk ny emosi kyk mbk prita jg..kita kan udh dirugikan scr kesehatan..masa kt cm bs membentuk sbh opini email saja dr masyarakat..g adil atuh..iy kalo cm pake inisial2 tanpa pandangan hiperbola dikit..malah dianggap hoax n spam lg..
Perasaan siy udh byk terima imel ttg ketidak puasan thd sesuatu hal..tp paling dicuekin aja..apalagi kalo kesanny biasa2 aja..


Gravatar it's good to know that I can still find someone who can see the whole matter from a different perspective. Frankly speaking I didn't knew about this whole Prita fiasco until yesterday. I didn't even know until today if the e mail was really as far as a "curhat" or Prita herself sent the email for the surat pembaca.
What bothers me is when my colleagues and friends are calling me heartless when I told them she brought the whole thing upon herself. I mean, I know our judicial system is nothing to be proud about, but there must be a ground somewhere where the can pin their case against her. I'm not saying she didn't deserve any sympathy from public, but I really think this whole case is blown way out of proportion.
I really like this piece you're writing. Glad to know there is still someone who can see this matter from different angle, and making me feel less heartless!


Gravatar Ooohhh, jadi gitu toh kasusnya. Maaf, kuper

Setelah gua baca surat aslinya -- asli kan ya? -- gua setuju ama elu. Apakah RS berhak menuntut? Berdasarkan surat itu, berhak banget. Apakah RS salah langkah dengan menuntut? Dari sisi bisnis, iya -- karena masyarakat (internet maupun non-internet) cenderung reaktif en demen ngebela "kaum lemah". Dari sisi moral, nggak.

Apakah si ibu salah dengan nulis ginian? Tergantung, dia kirim "curhat" itu ke milis mana. Kalo milis temen-temen sendiri, ya asik-asik aja. Yang salah yang semena-mena nge-forward ke mana-mana. Kalo milis beroplah nasional, ya salah, pencemaran nama baek emang.


Gravatar BTW, gua nggak tau giman man hukum Indonesia dalem hal ini, tapi harusnya Prita juga bisa nuntut siapapun yang nyebarin "curhat" dia.

Isi email, blog, apalah yang ada di internet itu nggak boleh dikopi en diterusin suka-suka tanpa seizin penulis. Biarpun dikirim ke milis.

Nah, sekarang RS dapet "curhat" Prita dari mana? Kalo mereka nyomot dari salah satu milis, berarti mereka melanggar hak kopi. Kalo ada yang nge-forward ke mereka, berarti si pem-forward ini ngelanggar -- en bisa jadi RS juga melanggar karena mempublikasikan tulisan Prita tanpa izin.


Gravatar Risma Situmorang, kuasa hukum RS Omni International saat jumpa pers di Tangerang, Rabu (3/6) mengatakan surat Prita ditulis dengan judul "Penipuan Omni International Hospital Alam Sutera Tanggerang", benarkah?

http://megapolitan.kompas.com/ re....beritikad.baik


Gravatar Mba, aku ga tau ya apakah yg di blog ini email-yang-asli-tanpa-editan. Soalnya td malam nonton TVOne, kata pengacara RS tsb, subjek emailnya pakai kata "penipuan" dan mencantumkan nama RS, jadi intensi utk sekedar curhat diragukan krn dari awal sudah menuduh.

Aku jg setuju kalau RS tdk 'salah' untuk memperkarakan masalah ini dg tuntutan pidana. Tapi ini menurut saya "lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya". Kan menanggapi komplain bisa dengan hak jawab (seperti kalau ada komplain di surat pembaca), kampanye positif (sesuai masukan mba) dan cara lain yg lebih bijaksana dan 'lembut'.

Saya jg cenderung akan menghindari RS tsb dgn andai2 yg sudah ada di pikiran, "kalau2 nanti ada apa2, saya takut komplain nih". Jadi daripada nanti was2 pas dirawat, ya mending dihindari aja RS-nya.

