Para Kritikus berkata...
|
|
Jadi gimana bu? Bikin petisi lagi yang lebih berempati?
Meski ibu ga setuju pembubaran, mau kan ikut ngerumus petisi yang "lebih serius" (seandainya bikin lagi) ?
*nyesel kemarin pas bikin ga ngajak bu May*
wadehel |
Homepage |
04.21.07 - 1:48 pm | #
|
|
Meski ibu ga setuju pembubaran...
WTH, ini yang kayaknya banyak orang (baca: pengkomen) salah tangkep. Jeng May bukan "ga setuju pembubaran" tapi nggak setuju bahwa pembubaran IPDN itu adalah solusi.
Jeng, BKS -- Benerin Kalo Salah -- lho.
Dodol Surodol |
04.21.07 - 1:51 pm | #
|
|
iya bener ...bantuin rumusin aja dik May, gimana bikin petisi yang empathi, sympathy dan persuasif...gimana?
Evy |
Homepage |
04.21.07 - 1:55 pm | #
|
|
Wadehel & Mbak Evy: kan rumusan versiku udah aku tulis? Plus formulanya juga. Tinggal cari blogger yg lebih "melek hukum" supaya kata2nya lebih pas, dan yang "jago nulis" supaya lebih persuasif Udah aku bantuin kan ?
Dan gw, WDH seperti kata Dodol, gw bukannya gak setuju dengan pembubaran Cuma mempertanyakan apakah pembubaran IPDN adalah solusi 
Dodol: udah gw benerin tuh.. hehehe.. MKS - MaKaSih- ya Seneng deh ada pembaca yg nangkep maksud gw 
-may- |
Homepage |
04.21.07 - 1:57 pm | #
|
|
oooo...gitu maksudnya ya? waaaahhh..telat. tau gitu kemaren may ikutan jadi konseptor. duh...
venus |
Homepage |
04.21.07 - 2:44 pm | #
|
|
“yang penting gw udah bikin sesuatu”, tapi lebih tinggi lagi: bagaimana membuat sesuatu itu seberguna mungkin.
exactly my point! 
okke |
04.21.07 - 3:20 pm | #
|
|
venus: I'm not such a great conceptor kok.. Cuma kebetulan karena merupakan pengambil keputusan yg lambat, jadi sempat mikir lebih panjang dulu.. hehehe...
okke: thanks, darling! That's my point too 
-may- |
Homepage |
04.21.07 - 5:02 pm | #
|
|
klo ngeliat model2nya ni Mbak, apa nggak mirip sama yang di pelajaran sejarah itu ya? Kan ada Trikora, Tritura, dll. Pilihan2 kata dan formatnya mirip tu. he3... 
klo acara Oprah, hmmm... . Emang bagus tu, Oprah pinter membawakan acaranya, pas. Ga kaya acara Oprah wannabe di Indonesia. Yang ngomong malah host-nya mlulu, akhirnya bintang tamunya kan jadi ga ngomong secara utuh, informasi ga tersampaikan dengan baik deh.
btw, mungkin keunggulannya petisi yg ala Indonesia lebih jelas ya. Klo 2 versi pertama kan bentuknya paragraf2 gitu, klo yg Indonesia kan to the point banget, ha3... 
zilko |
Homepage |
04.21.07 - 7:13 pm | #
|
|
Aku kira, background untuk meminta IPDN dibubarkan yang tidak disampaikan pada petisi itu tidak ada hubungannya apakah petisi itu empatik atau tidak. Kita tidak sedang akan memberikan empati untuk mendukung IPDN kok, melainkan meminta Presiden untuk membubarkannya.
Mengenai latar belakang, kalau sampai Presiden tidak tahu latarbelakangnya, suruh saja dia turun tahta alias lengser keprabon. Benar seperti Trikora dan Tritura itu, latar belakang nggak ditulis. Toh masalah yang menjadi latar belakang sudah sangat jelas. Yang menandatangani tidak tahu latarbelakangnya? Kalau dia berada di Indonesia pasti tahu. Kalau sedang berada di luar negeri, tinggal buka google dan ketik IPDN, informasi akan bertaburan.
