Para Kritikus berkata...

Gravatar ceritanya panjang banget ya


Gravatar Gue pikir masalahnya tidak sesimple itu, media massa juga punya keterbatasan kemampuan dalam menggali informasi, tempatnya terlalu terbatas dll sehingga harus dilakukan pemilahan- pemilahan fakta mana yang menjadi prioritas.


Penting tidak pentingkan subyektif Lo sendiri sudah tau itukan dan pernah bilang sendiri begitu bahwa pembaca itu harus dididik kalau perlu diarah arahkan wakakak wakakak Trus kenapa mencak mencak ketika yang lo anggap penting dianggap pihak lain tidak penting?


Kalau dirasa informasinya kurang ya lo cari sendiri informasi yang lengkap dimana mana informasi terbuka itu tidak pernah lengkap Kalau mau lengkap cari informasi tertutup. Harus timbul kesadaran bahwa informasi itu mahal jadi jangan anggap remeh informasi ya....Lah ini beli koran Rp 2500 dan nonton infotainment yang gratisan mau informasi lengkap & ideal walah walah jangan mimpi mbak wekekek wekekek


Gravatar Ya, menurutku bener kata ara, pasti ada skala prioritas yang ada di media massa. Misalnya kalau koran mungkin terbatas dengan halaman, sementara kalo TV terbatas dengan durasi. Makanya yang diprioritaskan itu yg "menurut" mereka "penting". Ya kan bisa jadi yang penting ini nggak selaras dengan pandangan kita, hahaha...

Berhubung blog itu juga merupakan semacam media massa bentuk baru, apa gak lebih keren kalo disebut sebagai estate ke empat setengah yah? LOL (kalo 3G aja dikembangin kan jadi 3.5G dulu, hahahaha.... )


Gravatar masciput: iya, ceritanya panjang. Soalnya motivasi menulis adalah untuk memuaskan keinginan ingin nulis, bukan buat memuaskan pembaca. Makanya, kalau belum puas nulisnya, gak berhenti biarpun pembaca udah bosan

ara: hehehe... iya, gw tahu mengenai skala prioritas. Tidak, gw tidak minta sesuatu yang komplit. Dan tidak, gw tidak mencak2 karena apa yang gw anggap penting tidak dianggap penting oleh media massa. Lebih tepatnya gw mempertanyakan integritas media massa (dalam hal ini infotainment)

Pernah nonton infotainment, gak Ra, Zil? Apa pun stasiun TV-nya, apa pun nama acaranya, jam berapa pun jam tayangnya, BERITANYA 80% SAMA . Yang 20% beritanya beda seleb, tapi bergenre sama. Kalau gak pacaran, perselingkuhan, perceraian... hehehe... Ya, ya, itu yang laku di pasaran. Tapi, menurut gw itu konyol, karena akhirnya semua hanya jadi "me too" product

Apa salahnya menyelipkan 1-2 berita yang society's/star's welfare oriented? Kenapa "bintang" hanya diperlakukan sebagai obyek, bukan mitra; obyek demi memuaskan profit orientation mereka? Theoretically, ada pangsa di sini untuk menjadi "berbeda". Dan apa kalau beda pasti nggak menarik? Tergantung mengemasnya...

*jadi ingat suatu penelitian tentang media massa Islami beberapa waktu lalu. Beberapa responden ngusulin ada "kolom gosip yang Islami". Gw bingung sendiri bikin laporannya... hehehe... kolom gosip kok Islami Tapi, setidaknya itu menjadi ide segar... ada peluang untuk menjadi "berbeda" dan "tetap laku"... *

Tapi kalau mereka nggak mau juga gak apa2... toh ada BLOG... hehehe... Buktinya, blog gw yang topiknya suka aneh2 aja loe2 pada baca. Jadi.. ini masalah "kemasan" aja kan, bukan melulu beritanya...

zilko: HAHAHAHA... iya, Zil, tadi malem, sempat mikir juga: kok ke-5 ya? Kan gak beda kategori. Harusnya ke-4.5 kayak 3.5G


Gravatar Mbak May... Ngomong2 soal infotainment dan prioritas, para artis itu benernya ngebayar gak sih untuk dipublikasikan? Soalnya, aku kan punya temen yang kerja untuk bagian gossip di salah satu stasiun TV, dia cerita sama aku, kalau artis itu banyak banget yang bayar infotainment untuk ngetop, malah bikin cerita sendiri, lalu menghubungi infotainment untuk meliput. Contohnya kasus yang selebriti cewek manjat rumahnya sendiri karena nggak dibiarkan masuk. Seandainya kejadian normal, mana sempat kamera2 infotainment meliput si artist itu manjat. Kata temenku, stasiunnya ditelepon sama manager artis itu, supaya datang ke lokasi. Tapi gak tau bener atau nggak.

