Para Kritikus berkata...
|
|
Setuju!! Aku justru kasian sama anak yang diikutin les tiap hari, tiap jam, tiap bidang sama orang tuanya, akhirnya dia gabisa kemana-mana, misalnya main, jalan2, istirahat, olahraga kesukaannya, atau apa diluar les tsb. Hidupnya kan malah terkekang... . Lagipula prestasi akademis kan ga menjamin kesuksesan di kemudian hari, he3... 
Lagipula, klo ikut kelas aksel, kan cepet lulus tuh, nah takutnya "mental"nya blom siap. Pernah baca, ada anak umur 14/15 th yg udah masuk PT (kuliah), hebat sih hebat, aku acungkan 2 jempol (ato 4 sekalian sama jari kaki deh... :P), tapi apa dia siap di lingk mahasiswa yang umurnya rata2 paling muda 18an?? Sementara temen2 sebayanya mungkin baru masuk ke SMA...
Zilko |
Homepage |
07.20.06 - 6:53 pm | #
|
|
Buat Ima: SELAMAT, ya!
Masa kecil itu bukan untuk dibuang-buang di kelas unggulan... Banyak anak akselerasi yg ketika dewasa malah jadi gedebok pisang. =)
Jago berpikir kan bukan berarti dapet nilai raport sempurna, malah kadang2 si genius di kelas kalau disuruh berpikir kritis otaknya mampet. Dan gue yakin, di rumah Ima udah mendapat pelajaran berpikir kritis yang sangat memadai.. =)
Nanti kalau udah kuliah, cari liberal arts college yang nggak menggunakan sistem nilai dan hampir gak pernah pake textbooks standar, kayak sekolah gue.. hihihihi.
P.S. Kalau udah gede, jangan lupa pacaran, ya.
intan |
Homepage |
07.21.06 - 1:16 am | #
|
|
Sekali lagi, another wise point of view 
Cuman ada satu paragraf yang bikin aku sedikit nggak percaya... pas cerita kamu "dikasihani" oleh kolega ibu-ibu itu... kok bisa sebesar itu "kesabaran" kamu hanya dengan bilang "terima kasih" tanpa ada perdebatan sama sekali Kayak bukan Maya aja....!!! 
Wiria |
07.21.06 - 11:42 am | #
|
|
Wahaha.. ini kasusnya agak mirip ketika gue milih Jurusan IPS waktu kelas 3 SMA. Gue sampe dipanggil wali kelas, dibilangin kalo nilai gue bagus dan sayang kalo gak masuk IPA. Walah.. what's wrong with IPS?
Sylvie |
Homepage |
07.21.06 - 11:48 am | #
|
|
Zilko: Ok deh kakak, setuju juga.. 
Intan: Tante Intan gak usah khawatir. Ima gak bakal lupa pacaran kok! Hari kedua di sekolah aja udah nemu cowok ganteng di kelas, namanya Pasau...
Wiria: You've got me, Wir, I lied.. Sebenernya aku bilang, "Terima kasih. Nggak papa kok, Mama XXX" ... Terus buru2 kembali baca novel The Poet (Michael Connelly) untuk menghindari pembicaraan lebih lanjut... 
*Uhmm.. it is politically incorrect to engage in an argument with another mom from your daughter's class... hehehe... especially kalau koordinator kelas belum terbentuk.. *
Sylvie: HAHAHA... Sama! Gw juga ditanya gitu pas masuk A3 sama wali kelas. Katanya, "Bener kamu mau masuk A3 aja? Nilai kamu cukup baik untuk masuk A1"... Lha wong gw gak pingin belah2 marmut kok disuruh masuk IPA.. 
-you know who- |
Homepage |
07.21.06 - 12:09 pm | #
|
|
Kalau bisa jadi matahari buat apa jadi bintang kecil?Kalau bisa jadi pemenang buat apa jadi pecundang?Masalahnya kita tidak pernah tau sampai mana batas kemampuan kita.Albert Einstein ternyata hanya menggunakan 10 % dari kemampuan otaknya jadi sebenarnya otak manusia itu sangat luar biasa hanya perlu diasah dan digosok nah tugas kita sebagai orang tua dan pendidik bagaimana cara menggosok dan mengasahnya bagaimana agar pelajaran dapat dimengerti dengan mudah .Kita tidak perlu menyediakan waktu khusus sambil nonton sinetron kita mikir,sambil nonton bola kita mikir gimana agar pelajaran itu menjadi sesuatu yang menyenangkan.