Kemudian, yang perlu ditegaskan di sini, mengenai "yang penting telah berbuat sesuatu" yang kalimat lengkapnya telah dimutilasi dari seharusnya "Yang penting, kita telah berbuat sesuatu untuk mencegah pelayan-pelayan rakyat kita diisi dengan tangan-tangan berlumuran darah." adalah pendapat pribadiku. Sangat tidak layak kalau dijadikan poin untuk menilai bahwa tujuan petisi itu hanya sebatas pada "yang penting telah berbuat sesuatu".
Tolong kalimatku jangan dimutilasi seperti ulama-ulama ngawur yang suka memutilasi ayat.
Thanks.
Arif |
Homepage |
04.22.07 - 4:24 am | #
|
|
@ Arif:
On the contrary, Arief, empathy has all the thing to do with these, KALAU Anda mau mengajak orang menandatangani . Empati dibutuhkan untuk membuat orang merasa perlu ikut tanda tangan, lepas dari apa inti petisinya. Anda bisa belajar dr Petisi Lumba2 yg jg menuntut 'pembubaran' dgn cara empatik 
Bukan masalah Presiden tahu/tidak, tapi masalah membujuk rakyat 
Saya memutilasi kalimat Anda tanpa mengubah arti, lho Kalimat "Yang penting, kita telah berbuat sesuatu untuk mencegah pelayan-pelayan rakyat kita diisi dengan tangan-tangan berlumuran darah." tidak berbeda arti dgn "Yang penting, kita telah berbuat sesuatu", kalo Anda pahami pendapat saya bahwa membubarkan IPDN tidak cukup efektif "untuk mencegah pelayan-pelayan rakyat kita diisi dengan tangan-tangan berlumuran darah" 
Tolong tulisan saya jangan dipahami sepotong2, apalagi kata per kata 
-may- |
04.22.07 - 10:48 am | #
|
|
@ Zilko:
Emang mirip Tritura. Model "Wham! Bam! Thank you, Ma'am!"
Ini khas Indonesia: bukan menyamakan persepsi dulu supaya maju dgn tuntutan yg jelas & satu suara, tapi galang massa dulu dgn tuntutan yg sama dan 'diasumsikan' alasannya sama. Giliran maju baru bingung krn banyak suara2 beda, akhirnya malah mentah, dan masalah gak selesai 
Persis kayak reformasi. Yang dipentingkan Pak Harto turun biar keadaan lebih baik. Giliran Pak Harto turun suara tidak padu, maunya beda2, dan Indonesia tidak jd lebih baik 
-may- |
04.22.07 - 10:59 am | #
|
|
kutip: Persis kayak reformasi. Yang dipentingkan Pak Harto turun biar keadaan lebih baik.
hmm... terlalu jauh ah kalau dibandingin dgn reformasi. Waktu itu kan banyak pihak "bermain", everybody's game. Yang ini lebih jelas, outcome-nya juga bisa diprediksi.
ipra |
04.22.07 - 1:17 pm | #
|
|
Saya menilai mbak maya terlalu berbelit-belit dlm menilai urusan petisi ini. Mungkin karena nggak merasa dilibatkan atau apa saya nggak tahu... 
Yg coba saya catat ialah, dalam gaya bahasa utk menekankan sesuatu yg kongkrit, justru tdk penting berbasa-basi dlm jargon2 empati. Namun yg terpenting hasil akhirnya (tuntutan itu) dijabarkan secara rentet-runtun. Kenapa? Karena urusan petisi ini ujung2nya kembali pada pilihan orang ta? Mau ikut atau nggak , thats a choice, dan memilih yg manapun semuanya boleh. Urusan empati gak penting djabarkan lagi karena tiap orang punya empatinya masing2 yg notabene berbeda-beda dlm konteks kejadian ini.
