Para Kritikus berkata...

Gravatar itu serius teknik berenang itu seperti itu mba?


Gravatar Mudah2an bini gw gak baca blog lo kali ini, May ... Bisa gawat ini ....

Sampeing my condolences buat mas mu, ya ... Hahahaha


Gravatar Bias gender ?
Ngga juga sih kalo mau liat alasannya. DJP kan hanya mengikuti norma yang umum di Indonesia, di mana Suami adalah kepala keluarga. Jadi ya PTKP di kasi ke kepala keluarga.
Kalo mau teliti, sudah bagus penghasilan istri dari satu pemberi kerja TIDAK DIGABUNG dengan penghasilan suami, tapi hanya dilaporkan saja di SPT suami. Kalo digabung, hampir pasti ada kurang bayar (kalau masuk ke tarif berikut)
Apakah bias gender ? ngga tau dan ngga peduli karena kalo dibikin politically correct ntar malah tambah ruwet lagi soal PPh.

Mbakyu nulis :
“Tapiiii... selain ada pengetahuan yang membuat gw bersyukur, ada juga informasi yang bikin gw mengumpat dalam hati Umpatan yang pertama adalah: Damn! I wish I were a surgeon! Atau paling enggak: damn! Coba gw dulu jadi lawyer seperti anjuran Bapak! Kan jadinya gw termasuk tenaga ahli yang PPh atas pekerjaannya adalah flat rate 7,5% Nggak kena pajak berjenjang seperti sekarang

Saya nulis :
Ngga juga. Itu 7,5 % adalah potongan PPh 21 yang tidak Final, jadi di akhir tahun tetap saja pake tarif berjenjang. Potongan yang 7,5 % itu dianggap sebagai kredit pajak, seperti yang ditulis di bawah ini :


Pak Dudi Wahyudi nulis (dari link yang mbakyu kasi) :
“Bagi Tuan Ahmad, bukti potong PPh Pasal 21 yang diterima dari PT Bangun Jaya merupakan bukti bahwa dia telah melakukan pelunasan sebagian pajak melalui pemotongan pajak oleh fihak lain. Pada akhir tahun 2008, bukti potong ini akan dijadikan sebagai kredit pajak di SPT Tahunan PPh Orang Pribadi.”




Masih pengen status bukan TK/0 ?
Kalau mau PTKP K/2 dimasukin ke SPT nya mbakyu ya bisa, tapi suami harus berhenti kerja dulu dan ada keterangan dari Kelurahan (atau Kecamatan? Lupa nih) bahwa suami tidak bekerja dan semua menjadi tanggungan mbakyu, Apakah adil ? ngga tau ☺

Oh ya, soal pisah harta ngga bisa dengan gampang ke Notaris terus minta pisah harta. Harus dibikin sebelum menikah, dan kalo sudah menikah tidak bisa cerai, bikin pisah harta lalu kawin lagi.
Lagian hitungan PPh nya beda untuk yang pisah harta (lebih tinggi dari yang tidak pisah harta). Karena penghasilan digabung baru dihitung Pajak terutang dan dibagi secara proporsional. Mau ? Mau ? Mau ? (ikutang iklan provider ha pe)

Lalu untuk NPWP terpisah, ngga masalah tuh (saya dan istri beda NPWP sedari dulu). Apalagi sekarang memang diperbolehkan.
Cuma... jadi repot aja ngisi 2 SPT

Seandainya NPWP ikut suami lalu mendadak harus punya NPWP sendiri (cerai, suami meninggal dll dll) ya repotnya Cuma pas ngantri aja.


Gravatar buat suaminya mbak May : ati2 lho, kalo ke-gap bisa bahaya nih :D


Gravatar keringat: serius! Itu teori berenang... HAHAHAHA.... Ambil napas pakai mulut pas kepala di atas air, terus pas kepala masuk air keluarkan pelan2 lewat hidung

Tapi kalau nggak pakai nyemplung ya nggak bisa

PJ: HAHAHAHAHA.... ntar gw kasih aaah, tautannya ke Tia Tapi loe pasti kenanya dikit lah, Mil Kan loe nikahnya belum selama suami gw

Surti: iya, Sur, "sanksi" dari gw lebih keras daripada sanksi Dirjen Pajak... Setidaknya gw minta disogok iPhone, atau Blackberry Bold, atau iPod Touch

*hmmm.... atau gw naikkan jadi Blackberry Storm ya? *


Gravatar Rudy: Anda orang pajak sehingga sensi ? Atau agak sulit melihat inti ceritanya ?