Gw akan menceritakan sekelumit perjalanan hidup gw.Gw masuk SD swasta ,bayarannya sangat mahal berlipat lipat kali dari bayaran kakak gw yang SMA.Tentu saja yang masuk situ dari kalangan menengah atas semua tapi kepintaran tiap anak berbeda jadi kita disitu berinteraksi antara yang kemampuan akademik tinggi dan rendah.Terus pas gw mau masuk SMP gw disuruh sama bokap gw untuk masuk SMP Negeri ,gw heran kenapa gw harus masuk SMP Negeri padahal kan SMP swasta lebih bagus?Bokap gw bilang begini biar kamu ada suasana baru dan punya wawasan lain.Terus dia bilang begini di dunia ini kita tidak hanya makan yang kita sukai kadang kadang kita harus makan sesuatu yang tidak kita sukai tapi sangat dibutuhkan oleh tubuh kita dan kamu harus mengenal makanan yang tidak kamu sukai itu .Sebagai lulusan SD terus terang gw bingung maksud bokap gw itu apa?Buat apa gw masuk sekolah negeri yang kumuh itu?
Pas gw SMA baru gw terasa pesen bokap gw itu,kebetulan gw masuk SMA favorit di Jakarta .Gw menjumpai masyarakat yang beraneka ragam status sosialnya ada yang miskin,ada yang rumahnya tiap musim hujan kebanjiran,ada yang rumahnya di gang becek,ada yang rumahnya deket mushala yang selalu berisik dengan pengajian dan ceramah ceramah "keras ",ada yang rumahnya deket sarang narkoba .Dan gw bisa bergaul dengan mereka semua,sesuatu yang tidak bisa gw dapatkan kalau gw tetap bersekolah di tempat yang elit itu.Kemudian gw menjadi simpatisan Rohis sesuatu yang baru buat gw yang selama ini nggak perduli dengan Agama ,Gw baru percaya Tuhan itu ada setelah gw melihat Setan.Gw berpikir begini kalau Setan itu ada berarti Tuhan juga ada.
Pergaulan gw dengan kalangan yang disebut Islam Puritan menyebabkan gw jadi lebih mengerti mereka ,mengerti cara berpikirnya dan memaklumi mengapa mereka berpikir seperti itu .Hal ini berlaku juga untuk golongan lain ternyata semakin kita terlibat didalam suatu masyarakat yang plural semakin besar toleransi kita.
Terus terang sekarang ini sangat sulit buat gw untuk membenci seseorang atau suatu golongan apalagi pengen nimpuk segala karena gw mengerti pola pikirnya seperti apa dan alasan alasannya mengapa mereka bersikap begitu.
Mengenai kelas akselerasi gw sangat setuju sekali ,coba bayangkan anda berada disuatu kelas yang pelajarannya sudah anda kuasai atau pelajarannya terlalu gampang tentu anda jadi bosan.Ib
Amatir |
07.21.06 - 4:42 pm | #
|
|
emang anak kecil seharusnya main...
buat amatir : jadi matahari emang bagus, tapi kalau cuma bisa ingin jadi matahari, ini yang gak sehat. satu2nya kelemahan dari menjadi yang terbaik adalah gak ada yang lebih baik lagi untuk dijadikan panutan/acuan/sasaran tembak, and it sucks more than being behind :p
hans |
07.21.06 - 5:43 pm | #
|
|
Bro Hans ,kata siapa itu nggak sehat?Jagat raya itu luas apabila kita jadi matahari masih ada matahari matahari lain di galaksi yang berbeda disitu kita bisa belajar.Kalau gw sebagai matahari ,panutan gw jelas yang menciptakan gw itu acuannya gw ikuti saja apa yang menjadi ketentuan yang menciptakan gw sehingga gw bisa menjadi matahari yang baik.Jadi siapa bilang jadi jadi Matahari nggak punya acuan?Nggak punya acuan itu terjadi apabila Matahari tersebut cuek bebek dengan yang menciptakannya jadi hidupnya tidak punya tujuan sekedar bersinar sudah itu mati.wakakak wakakak kesihan deh.
amatir |
07.21.06 - 6:39 pm | #
|
|
Amatir,
Gue ceritakan sekelumit pengalaman gue hari ini, ya. Gue baca komen loe dua kali, tapi kok gue nggak nangkep-nangkep ya, apa hubungan komen loe sama artikelnya Mbakyu? Terus, gue juga mencoba mengerti argumen2 loe, termasuk "Kalau Setan ada, Tuhan juga pasti ada" tapi gak berhasil. (Sampai2 gue coba menterjemahkan 'Tuhan' ke dalam pengertian non-Semmit, if that makes sense -- tapi tetep aja gak ngerti.) Kesimpulan terbaik gue: it seems that your argument falls into the fallacy of begging the question).
But of course, that's besides the point, since topik artikelnya adalah soal "bijak tidaknya memandang pendidikan akseleratif sebagai sesuatu yang bergengsi dan 'paling baik.'"