Setuju kata mas Arif, data2 yg ada (berseliweran) sudah cukup luas dan objektif utk dijadikan bhn pertimbangan bg blogger utk memutuskan ikut atau tidak...empati atau tidak... Lha kalau dasar2 petisi dirumuskan dlm bentuk consep of emphaty, bisa2 org malah dibikin bingung dgn dasar berfikir tersebut karena pemikiran org dlm memandang satu masalah itu (disini kasus IPDN) kan relatif...ada mungkin yg mmg bs merasakan kepedihan keluarga Cris Muntu, ada jg yg karena satu suku sm cliff muntu, atau ada jg yg memang ingin presidennya jatuh, maupun yg setuju2 saja tanpa alasan...pokoknya ya macem2...jadi persoalan emphaty tidak emphaty ini tidak perlu dibesar2kan kayak gini, karena masing2 ukurannya bisa beda. To the point lah langsung ke apa yg dituntut. 1 hal mhn ingatlah, ini sdh jadi masalah nasional...segenap bangsa merasakan kepedihan dgn kejadian ini...jadi orang2 yg sdh memutuskan ikut petisi, apapun alasan nya, itu merupakan wujud empatinya mereka. Tidak lain tidak bukan. Kan tidak perlu lagi dikorek-korek/menguji (dgn membuatkannya suatu konsep tertulis) "bener empati atau tidak, dan kalo iya, mengapa?" Anehh
Faktor lainnya menurut gw, bahwa bahasa panca indera para penguasa disini berbeda dgn para birokrat di luar negeri yg demokratis dan menghargai penyerapan akan opini publik. Nah coba bandingkan dengan penguasa2 di negeri kita ini!
Dengan embel2 yg (menurut gw) sarat dengan ber-basa-basi seperti 2 petisi yg anda contohkan diatas, jika begitu yg dibuat disini, rasanya bs dipastikan bakalan "gatot"/ gagal total. Boro2 tuntutannya/ aspirasinya dianggap, yg ada nanti itu malah cuma dianggap sbg surat cinta, dan yg baca cm mesem-mesem. Belajar dari Trikora dan Tritura, itu langsung to the point kan, dan tidak gampang mencapainya...itu mesti berdarah-darah dulu memperjuangkannya. Pendek kata, bahasa bibir, telinga, dan sense of feel pemimpin2 kita berbeda sm di barat sana (walaupun katanya budaya timur), karena pengertian kekuasaan jg mungkin berbeda, ahh ngelebar.. 
At least, mutilasi kalimat (dr yg gw baca) memang mengubah arti mbak. "Yg ptg berbuat sesuatu" seperti yg anda ambil, ialah konotasi nggak enak...kesannya petisi nya asal jadi saja, drpd nggak ngapa2in. Dan apa betul begitu, kan belum tentu? Jgn kebiasaan nge-judge duluan sblm jelas urusannya. Nah, beda sm yg di mas arif yang "Y
tulus |
Homepage |
04.22.07 - 4:35 pm | #
|
|
@ ipra:
Ya deh, kalo kejauhan Kalo dibandingin dgn boikot Inul & larang Playboy boleh ? Yang ingin diperangi pornoaksigrafi-nya atau Inul/Playboy saja? Kalo mau memerangi pornoaksi-grafi, Inul gak manggung juga percuma kalo masih ada Anisa Bahar yg goyangnya lebih hot dan Dewi Persik yg lebih vulgar 
-may- |
04.22.07 - 4:38 pm | #
|
|
Nah, beda sm yg di mas arif yang "Yang penting, kita telah berbuat sesuatu untuk mencegah pelayan-pelayan rakyat kita diisi dengan tangan-tangan berlumuran darah."
Disini justru terlihat kejelasan emphaty nya dimana, dan dr pendapat pribadi mas arif tsb, sgt explisit dia mengajak orang utk menyamakan persepsi guna ikut petisi yg dilandasi pd hal ituu (mencegah pelayan2 rakyat.....) Menurut saya kelihatan bgt kok wujud empatinya?
Dan tepat sekali juga, bahwa mba maya sangat tidak layak menjadikan poin itu untuk menilai bahwa tujuan petisi itu hanya sebatas pada "yang penting telah berbuat sesuatu". Seyogianya anda usul (ini kalau anda setuju isi petisi itu), akan dibawa kemana petisi tsb, digelontorkan ke siapa, lantas aksi2 selanjutnya apa lagi...spy pembuatannya itu gak sia-sia. Ataauu, siapa tau penggagas petisi tsb sudah punya action plan utk menindak-lanjuti nya, who knows kan? 