Thanks for the info. Iya gw tahu kok kenapa PTKP suami lebih besar Kalau Anda baca lebih teliti, saya menulis demikian:

Kan persetujuan pembagian biaya rumah tangga diperhitungkan berdasarkan perkiraan penghasilan bersih Lha, ternyata, selama ini penghasilan bersih tahunannya lebih besar daripada yang "dilaporkan" kepada gw

Hehehe.... jadi emang nggak berhubungan dgn aturan TK/0 dan K/2 yg sekarang adil/tidk? Konteksnya adalah: "pembagian biaya rumah tangga" yang dikaitkan dengan cerita tentang workshop yang baru gw ikuti .

Hayoooo... dilihat lagi, mana yang ranting, mana yang pohonnya... Perhatikan bahwa judul tulisannya adalah: "Mengaudit Suami", bukan "Serba-serbi Mengisi SPT" atau sejenisnya Ini rada mirip dengan tulisan saya terdahulu, "Istri Durhaka Lantaran Bayar Pajak"

Tapi gak apa2 deh... informasi TK/0 dan K/2 itu bisa berguna buat teman2 yang lain

Kutip: Pak Dudi Wahyudi nulis (dari link yang mbakyu kasi) :
“Bagi Tuan Ahmad, bukti potong PPh Pasal 21 yang diterima dari PT Bangun Jaya merupakan bukti bahwa dia telah melakukan pelunasan sebagian pajak melalui pemotongan pajak oleh fihak lain. Pada akhir tahun 2008, bukti potong ini akan dijadikan sebagai kredit pajak di SPT Tahunan PPh Orang Pribadi.”


Thanks for the info Jadi kena pajak berjenjang juga ya? Sistemnya kayak freelancer. Syukurlah kalau begitu Nggak jadi ngiri I stand corrected

Tapi... jadi mikir. Kalau pendapatannya thn 2009 cuma 50jt, berarti beliau "lebih bayar" dong? Dibalikin nggak, duitnya ? Teorinya sih balik ya... hehehe....

Kutip: karena kalo dibikin politically correct ntar malah tambah ruwet lagi soal PPh.

Hmmm... gimana kalau yang dibikin ruwet adalah RENCANA PENGGUNAAN PPh-nya Sehingga kita (= rakyat) bisa tahu gunanya kita bayar pajak itu apa. Tahu manfaatnya. Kalau sekarang kan kita nggak tahu duit pajak yang kita bayarkan itu diapakan... Biar kata rajin bayar pajak, teteeeuuuup aja kendaraan umum nggak beres, jalanan pada rusak, kesehatan & pendidikan mesti bayar sendiri Gimana mau termotivasi bayar pajak dengan baik dan benar ?

Mbok daripada ngancam2 rakyat dengan "kalau gak punya NPWP, pajak lebih tinggi" atau "kalau pisah harta, pajak lebih tinggi" dan segala macam "lebih tinggi" itu, kenapa nggak menciptakan reinforcement positif berupa: kalau bayar pajak, maka inilah hal2 positif yang akan kalian dapatkan


Gravatar hehehehe...gimana kalo milih yang enak ae Mba May: "Swarga Nunut, Neraka salam wae" aka kalo ke neraka ya ga ikutan dah, salam aje ;p

*siang2 nyampah ah sembari cari kumbang jantan buat penyerbukan, halah*


Gravatar kasihan suaminya mba may ^_^
semoga g keringat dingin dibawah audit mba may kekekekekekeke
aku malah npwp tahpapa blom jadi2 aja ...sebel


Gravatar indie: loe salah tempat nyampah di sini... kagak ada kumbang jantan yang available Ada sih yang masih single, tapi rata2 udah di-reserved

nots: aaah... biasanya sih dia selalu bisa membalikkan keadaan

NPWP-nya kenapa belum selesai? Nyangkut dimanakah? Nyokap gw aja baru bikin Desember sekarang udah selesai.