Yah, walaupun nggak nyambung, gue ambil hikmahnya aja, deh. Gue belajar sesuatu dari pengalaman menyenangkan membaca komen loe (thanks for making me laugh, btw!):
1. It's true, berusaha mengerti pikiran orang lain dan memahami tindakan2nya *is* something necessary to broaden your perspective, walaupun:
(a) Terkadang kita gagal mengerti karena, misalnya, argumen yang diberikan oleh orang tsb tidak koheren, poor, or sometimes, plain nonsense.
(b) Setelah berhasil memahami, kita tidak setuju dengan pikiran atau tindakan tersebut.
2. Memahami pikiran/tindakan sso bukan berarti kita tidak bisa tidak setuju dengan pikiran/tindakan tsb. If that's the case, ini malah bagus, berarti ada kesempatan utk berdiskusi atau berdebat, shg kedua pihak bisa memperluas pandangan dalam semangat open-mindedness demi mencapai pemahaman yg lebih baik soal dunia. Tapi,
3. Bila orang tsb tidak memiliki semangat yang sama (bila ia bersikukuh, misalnya, bahwa "killing infidels are the right thing to do because the Book tells [him] so"), nah, susah utk gue punya kemampuan mengerti pemikirannya. Atau, bisa juga, walaupun argumen dia nggak koheren dan dia sepertinya tidak mengerti topik yg dibicarakan, dia tetep aja ngotot bahwa argumennya benar. Kalau yg seperti ini, wajar aja kalau dia bikin orang lain 'pengen nimpuk,' but bukan berarti bahwa yg pengen nimpuk itu 'membenci' dia. (Gue akui, though, range gangguan yg bisa bikin gue pengen nimpuk jauh lebih luas.. tp setidaknya kan gue gak pernah nimpuk beneran..=) )
4. Mengerti pikiran atau tindakan sso bukan berarti kita harus, scr personal, kenal dengan orang tsb. Yg penting adalah pendapat yg ia bicarakan atau tindakan yg ia lakukan, dan konsekuensinya -- motivasi dan asumsi dibaliknya bisa kita probe/analisis di jalan. Ketika gue mengkritik Republican's insurance policy dan menganggapnya sebagai sesuatu yg tidak etis, misalnya, bukan karena gue kenal si pembuat kebijakan, tapi karena gue menilai apa yang keluar dari kebijakan tersebut.
Sekian cerita mengenai pengalaman gue hari ini.
Ttd,
"Kalau bisa jadi ahli, buat apa jadi amatir?"
si ahli (nujum) |
Homepage |
07.22.06 - 1:09 am | #
|
|
HUAHAHAHA...
Empat komentar terakhir ini bikin gw had a good laugh... Well, gw no comment deh.. Pingin lihat kemana angin bertiup... 
-you know who- |
Homepage |
07.22.06 - 9:24 am | #
|
|
Well,
sebenarnya alasan gue dan ibunya ima tidak berharap ima masuk kelas aksel atau kelas percepatan sih sederhana aja.....
kami berdua terlalu malas meminta ima untuk belajar dengan tekun setiap malam, terlalu gak pedulian untuk memintanya ikut les kumon, piano ataupun les-les yang lain.
daripada repot, kami berdua lebih senang membiarkan ima bermain sepeda sesorean dengan teman-temannya (bahkan saya terlalu malas untuk membeli rokok ke warung dan menyuruh ima untuk melakukannya dengan menunggangi sepedanya jam 8 malam)...
kami mungkin terlalu lelah di kantor sehingga akhirnya malas berpikir dan membiarkan ima memilih sendiri ekskul yang diingininya, mengiyakan saja saat ia ingin les bahasa inggris, membiarkannya memilih pergi ke mana saat liburan,
well kami berdua mungkin juga terlalu repot dengan uirusan kami sendiri sehingga kurang bisa menjadi panutan bagi ima untuk menentukan hari depannya seperti apa. Paling yang kami bisa adalah berusaha menjadi temannya saat dia menjalani masa kecil sambil ima menggambarkan sendiri arah hidupnya ....
jadi alasannya memang sederhana, kami (terutama saya) terlalu pemalas...
japro |
Homepage |
07.22.06 - 12:32 pm | #
|
|
yeah what's wrong with ips? wkt dulu penjurusan malah sempet ditelpon wakepsek bidang kesiswaan : "ini bener pilihannya ips?" pengennya sih jawab "iya bener kok pak, abis kapok gak pengen ketemu fisika lagi" :-p
btw gpp kok jadi bintang kecil kan katanya (pls correct me if i'm wrong---maklum kan anak ips) : bintang sebenernya lbh besar & terang drpd matahari tapi krn letaknya lbh jauh jadi terlihat kecil & redup 
pops |
Homepage |
07.24.06 - 5:09 pm | #
|
|
sebenarnya gw masih pengen membahas dan berdiskusi tapi berhubung topik sudah berganti menjadi membahas tentang orang gendut gw jadi malas membahas kasus ini .Gw takut si ahli (nujum) kagak baca ,percuma donk gw nulis panjang lebar tapi nggak ada yang baca.