Sory gw cm terusik sj utk mengkomplain pendapat mbak Maya ini... jd gw (secara pribadi) membenarkan pembuatan petisi itu dlm konteks mengajukan aspirasi atawa unjuk rasa...tp bukan dlm hal isi petisi...becozzz gw sendiri sebenarnya (lagi2 secara pribadi) tidak setuju dgn pembubaran IPDN (makanya gak ikut petisi itu) 
tulus |
Homepage |
04.22.07 - 4:39 pm | #
|
|
@ tulus:
Sekarang gini deh. Kalo nanti pemerintah nego mau kabulkan 2 saja dari 4 tuntutan. Yang mana yg mau dikorbankan?
Ada yg mementingkan IPDN bubar, ada yg mementingkan hapuskan kekerasan, ada yg mementingkan usut tuntas. Ini adalah alasan2 yg berbeda bagi para penanda tangan.
Kalo petisinya matang, satu visi, kita siap nego karena tahu arahnya. Kalo gini, kita cuma siap demo 
Arif bilang tuntutannya bubarkan IPDN. OK, misalnya dibubarkan. Lalu pemerintah bikin IPDN versi baru. Badan hukum baru. Gaya lama. Materi lulusan yg jd Camat sama. Apakah ini akan menjawab aspirasi Nirwana yg menandatangani krn ingin lulusan lebih bisa melayani rakyat ?
Gw hargai niat baik para petitioners. Sayang, menurut gw konsep itu tidak matang, kurang taktis, dan sarat emosi (bhs kasarnya mirip yg loe bilang: asal jadi). So, from my POV, gw tdk mengubah arti Loe bilang persepsi gak usah sama kan ? Nah, ini yg terjadi kalo visi gerakan tidak disamakan. Tiap aksi bisa dinilai beda2 ;?
-may- |
04.22.07 - 4:53 pm | #
|
|
@ tulus lagi:
"jd gw (secara pribadi) membenarkan pembuatan petisi itu dlm konteks mengajukan aspirasi atawa unjuk rasa...tp bukan dlm hal isi petisi...becozzz gw sendiri sebenarnya (lagi2 secara pribadi) tidak setuju dgn pembubaran IPDN (makanya gak ikut petisi itu)"
Apa bedanya loe sama gw, Lus? Gw juga tidak menentang petisi, tapi gw gak setuju isinya 
Makanya gw kasih saran BIKIN ISI petisi Hayo, siapa yg gak nyambung ?
-may- |
04.22.07 - 4:58 pm | #
|
|
Aku nggak mau berdebat. Karena itu, mengutip pendapat ini:
"Gw hargai niat baik para petitioners. Sayang, menurut gw konsep itu tidak matang, kurang taktis, dan sarat emosi (bhs kasarnya mirip yg loe bilang: asal jadi). So, from my POV, gw tdk mengubah arti Loe bilang persepsi gak usah sama kan ? Nah, ini yg terjadi kalo visi gerakan tidak disamakan. Tiap aksi bisa dinilai beda2 ;?"
Nggak ada salahnya kalau aku minta tolong Mbak Maya untuk merumuskan sebuah petisi yang empatik dengan tuntutan 3 hal:
1. Bubarkan IPDN
2. Usut tuntas semua kekerasan di IPDN yang belum terungkap
3. Hentikan beasiswa kepada praja-praja yang tersisa dan titipkan merek ake PTN-PTN yang mengajarkan Ilmu Pemerintahan dan Administrasi Negara.
Aku ingin yang konkrit. Nggak apa-apa nanti aku yang masukin ke PetisiOnline.
Konkret yah, jangan cuma bisa mengkritik, sekarang waktnya memberikan usulan redaksional petisi yang Oprah Way itu.