Gravatar nggak paham deh. ntar aja tanya suami ha ha ha. sampe skarang aku lom punya NPWP. hmm....apa manfaatin sunpol ini aja ya? tapi apa yang mau dilaporin?

btw, agendanya udah dicadangkan kalo agenda lama abis he he he


Gravatar btw...paling ga gw dah merasakan satu mangpaat punya NPWP, kemaren ini gak perlu bayar fiskal, mayan tokh 2.5 jeti. yah walopun kalo ga punya tetep aja gak bayar si, soalnya akan di-reimburse sama kumpeni (bahkan untuk non business trip hehehe), tapi kan ga perlu keluar duit duluan, cukup nunjukin NPWP aja *pelit n ngirit hehehe*

gpp Mba May, reservation itu kan subjet to cancelation hehehehe


Gravatar bukan orang pajak, tapi urusannya dengan pajak jadi familiar dengan perpajakan (meskipun ngga yakin 100% bener)

Lha saya emang ngga komentar soal pohon... karena sudah sibuk dengan ranting


Kalo lebih bayar ya mungkin saja, kalo dibalikin, ya mungkin saja....tapi di periksa dulu
Secara logika sih bener, mau minta duit dikembalikan, ya di cek dulu hitungan dan buktinya bener ngga.
Tinggal siap apa ngga diperiksa..

Soal penggunaan hasil pajak, Perhatiin ngga slogan pajak diganti dari "orang bijak taat pajak" ke "Lunasi pajaknya, awasi penggunaannya"
heheheheh lempar bola tuh

Lho bukannya kalo bayar pajak memang ditawarkan akan dapat hal yang positif ?
Katanya jadi bisa tidur nyenyak


Gravatar nYam: apa yang mau dilaporin? Lha, situ kan baru buka toko online ini? Kena pajak tuh penghasilan loe

indie: iya sih, tapi kalau loe ntar kena cancellation fee gimana ?

rudy: HAHAHAHA.... sebangsa kupu2 ya, sukanya sama ranting ?

Soal "lebih bayar", pertanyaannya kan bukan mengenai logis/nggaknya diperiksa, atau siap/nggaknya diperiksa. Straight to: dikembaliin nggak ?

Iya, tahu ada slogan baru yang lempar bola itu... Berasa kayak terjebak di konflik Tutsi vs Hutu: kalau mau "mati enak", mesti bayar. Kalau nggak bayar, matinya nggak enak Lha wong udah disuruh bayar, masih disuruh mengawasi. Udah harus keluar uang, harus "meluangkan waktu, usaha, dan tenaga" untuk mengawasi. Rugi 2x dong

Kutip: Lho bukannya kalo bayar pajak memang ditawarkan akan dapat hal yang positif? Katanya jadi bisa tidur nyenyak

HAHAHA... ini juga yang bikin berasa kayak berada di tengah konflik Rwanda Atau kayak di Auschwitz "Bayar Pajak Tidur Nyenyak" itu senada dengan "Arbeit Macht Frei" ya... hehehe... Kedengerannya positif, tapi to read between the line sih "ancaman" terselubung


Gravatar Eh, untung teman-teman saya di DJP lumayan banyak, dan yang di Sorong juga ada. Jadi tinggal kasih data-data pribadi, dan mereka yang mengisi. Males lihat SPT yang tulisannya kecil-kecil dan njelimet gitu. Atau dikasih ke adik bungsu gw yang lagi ngambil konsultan pajak dan semoga dia jadi konsultan pajak gw...

Audit suami itu seperti apa, mbak ? Audit manajemen, investigatif, atau malah financial audit seperti auditor2 di KAP ? Atau malah audit dari hati-ke-hati dengan pendekatan yang lain ?


Gravatar Kalo memang bisa membuktikan lebih bayar dan pembuktian itu diterima, ya dikembalikan.Serius.

Soal slogan, pertama liat saya juga ketawa. Diganti pasti capek dengar alasan orang ga mau bayar pajak karena ntar cuma di korupsi lah dll dll

Lha di mana mana pajak itu sifatnya memaksa...kalo ngga namanya sumbangan kali ya ?