Kmarin itu aja ada artis muda kinyis2, mobilnya mogok di jalan, eh bisa ada infotainment rame2 gitu memberitakan: Artis XX ternyata mobil barunya mogok... Kalau normal lagi, masak sempat-sempatnya artis mobilnya mogok diliput berbagai infotainment? Penting banget sih...


Gravatar Bukannya waktu terbitnya Maryamah Karpov mau dibarengin sama waktu rilisnya film Laskar Pelangi? Biar rame sih, katanya ...

(Lupa gw baca di koran mana ....)


Gravatar Leony: memang, kok, masuk ke infotainment itu bisa bayar juga. Biasanya seleb memanfaatkan ini kalau mau promosi launching album/novel/film atau bikin konferensi pers. Mungkin banget juga ada seleb2 baru yang juga memanfaatkan buat bikin sensasi (semisal yang manjat pager itu )

Tadi pagi juga ada kata Omme-nya QQ yang Ratu Infotainment itu, di TV ada Zaskia Adya Mecca "curhat" tentang kecolongan 24 jeti dari rekening BCA-nya. Kasus itu kan umum banget ya... tapi masuk infotainment juga. Mungkinkah bayar?

Nah... jadi justru itu yang gw pertanyakan tentang integritas infotainment Yang remeh-temeh gini ditayangkan, sementara yang mengandung muatan berita "baru" enggak.

Menurut gw sih kejahatan terencana seperti yang dialami Nia ini lebih mengerikan dan perlu diketahui publik. Publik perlu tahu juga bahwa penjahat udah segitu profesionalnya. Kalau dulu cuma modal teknologi kartu yang bisa "merekam" PIN kartu sebelumnya, telpon pura2 ada anggota keluarga kecelakaan, atau yang terakhir "nyolong" kupon undian berisi data untuk meyakinkan korban, sekarang penjahat udah berani "masuk kandang macan": bener2 ketemu calon korban dengan tenang dan terencana.

Sayang bener kalau yg beginian luput hanya karena artisnya kurang terkenal atau karena nggak bayar upeti

PJ: akhirnya keluar bareng filmnya ya? Yaah... masih lama dong! Filmnya aja baru beberapa bulan lalu casting pemain Rencana awalnya kan September 2008, bukan?


Gravatar topiknya aneh2, tapi serruu... hehehe...

berita infotainment paling ajaib yang gue inget adalah... Roger Danuarta ganti ban. PENTING AMAT!!!!! Apalagi, kalau artisnya lagi ngomong ini.. itu.. anak sakit, dsb, terus buntut2nya... iklan produk kesehatan... huwahaha... itu bener2 aneh...


Gravatar Hehehe.. thanks udah di edit2 mba May, tulisannya jadi lebih layak di baca.. HAHAHA..

Infotainment mang kadang2 suka mengada-ada dan dibuat-buat.. temanku yang ke Dufan pernah pas lagi ngantri wahana ada pasangan seleb CO dan GA lagi diliput ma infotainment yang suka "menyilet" itu.. menurut temen gw, reporternya nyuruh2 mereka pegangan trus abis itu baru direkam.. *penting banget deh*

Giliran berita2 yang harusnya menjadi penting bagi publik malah tidak digubris. Memang rasanya berita2 di tipi kurang bisa diandalkan. Huah, kalimat terakhirnya nyindir banget, HAHAHA....


Gravatar ulfah: eh! Roger Danuarta ganti ban itu penting, lagee! Penting untuk menunjukkan bahwa dia laki2 sejati yang bisa ganti ban

*komentar sinis gara2 ada tayangan infotainment bapaknya Roger bilang gini, "Roger itu laki2 sejati, tahu! Main sinetronnya aja sinetron silat melulu! Kalau bukan laki2 beneran mana bisa main sinetron silat!*

iwan: wakakaks... gw edit karena buat konsumsi publik kok, Wan. Aslinya udah enak dibaca untuk konsumsi terbatas

Emang, infotainment gak penting banget! Gw sebel banget kalau mereka udah sok menganalisa, tapi analisanya dangkal dan dibuat2... hehehe...*

Kalimat terakhir menyindir? Aaah... tidak. Itu tidak menyindir. Itu MENYILET (tapi menyilet no one in particular kok )


Gravatar infotainment kan sibuknya ngebahas artis mana yang jadi caleg. kali-kali ntar bisa syuting sinetron dari dalam ruang sidang he he he


Gravatar nYam: semacam sistem ijon ya? Liput sekarang, biar banyak yg milih. Terus... nanti "bayarannya" hak eksklusif meliput dari dalam ruang sidang