Ditunggu. Silakan email ke arif [at] widarto.net
Arif |
Homepage |
04.22.07 - 5:59 pm | #
|
|
Lhaa masak Petisi nya mau berubah2 lagi? Menurut gw ya gak usah digonta-ganti lagi. jadinya repot amat sih!
tulus |
Homepage |
04.22.07 - 6:33 pm | #
|
|
@ Arif & Tulus:
Kalo petisi berubah, maka it's a cheat to the undersigned, dong. Sesuatu yg sdh ditandatangan gak bisa diubah gitu aja. Dalam hal ini gw setuju dgn Tulus, it's too late for that.
All the criticism I wrote sebenarnya untuk pelajaran ke masa depan DAN penjelasan bahwa kalo tidak ikut petisi bukan berarti tidak punya nurani Bisa jd mereka tdk tanda tangan karena tidak teryakinkan oleh isinya. Seperti gw, Tulus, Okke, dan lainnya (ipra tanda tangan gak? kayaknya enggak ya ?)
Gitu lho, Mas Arief. Kalo mau lihat versi saya, kan udah ada di blog ? Tekankan pd penghapusan kekerasan dlm pendidikan di Indonesia, dgn IPDN sebagai highlight 
-may- |
04.22.07 - 7:53 pm | #
|
|
kutip komen: Ya deh, kalo kejauhan Kalo dibandingin dgn boikot Inul & larang Playboy boleh ?
boleh-boleh aja mau bandingin dgn b*k*ng Inul dan lainnya, gak ada yang ngelarang. Tapi mending bandingin sama Saritem :p
kutip komen lagi: ipra tanda tangan gak? kayaknya enggak ya?
ah, situ mau tau aja, hahaha... :p
ipra |
04.23.07 - 10:57 am | #
|
|
petisi mungkin cuma bagaimana membuat gema atau hebohnya...masalah isinya bisa nomor dua..
eh betul nggak ?
iman brotoseno |
Homepage |
04.23.07 - 11:06 am | #
|
|
Penggabungan / pembubaran tanpa disertai perubahan tradisi adalah percuma. IPDN adalah hasil peleburan dari IIP & STPDN, namun karena tradisinya tetap hasilnyapun tidak berbeda jauh ketika bernama STPDN.
Yg ingin aku tinjau dari petisi itu adalah setelah IPDN dibubarkan lalu apa? Birokrasi memerlukan regenarasi karena setiap tahun ada yang pensiun, mengundurkan diri, meninggal. Belum kalau kita tinjau dari sudut pemekaran daerah dan perkembangan penduduk serta otonomi daerah.
Berikutnya dari sudut kompetensi, kurikulum serta tujuan yang ingin dicapai apakah IPDN mempunyai kesamaan mutlak dengan jurusan ilmu administrasi negara di PTN? Apakah di 31 propinsi punya PTN? Apakah setiap PTN punya jurusan administrasi negara? Apakah infrastruktur mulai dari ruang kelas, perpustakaan, staf pengajar, fasilitas umum , laboratorium, lembaga penelitian, ruang seminar, asrama sudah siap di 31 propinsi atau PTN untuk menyambut kedatangan rombongan dari IPDN?
Tolong dipikirkan kemampuan PTN untuk menampung rombongan IPDN ini bagaimana jadwal kelasnya agar semua bisa kebagian belum infrastrukturnya agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Apakah PTN mampu? Kalau mampu silahkan lanjut. Mengapa kesiapan penting karena kalau tidak siap hasilnya bisa semakin amburadul dan tujuan yang ingin di capai menjadi berantakan.
Kalau menurut aku fasilitas yang sudah ada di IPDN bisa dimanfaatkan tidak perlu dilakukan pembubaran atau desentralisasi ke PTN yang belum tentu siap menampung. Pisahkan saja tiap angkatan tingkat 1 di IIP Cilandak ( asrama sudah siap ), Tingkat 2 di Jatinangor, tingkat 3 & 4 di eks APDN yang tersebar di 20 lokasi tinggal pilih mana yang paling siap.