Gravatar pan ntar aja nunggu laku ^_^

*siyul siyul*


Gravatar Entah ya sampe skrg gw masih aja dan akan selalu alergi dgn pajak

Alasan utama jelas si TK/0 ini, walo dgn alasan ngikutin norma yg berlaku di Indonesia, teuteup aja ngak masuk di akal gw tuh

Alasan kedua, fiscal-free juga ngak ngaruhlah, seberapa sering sih kita ke LN apalagi kebanyakan pasti reimbursed kantor

Kalo reinforcement positifnya Pendidikan dan Kesehatan default GRATISSSS, sedikit kalee yg tega ngemplang :D


Gravatar wah wah, pusing banget neh bacanya. Ternyata pajak itu serumit itu yah, wkwkwkwkw....


Gravatar goldfriend: cara mengauditnya nggak penting, lah, buat kau tahu. Yang penting hasilnya

BTW, gantilah ID-nya! Gw selalu ingat "Goldfish"... hehehe....

rudy: Dikembalikan utuh atau tidak, Rud ? Yang menjadi problem, beberapa kali saya mendapatkan "kesaksian" (= bukan sekedar gosip) bahwa proses dan hasilnya jauh dari teorinya Entah itu oknum, atau budaya

Pajak itu sifatnya nggak memaksa, tetapi bersifat wajib Kenapa wajib? Karena itu merupakan penyeimbang dari hak Naaah... kalau pajak cuma dikorupsi, letak keseimbangannya dimana ?

Sebenarnya DJP nggak perlu ganti2 slogan macem2 kok. Cukup tunjukkan saja kinerja baiknya, sehingga orang mau bayar pajak. Ini malah slogannya yang diganti, kerjanya? Tetap saja memble... hehehe.... Buktinya? Dua hari lalu saya terima kiriman SPT untuk almarhum Bapak saya (lagi!) yang sudah meninggal sejak thn 2000.

Padahal kami sudah melapor berkali2, melengkapi semua berkas yang diperlukan (dari surat kematian, surat pembagian warisan, dll). Tapi ganti tahun, teteuuup aja harus lapor lagi. Sumpah deh, kalau anak buah saya kerjanya kayak orang2 pajak yang menghilangkan berkas2 saya melulu, pasti sudah saya pecati dari kemarin2

nYam: Abinya Ankaa punya kiat dan tips berhadapan dengan pajak selain nasihat2 utopis nggak, nYam ?

Nirwana: Nah! Itulah, Nir, yang menurut gw harus jadi reinforcement positifnya Bukan malah kita dibikin kayak di Kamp Konsentrasi: "Arbeit Macht Frei" (baca: lunasi pajaknya,biar bisa tidur nyenyak)

Kalau gw sih tetap sakit hati lho, bayar 2,5jt, meskipun itu duit kantor. Coba, bayangkan, kalau duit2 fiskal itu gak "diminta" negara. Kan bisa nambah2in bonus tahunan gw... ooops

Zilko: hehehe... sebenernya yang lebih gw takutin sih "kontrak mati"nya Malah di kasus bokap gw, "kontrak setelah mati" Wong udah 9 thn wafat, masih teruuuusss aja orang pajak ngirimin tagihan. Coba, apa dasarnya? Wong kantor sudah tidak beroperasi 9 thn dan sudah gw laporkan berkali2 (dengan berkas lengkap) mengenai kematiannya?


Gravatar hmmm....ntar ditanya yah. YBS sendiri baru aja ngisi SPT punya diri sendiri ama si bos. ga ikut-ikut deh, paling bantu beli amplop aja buat kirim SPT ke kampung halaman ha ha ha.


Gravatar nYam: oh, boleh ya dikirim? Waaah... aku juga ngirim via pos aja aah Capek deh kalau harus antri


Gravatar lho situ kan tanya secara tegas : dkembalikan apa nggak ?

Ya dikembalikan, utuh atau tidak soal lain

Untuk yang lain, no komen deh


Gravatar Rudy: Mati ucap nih yeee


Gravatar Yayayaya... ë Blackberry™ memang wokeh.. :

*ga nyambung sama topik*


Gravatar cahyo: akuuur




Name:

Email:

URL:

Comment:  ? 

 

Commenting by HaloScan