Gravatar pertama-tama, salam kenal.
kedua, saya mau menuduh anda sok tahu karena tiba2 muncul di blog saya dan menuduh saya memegang profesi yang belum tentu benar, tapi membaca anda berbicara tentang anda sendiri, ya udah, saya ga jadi nuduh... abis, anda undah menuduh diri sendiri sebagai pribadi yang sok tau... gimana saya mau nyela kalo anda suda mencela-cela diri anda sendiri? curang!

ketiga, sebetulnya tulisan saya mengenai media di blog saya hanya merefleksikan apa yang saya pikirkan mengenai peran media di dunia, khususnya di Indonesia, mencoba untuk membuka mata sang pelaku media itu sendiri bahwa profesi yang sedang di perankannya sebetulnya membawa tanggung jawab yang sangat besar, dan dapat dikategorikan sebagai (apa yang saya tahu) "officium nobile". "profesi yang mulia". Bukan keluhan saya mengenai kebobrokan dan keburukan media (dan para pelakunya) di Indonesia.

Keempat, mengenai pemilih-pemilihan berita yang akan di "blow-up" oleh media, saya rasa itu terjadi atas beberapa kriteria, yang pertama, memang seberapa berkualitasnya berita itu, kedua, apakah berita tersebut dalam kategori "money maker", you just had to open your eyes that these people are still in need for money, ketiga, waktu penyampaian, orang-orang ini kan juga manusia, bisa aja lupa, dan yang keempat, yang sering dilupakan oleh kita sendiri, adalah cara penyampaian berita, dari sang sumber ke sang penyampai berita. sering kali kita menganggap diri kita "terlalu penting" sehingga untuk berbicara pada orang, kita tidak melihat cara penyampaian kita, meskipun misalnya kita menganggap berita yang kita sampaikan termasuk dalam kategori "money maker".

kelima, sebenarnya saya sendiri tidak terlalu mendalami masalah jurnalistik ini, namun, komen saya yang panjang dan lama ini (serta bikin males untuk dibaca) adalah semata-mata untuk merebut gelar "tukang komen paling panjang" yang selama ini dipegang oleh rekan saya yang lucu, SSL.

hehhehehehe.... makasih yah... thank you for giving me ideas and taughts about journalism.

-cm's-


Gravatar contradictiveminds: pertama, salam kenal diterima

Kedua, coba tolong dibaca baik2 komentar di blog Anda itu... hehehe... Itu bukan komentar saya, melainkan komentar dari Oscar dengan melampirkan tulisan saya Mosok nggak bisa bedain sih

Mbok ya hati2 kalau mau ngelabrak orang Kalau main labrak dan salah orang, kelihatan konyol banget... hehehe...

Ketiga, Keempat, Kelima nggak saya bahas. Tulis aja di blognya Oscar ya.. hehehe.... Saya sih nggak keberatan dilabrak orang, tapi males aja kalo cuma karena salah sambung

*tapi terima kasih komentarnya Lepas dari salah sambungnya, komentarnya cukup nyambung sama tulisan saya *


Gravatar contradictivemind: eh.. tapi saya berubah pikiran deh Saya tanggapi juga komentar sampeyan

Komentar thd Komentar 3:
Setuju! Saya juga menganggap bahwa profesi ini "officium nobile". That's why sangat mengecewakan ketika fokusnya bergeser menjadi "money, money, money"

Komentar thd Komentar 4:
Setuju bahwa kualitas berita harus jadi perhatian, dan bahwa berita itu juga harus bisa "kasih makan" si penyampai berita. Makanya gw nggak heran bahwa berita tertipunya selebriti "instan" mungkin nggak terlalu jadi money maker.

Tapi... yang gw heran, kenapa masalah money ini jadi yang utama, sehingga profesi yang harusnya "officium nobile" ini mengabaikan kualitas berita berupa eskalasi tindak penipuan menjadi lebih serius dan terencana? Bukankah ini bertentangan dengan keterhormatan profesi? Ini ibarat melacurkan diri; mengabaikan yang berkualitas krn gak ada duitnya

Tentang "bisa aja lupa"... well, ini alasan yang nggak masuk akal, men! Kalau urusan pekerjaan dan gampang lupa detilnya, namanya nggak profesional

Untuk yang "sehingga untuk berbicara pada orang, kita tidak melihat cara penyampaian kita, meskipun misalnya kita menganggap berita yang kita sampaikan termasuk dalam kategori "money maker""... hmmm... di kasus yang saya bahas ini, saya malah menganggapnya bukan money maker. Tapi justru itu yang bikin saya bilang profesi jurnalis seolah2 melacurkan diri


Gravatar "Grusa-grusu tundhone bakale kleru. Baca dulu etiketnya sebelum minum obat, kalau perlu diulang sampai 2 atau 3 kali, supaya nggak terjadi salah minum obat"
Itu adalah pesan yang selalu gw sampekan kepada hampir setiap pasien yang akan keluar dari ICU.