ara |
Homepage |
04.23.07 - 12:00 pm | #
|
|
ipra: ih, situ sukanya b*k*ng.. hehehe.. ati2, dianggap pornocomment lho. Kan b*k*ng termasuk bagian yang tidak boleh terlihat 
Mas Iman: nggak tau ya.. hehehe.. mungkin maksudnya nggak gitu, cuma jadi begitu karena kurang mateng. Niat udah bagus sih, cuma pelaksanaannya mungkin belum sempurna 
ara: "Tolong dipikirkan kemampuan PTN untuk menampung rombongan IPDN ini bagaimana jadwal kelasnya agar semua bisa kebagian belum infrastrukturnya agar tujuan pendidikan dapat tercapai"
Ini juga poin yg bikin gw pikir poin-3 dalam petisi ini terburu2. Memang memberikan solusi bagi 4000 praja yg masih ada di sana saat IPDN dibubarkan, tapi... apa iya bisa main memindahkan 4000 orang gitu aja?
Apa PTN-nya sanggup? Jumlah bangku AN di FISIP UI kalo gak salah cuma 40-an/tahun, PTN lain kurang lebih sama. Apa PTN-nya mau? Selama ini aja calon mahasiswa disaring ketat, banyak yg gak lulus, tiba2 ketiban pulung harus terima "mahasiswa operan" yang belum tentu lulus tes masuk PTN.
Lalu, apa praja2 itu mau dipindahkan begitu aja ke PTN? Dari sekolah yg gak usah bayar, malah dibayar, dan ada jaminan langsung kerja... eeeh.. tiba2 dipindahkan ke sekolah yg boro2 dibayar, malah harus bayar mahal (PTN aja sekarang mahal lho!), dan belum tentu setelah lulus dapat kerjaan.
Kalau Indonesia ini adalah sebuah perusahaan, dgn rakyat sebagai stakeholder seperti yg dianalogikan bu dokter ini, maka memang benar rakyat punya hak suara untuk bilang bahwa IPDN dihentikan saja jadi supplier karena masih banyak supplier yg lebih bagus. Tapi... yg namanya stakeholder itu kan tidak ngurusin operasional. Once the stakeholder pergi, pengurus perusahaan akan run the business their own way lagi. Nah.. kalo mereka cocoknya sama gaya supplier IPDN, maka mereka akan cari supplier baru yg mirip itu.
Makanya, kalau cuma IPDN yg dibubarkan, gw jamin beberapa tahun lagi akan ada kejadian yg sama.. hehehe.. wong perubahannya tidak total 
-may- |
04.23.07 - 12:57 pm | #
|
|
mungkin kaya orang Jawa bilang, ngono yo ngono, mung ojo ngono. ato kaya ibuku suka bilang, niatnya bagus, tapi ya mbok carane.
gitu toh?
nYam |
Homepage |
04.23.07 - 2:18 pm | #
|
|
Pada prinsip dasarnya mana ada perusahaan yang cocok dengan cara senior IPDN menyiksa juniornya. Termasuk juga birokrasi, birokrasi tidak butuh tukang pukul. Birokrasi akan senang kalau pegawainya profesional dan disiplin. Disiplin tidak berarti pemukulan, kesalahan memang perlu sanksi tapi tidak harus pemukulan tapi bisa yang lain misalkan teguran, lari , push up.
Yang terjadi di IPDN itu bukan hukuman tapi balas dendam, salah nggak salah disiksa secara pukul rata . Senior yang dulu disiksa balas dendam ke junior karena tidak berdaya terhadap seniornya yang sudah lulus yang kelak jadi bosnya. Pemakaian seragam, keinginan untuk dihormati, memanfaatkan kekuasaan sangat kental disitu.