Mas Dodol, kyknya gak masalah suatu pihak mempublikasikan tulisan orang lain tanpa ijin dalam kasus pidana atau perdata deh *cmiiw*


Gravatar Hri, PJ, & Mela: Emosi memang menggerakan aksi. Kalo emosi memang logika minggir. Dan kalau mengalami kayak Prita gini, gw pasti juga emosi. Mungkin gw gebukin dokternya...

Tapi... itu kan luapan emosi on the spot Kalau kita sudah punya waktu untuk menulis (apalagi kalau sudah berhari2), mestinya logika udah nggak minggir2 banget. Apalagi kalau kita akan menyampaikan suatu informasi tangan pertama yang entah akan beredar sampai kemana.

Itu yang membuat kita harus hati2 sekali kalau menulis ke publik, karena kita tidak akan ada untuk menjelaskan maksud kita seperti kalau kita melakukan percakapan verbal

Leony & JJ: biasa... sambil menyelam minum air... HAHAHAHAHA....


Gravatar Dodol, JJ, Siska, & Mirna: Yup! Kalau "perasaan" dihilangkan, dari isi suratnya sih wajar kalau Prita diperkarakan. Tapi kalau dari sisi bisnis, ini langkah yang nggak tepat dan justru bikin publik ilfeel terhadap RS tersebut Ilfeel bukan karena "hasutan" Prita, melainkan karena melihat RS "kaku" banget pendekatannya

Sayangnya, memang publik kemudian tidak bisa memilah2 kasus ini. Mirip ketika jaman Pak Harto mau diadili dulu; nggak bisa dipilah bahwa penghormatan atas jasa itu nggak ada hubungannya dengan melupakan kesalahan

Dodol, Arshintadewi, & Mirna: waaah... nggak tahu juga ya. Tapi surat pembaca yang ini mestinya ditulis oleh Prita sendiri ya Kalau enggak, kita tuntut aja Detik.com karena memuat surat pembaca yang entah dari siapa

Kalau dari surat pembaca itu, judulnya tidak spesifik mengatakan RS Omni menipu. Kata2 "menipu" itu adanya di badan surat. Namun... judul asli "RS Omni Dapatkan Pasien dari Hasil Lab Fiktif" itu secara tersirat memang menuduhkan penipuan. "Fiktif" itu kan artinya dengan sengaja mengada2kan yang nggak ada, alias "menipu".

Atau kita tuntut aja Jeng Risma karena "mencampuradukkan fakta dan interpretasi terhadap judul" ?


Gravatar Ya udahlah, udah kejadian. Mungkin kalo gua jadi Prita, gua juga bakal nulis gitu di milis. Mungkin kalo gua jadi RS-nya, gua juga bakal nuntut. Sebagai orang awam, gua berharap semua pihak yang terlibat bisa belajar dari pengalaman ini. En semoga kasus ini bisa kelar dengan baek *bijak ya gua*

Sebagai orang IT, gua tertarik ama seberapa sahih sih -- istilah kerennya "admissible" -- email itu sebagai bukti di pengadilan? Kalo di Amrik setau gua musti bisa dibuktikan tanpa keraguan yang beralasan bahwa email tersebut emang otentik (ditulis beneran ama yang bersangkutan, pada waktu yang diperkarakan).

Beberapa state malah nganggep email itu termasuk hearsay.


Gravatar Mela: Gak apa2, Mel. Tapi gw delete ya, biar gak berulang

Dodol: Awam ya, Dol? Bukan "awam medioker" tapi kan?

Waaaah... state apa tuh yang menempatkan email sebagai hearsay? Sebagai tukang protes online profesional, gw mau ah pindah ke sana

Kalau soal membuktikan apakah email itu asli atau enggak, bukannya orang IT jago2? Kayaknya Oom RS tuh hobi banget membuat pembuktian keabsahan Bukannya bisa dilacak pakai komputer apa dari mana, dan selanjutnya tinggal dibuktikan apa alibinya saat itu?

*kebanyakan nonton CSI yaks *

BTW, besok loe jadi pulkam? Awas, jangan ketinggalan pesawat


Gravatar Nggak segampang itu. Namanya juga elektronik, semuanya bisa dimanipulasi. Kalopun bisa dibuktikan "beyond a reasonable doubt" bahwa header dsb valid, itu baru sebagian. Musti dibuktiin juga kalo pada saat itu, cuma si tertuduh yang bisa akses akun itu, dari puter itu, dapet alamat IP itu, dsb, dsb.