Gravatar salam kenal mbak,

saya juga pernah ngalamin kejadian yang nyaris sama, ibu saya satu sore telp saya, grasak-grusuh minta tolong saya untuk segera mentransfer sejumlah uang yang cukup besar ke rek. seseorang an/penanggung jawab dari Pusat Perbelanjaan yang mengadakan sayembara tsb.

Saya ngotot2an dengan ibu saya bahwa ini pasti bentuk penipuan seperti yang biasa terjadi. Mama saya bilang tapi kupon yang dilampirkan benar2 kupon yang ditulis tangan oleh ibu saya, dan surat itu juga disertai surat resmi dari kepolisian. Kalo gak ditebus, barang ini akan dilelang, blablabla... As usual... defaultnya sama, ujungnya pasti minta trf sejumlah uang untuk pajak pemenang..

Singkatya, saya akhirnya kerumah ibu saya, melihat langsung tulisan tangan ibu saya dan nyaris percaya, sebelum saya melihat no. HP yang tertera disana.

1. Ganjil banget rasanya kalo no.HP si penanggungjawab (notabene org penting dong) kok pake kartu prabayar???... Sejatinya org sepenting dia, dari pusat perbelanjaan yang besar seperti itu, PASTI pakenya yang PASCABAYAR dong, kecil sekali kemungkinannya, harreee genee, bos-bos pake kartu prabayar, emangnya ABeGeh, hehehehehe... :P

2. Kenapa harus semepet ini pemberitahuannya, kalo memang ini membutuhkan konfirmasi dari pemenang, dsb.

3. Baru megang kertasnya aja, "aura" penipuannya udah kerasa banget. Saya yakin sekali, tapi untuk meyakinkan ibu saya, saya menelepon si Penanggungjawab, haduhhh... cara dia menjelaskan aja (ohya, logatnya, dialeknya, sepertinya org Indonesia bag Timur, maaf OOT), membuat saya pengen ngunyah2 sandal jepit, dan mentokin kpala saya ke tembok. Sangat errr... 'uneducated' [sorry to say that], maksa-maksa nya menurut ukuran saya, gak professional. Saya kejar terus dengan pertanyaan yg bikin dia terpojok, akhirnya telpnya malah dimatiin, dan nomer itu besoknya udah no longger use (mati total, forever :P ).

Prihatin deh, kenapa org mo nipu kok ya ngak sekolah dulu yang bener baru menipu yah...

Tapi beneran lebih prihatin sebetulnya kalau sampai ada yang tertipu, spt waktu saya ngantri dibank, bpk2 cukup tua juga, mo nyetor pajak hadiah ke rek tertentu, pas didepan counter, ditanya mbak teller kenal gak sama org yg nerima duit, dia bilang enggak, ditanya untuk apa, dia bilang transfer pajak hadiah mobil, saya gak tahan dong, (aura sok ikut campur emang mengalir dalam darah saya, printed on my DNA I think :D )langsung maju, bicara sama si bapak (dst, gak usah diceritain ya bok, ntar kepanjangan :P)

Intinya bapaknya gak jadi transfer sih, tapi saya tahu dia masih ngintip2 ke bank, penasaran, kalo saya pulang pasti masih nyoba2 mo trf lagi, secara iming2 hadiahnya berupa mobil pasti dah kebayang terus dikepalanya)...

Dohhhhh... dunia makin menyebalkan yahhh... seperti koment saya yang gak penting tapi panjangnya masyaolohhh ini... :P

Maaf ya mbak may, lahir batin :P, and thanks for letting this long comment "sit sweet here" (duduk manis disini... *big grin* )


Gravatar Rahmat: hahaha... untung nggak minum obat, jadi salah pun nggak apa2

Silly: hehehe... baca ini tadi bingung: salah comment box enggak ya? Jangan2 mau komentar tentang Honda Jazz Semalam ini

Tapi dua2nya emang tentang penipuan sih Mau sit sweet here? Jadilah tamu saya! Hehehe...


Gravatar Hik..hik...waduh ternyata aku yg salah minum obat,, eh salah kirim. Maksud hati sih mau tak kirimin untuk contradictivemind, ga taunya nyasar ke mbakyu. Maaf mbakyu..


Gravatar contradictive mind ini kok bikin latah ya?? jadi ada yg ikutan salah sambung
@ may sorry ya , gara2 gw semena-mena kasih link tulisan lo ada yg salah tanggap. maaf, maaf.




Name:

Email:

URL:

Comment:  ? 

 

Commenting by HaloScan