Nah kalau dalam pendidikan mahasiswa tingkat 1,2,3,4 terpisah pisah tempat pendidikannya tradisi ini akan hilang. Siapa yang mau disiksa? junior ada di jakarta senior ada di Bandung. Masalah selesai dengan sukses kan? Karena senior dan junior tidak pernah ketemu otomatis tidak akan pernah ada penyiksaan senior terhadap junior. Gitu aja kok repot sih sudah jelas IIP itu kosong dan pernah digunakan untuk menampung mahasiswa STPDN angkatan 2003 yang disapih dari seniornya ( kasus Wahyu Hidayat ) tapi gue dengar setelah mereka tingkat IV ditarik lagi ke Jatinangor dan jadi senior kejadianlah meninggalnya Cliff Muntu ini. Sudah jelaskan masalahnya, yang dulu disiksa balas dendam menyiksa juniornya. Ngapain bubarin IPDN kalau masih bisa diperbaiki? itu asset negara kan
ara |
Homepage |
04.23.07 - 4:11 pm | #
|
|
nYam: itu nasihat buat siapa, Nduk? Buat para pelaku penyiksaan, atau buat pembuat petisi.. hehehe.. ? Buat kita semua kali ya 
ara: hmm.. balas dendam ya? Masuk akal sih. Atau memang dikondisikan gitu, karena "persepsi" bahwa "yang tough tuh yg berani mukul".
Anyway.. usul loe lucu juga. Untuk quick solution bisa dicoba. Atau dicoba yg lebih gampang: ganti kurikulum, ganti sistem pendidikannya, ganti orangnya. Not necessarily membubarkan, tapi format ulang. Daripada dibubarkan, tapi bikin bangunan yg sama.. hehehe..
-may- |
04.23.07 - 4:29 pm | #
|
|
kutip komen: Kan b*k*ng termasuk bagian yang tidak boleh terlihat.
yaa kalau ditutupin kan boleh aja diliat-liat, hehe... :p
ipra |
04.23.07 - 6:38 pm | #
|
|
Tulisan elo bagus.
Basicnya anak psikologi atau bagaimana?
Gue setuju,
bahwa semestinya ketika kita membuat petisi, kalau memang sebuah petisi yang serius ya, semestinya sih dirumuskan terlebih dahulu. Dan gue pun setuju dengan penggunaan bahasa yg lebih empatik. Untuk menunjukkan bahwa ketika petisi itu itu sudah dibuat, kita tidak membuatnya dalam keadaan emosi.
Memang sih,
siapa juga yang tidak emosi ketika membaca masalah IPDN ini.
[quote]Kalo petisinya matang, satu visi, kita siap nego karena tahu arahnya. Kalo gini, kita cuma siap demo[/quote]
bLub |
Homepage |
04.23.07 - 8:00 pm | #
|
|
HALAH!
kalimat gue kepotong. Dan gue males aja gitu melanjutkan tulisan gue, udah lupa juga.
Kok ada batasan karakter sih? ah... cupu nih
:D
bLub |
Homepage |
04.23.07 - 8:01 pm | #
|
|
ipra: speechless Tapi, kalo masalah ditutupin, bukannya ada yg lebih enak dilihat daripada b*k*ng ?
bLub: makasih, bLub Soal petisi, gw yakin udah dipikirkan sih... cuma... mungkin beda aja pandangan mereka & gw (atau kita ya ?) tentang the depth and the width.. 
-may- |
04.24.07 - 11:33 am | #
|
|
nah ini kena menyodok telak ke tenggorokan orang2 yang bikin petisi anak bangsa itu :p
gua setuju sama caranya oprah : petisi harus dimulai dengan empati, analisa permasalahan, disertai bukti2 mendukung, lalu ajak sekali lagi menggunakan empati 
salah satu bentuk petisi yang paling membuat gua tersentuh ada disini : www.lightamillioncandles.com
hans |
04.25.07 - 9:36 pm | #
|
|
hans: saking telaknya gw sempat dibahas di beberapa blog.. hehehe.. Tenar deh gw Untuk yg belum biasa sama gaya gw memang kesannya gw bitchy banget ya.. padahal.. gw kan emang bitchy.. 
Ah, ya! Gw baru baca petisinya. And I agree. It is so sympathetic 
Udah ah.. gw pulang dulu ya.. Masih terjebak di kantor nih 
-may- |
04.25.07 - 9:46 pm | #
|
|
bitchy.....?????
woww.... i love this woman.... (maap niruin NBA )
japs |
Homepage |
04.26.07 - 5:42 am | #
|
|
japs: thanks, hun. I love you too 
-may- |
04.26.07 - 11:40 am | #
|
|
Commenting by HaloScan
|