Gua pernah baca satu kasus, salah satu yang dijadiin bukti adalah email. Nah, pembelaan si terdakwa adalah, ada orang laen yang tau login dia -- dalem hal ini, mantannya. Gagal deh si penuntut masukin bukti itu.

Akhirnya sih tetep diputuskan bersalah. Tapi bukan gara-gara email itu. Si email mah cuma bagian kecil doang, yang kalo diterima sukur, nggak ya nggak papa.

BTW, gua nemu ini:
http://www.negotiationlawblog.co...say-exceptions/

Jadi dong. Mau jemput? :P


Gravatar Reaksi rumah sakitnya lebay,deeeyh. Mbok ya seperti sewajarnya penyedia jasa lainnya, diprotes, yang turun PRnya aja, menawarkan solusi. Kek gini mah jadi marketing negatif buat si RS. Orang2 berpihak ke Prita lah.

Eh, talking about marketing, lu kan tukang protes neh, bisa dong lo pake cara ini untuk ngeboost traffic di blog lo, daripada macarin Christian Sugiono Apa lagi kejadiannya pas jaman-jaman kampanye pilpres.

Apaaacobaaaa...


Gravatar dulu ada pepatah: mulutmu harimaumu di era internet ini harus ditambah lagi tulisanmu harimaumu. ketika kebenaran terasa pahit untuk diungkapkan mungkin kita harus menjadi batman, menegakkan kebenaran dengan memakai topeng.


Gravatar Dodol: Makasih link-nya. Gw baca dengan khusyuk dulu Waaah... lama2 IT kayak psikologi ya, apa yang tersurat belum tentu sama dengan yang tersirat Tapi emang iya sih, kemungkinan itu kan selalu banyak

Tapi lucu juga tuh kalau ternyata nggak segampang itu. Kalau ada yang protes sama blog gw, gw bisa pura2 nggak nulis. Secara suami gw juga tahu passwordnya

Jemput elu?? Yuuuk... gw jemput ke SG. Tapi bayarin tiket gw pulang balik ya...

okke: tapi Kke, macarin Christian Sugiono itu lebih profitable. Kalaupun traffic gak naik, yang penting gw dapat brondong

adi: adi pinter deh Gw jadi inget "adinda" gw Cuma kayaknya nggak perlu sampai bertopeng sih, cukup asal memperhatikan rambu2 dan pandai berkelit dari jebakan betmen aja


Gravatar harusnya tu RS menuntut dirinya sendiri. kan yang sekarang mencemarkan nama baik ya dia sendiri toh?


Gravatar Waw, sudah rame comment-nya, hahaha...

Mungkin sebenarnya surat ini lebih dimaksudkan ke curhat pribadi saja. Kayanya lebih tepat disebut sebagai curahan kejengkelan pribadi. Layaknya ya ditulis untuk diri sendiri, di jurna pribadi, atau blog private (walau masih rawan juga), haha.

Cuma kalau memang kemudian disebarkan ke umum, ya memang menjadi 'masalah' itu tadi.

Dilihat dari segi promosinya, rasanya sih RS ini malah melakukan tindakan yang salah yah. Dengan melakukan tuntutan itu, memang sih secara hukum dia 'bisa', tetapi kan ini justru menjadi promosi negatif bagi dirinya sendiri kan??

Moral of the story-nya tetep: berhati2lah dalam menulis, apalagi menulis sesuatu yang dapat diakses oleh umum, hehehe


Gravatar nYam: Ide bagus! Itu baru namanya demokrasi rumah sakit Dari RS, untuk RS, dengan ucapan... eh... oleh RS

Zilko: mungkin sih emang curhat. Tetapi tetap aja, sebaiknya kalo curhat TERTULIS jangan sampai bisa diartikan lain. Tau aja banyak yang melanggar nettiquette di sini




Name:

Email:

URL:

Comment:  ? 

 

Commenting by HaloScan