amatir |
07.25.06 - 1:55 pm | #
|
|
Amatir: jangan khawatir... bahas aja terus. Biasanya si Ahli Nujum suka kok tetap ngebahas topik lama walaupun topik sudah berganti. Dia berkomentar pada topik yg dia suka, dan dari kebiasaan sebelumnya ada indikasi dia tetap memantau suatu topik yg dia suka walaupun sudah ganti topik... 
Bukankah begitu, Ahli Nujum... ?
Ohya, Amatir, sekalian loe komentarin komentar bapaknyaima ya! Dia nulis komentar itu spesial buat loe lho... tapi sebelum gw lihat komentarnya, gw keburu nulis topik baru... HAHAHAHA...
pops: Exactly... HAHAHAHA... matahari itu kan pada hakikatnya bintang juga toh.. 
-mayanoto- |
Homepage |
07.25.06 - 6:11 pm | #
|
|
wah aku telat baca blognya nih, gk tau nyambung atau enggak dgn topik ini, tapi ada satu cerita ttg anakku natya...waktu dia naik kelas 6 sd, dia datang sendiri melihat pembagian kelas ke sekolah,sehari sebelum masuk hari pertama. begitu pulang aku kaget bgt dia pulang sambil nangis n matanya udh sembab...ternyata dia dia masuk ke kelas unggulan lagi n dia langsung stres n sedih karena takut tidak mampu....wah aku yg tadinya bangga jadi bingung juga, ternyata natya tidak bahagia berada d kelas unggulan karena menurut dia, dia capek sekali mengikuti pelajaran n tidak bisa main kalo sore hari bersama adik n teman2 sebayanya di rumah. 'kalo aku gk belajar, aku d kelas jadi ketinggalan, gk bisa jawab pertanyaan guru dsb", itu keluhan dia.
sejak kejadian itu aku sadar, belum tentu sesuatu yg membuat kita orang tua bangga (krn anaknya masuk kelas unggulan) itu membuat anak kita bahagia, karena walau bagaimanapun dia juga membutuhkan 'hiburan' utk dirinya sendiri.
jadi untuk adik ima yg lucu...semoga ima menikmati masa anak2 dengan bahagia n bersyukur memiliki orang tua yg tidak membebani anaknya dengan target yg muluk2.
aku bilang gini karena aku tau bgt gimana orang tua sekarang memaksa anaknya untuk bisa berprestasi demi kelas n rangking......kadang dalam hati aku suka nanya, kalo mereka belajar udah gk d bawah bimbingan n pelototan orang tua lagi apa mereka masih bisa seperti itu?????
di sekolah anakku banyak ortu yg lebih sibuk mengumpulkan soal ulangan utk anaknya belajar ketimbang anaknya sendiri....waduh...kadang aku suka kasian juga sama anak2ku karena ibunya kerja gk sempet melakukan hal2 itu...tapi allhamdullilah anak2ku bisa mengikuti pelajarannya dgn baik n lebih mandiri dlam belajar.
natynda |
07.26.06 - 1:46 pm | #
|
|
komenku pasti lebih telat lagi. tapi sebagai orang yang belum-jadi-orangtua-jadi-ga-tau-gimana-cara-
menyelaraskan-teori-dan-praktek,
seberapa pentingnya sih kelas unggulan itu dibanding kebahagiaan anak? kalo dia ga hepi di situ, apa gunanya? kayanya yang bangga ortunya aja deh kalo anaknya masuk kelas unggulan. buat si anak: yang penting ketemu teman sebaya ^_^
nYam |
Homepage |
10.05.06 - 5:55 pm | #
|
|
Mbakyu Nat: waaah.. aku juga telat baca komentarnya.. hehehe... Tapi thanks for sharing ya, Mbak.. Seneng dengar pengalaman Natya yg "mendukung" hipotesaku.
nYam: hehehe.. klo menurut gw sih gak penting, nYam! Tapi banyak ibu2 yang membuatnya seolah urusan pueeentiiiing banget 
-ibunyaima- |
Homepage |
10.06.06 - 2:17 pm | #
|
|
duh, bagusnya postingan ini. salam kenal mbak. nyasar dari blog seseorang -yang saya sudah lupa juga- tadi.
pipit |
Homepage |
10.30.08 - 9:58 pm | #
|
|
pipit: salam kenal juga 
-may- |
11.01.08 - 3:54 pm | #
|
|
Commenting by HaloScan
|