Para Kritikus berkata...

Eh, nontonnya di TV Kabel ya? (klo ga salah AXN??), soale semalem aku nonton yg di RCTI bukan yg psycho tu, yg edisi Mother&Son. Yang psycho uda ditayangin di RCTI bbrp minggu yg lalu, he3... Ntar yg pasangan cerai itu kalah loh, wakakakakkaa... >> koq mala ngasi spoiler ga nyambung si??

Btw, Bang Dono kira2 baca posting ini ga ya?? Klo iya, pasti seru tuh...

Tapi mungkin ga beliau pke literatur barat soalnya literatur2 barat lebih mudah ditemui (dan mungkin banyak) daripada literatur2 Indonesia. Lha wong ada kan literatur Indonesia-pun berdasarkan literatur barat...

Tapi aku setuju, klo asal caplok dari barat trus diterapkan di Indonesia yg notabene beda budaya ya jelas ga cocok, kecuali orang Indonesia-nya semua diubah jadi orang barat (maksudnya budayanya, cara berpikirnya, dll... )


Mayanoto wrote :
"bagaimana dengan kelompok yang pasrah bongkokan (= pasrah sepenuhnya) untuk dicarikan istri? Kelompok orang2 yang kalau merasa sudah siap menikah akan mendatangi “orang yang dituakan” dan minta dicarikan istri?"

Mbak May, itu kan buat cari istri pertama, kalo mau poligami, ada gitu yg minta di cariin jg? )


kutip: Bisakah seorang pria mempersitri...

terlalu semangat nulis kayaknya :p

btw, memang ada yg poligami bukan krn proses normal. Misalnya, disuruh sama gurunya. Istrinya dipilihin. Terima jadi.


menilik namanya, dono baswardono pasti orang Sunda

dumdidum...


Gravatar Dik May, klo poligami-nya si eta tea ygi geger kalong...keknya bener deh pake naksir2 dulu, truss.... truss... termehek2...trus...akhirnya..yaa...eng ing eng... hehehe orang Indo udah pada muli lupa deh, gimana kelanjutan hukum poligamy udah ga ada yg ngurus lagi.... abis ada banjir... udah lupa....skrg kasus IPDN paling...ntar juga lupa lageee... waah sorry jd OOT


Gravatar Zilko: iya, di RCTI kemarin yg Mother-Son. Tapi itu juga udah re-run deh, makanya gw malah nonton yg Psycho; secara pas diputar dulu gw gak nonton.

About Dono, pastinya karena literatur Barat lebih mudah ditemui. Tapi, itu kan bukan berarti dicaplok mentah2.. hehehe.. ibarat masak Yakiniku, emangnya bisa pakai resep semur karena sama2 daging, sama2 warna coklat, dan resep semur lebih mudah ditemui

surti: kayaknya udah dijawabin ipra tuh

ipra: eh, maksudmu ngejawab surti kan? I take the liberty to think that way ya.. secara dikau baru saja mengoreksi typo, jadi gak mungkin lupa lah kasih tanda tanya kalo maksudmu nanya

BTW, yg "terlalu semangat" bukan akyu. Itu kutipan kok.. lupa nge-set biar kelihatan kutipan aja

okke: Hahaha.. iya, gw mo nulis gitu, takut disangka SARA..

Mbak Evy: Hehehe.. emang, IPDN lagi rame. Tapi emotional push-ku gak mendorong nulis ke situ, jadi gak bisa dipaksain


Gravatar quote : ...mengenai wajah atau badan sih “asal gak bikin mual, nggak menimbulkan sensasi psikologis pun tidak apa2”.

gua speechless deh baca kutipan di atas, asli nahan ngakak abis sendirian di kantor neeeehhh!!! well said mbak, well said...

btw, cmiiw yah. jadi 'salah'nya si mas dono ini adalah dia menggeneralisasikan manusia hanya berdasarkan atas satu literatur saja, sedangkan menurut mbak harusnya dia mengulasnya dimulai dari sebuah teori (entah apa) perilaku yang sifatnya sangat individual. gimana kalau dia gak pake embel2 psikolog sebagai gelarnya, cuma pemerhati masalah sosial? apakah dia masih 'salah'?


Gravatar hans: kan gw ingat kata2 loe, Hans, "Cantik itu relatif, tapi jelek itu mutlak".. :D

Sebenarnya bukan masalah 1 literatur sih. Literaturnya banyak, tapi bias budaya. Dan menjadi sangat tidak pas ketika dia menggunakan embel2 "tinjauan psikologis", karena dalam tinjauan psikologis mestinya dia tidak men-judge dan menggeneralisasikan perilaku, tapi memahami variasinya.

Kalau dia pemerhati sosial, kayaknya gak bikin gw nyolot2 amat.. hehehe.. biarpun gw tetap gak setuju sama bahasannya


Gravatar mbak... aku pasrah bongkokan de... minta dicariin ama mbak maya... hihihi...
terserah mbak de... "ganteng ga masalah de... asalkan baik"... hahaha... sama aja ya... :D
eh... kalo gitu... aku poligami ga ya?... :P


Gravatar Gue punya banyak temen seperti yang Mbak Maya tulis itu. Di dalam Islam sebenarnya tidak mengenal pacaran dan tunangan. Nggak ada ciuman, rangkul rangkulan dengan lawan jenis sebelum pasangan tersebut menikah. Kalau di kelompok Tarbiyah, biasanya ada Murobi yaitu semacam guru ngaji, biasanya Ikhwan yang sudah ingin menikah menghubungi Murobi tersebut dan Murobi yang mencarikan jodoh. Murobi dalam mencarikan jodoh tidak sembarangan dia mendengar saran dari berbagai orang, menyelidiki secara seksama calon yang akan dijodohkan. Kemudian Murobi mempertemukan pasangan tersebut, peristiwa ini disebut Ta' aruf. Dalam proses Ta ' aruf ini diberikan kebebasan apakah akan lanjut atau cancel. Biasanya dalam kelompok Tarbiyah wajah tidak menjadi persoalan, yang penting adalah ketakwaan pasangan kita tersebut kepada Allah SWT. Jadi wajah cantik adalah bonus yang utama adalah Akhlak.

Merujuk pada tulisan tulisan Mayanoto yang ini dan sebelumnya sebelumnya termasuk diskusinya dengan Tino, gue mendapatkan kesan Mayanoto mencoba menjelaskan apa makna dari ilmu sosial. Oke gue ikuti saja irama gendang Mayanoto ini dan tidak akan menginterupsi karena kalau gue interupsi suasana akan rusak seperti ketika jaman gue sekolah dulu. Ada guru menerangkan terus ada murid murid sok tau yang menggangu keasikan gue mendengarkan guru tersebut. Silahkan lanjutkan Mayanoto


Gravatar Mela: kirain motto loe "ganteng gak papa.. asal kaya"

Ara Dinda: makasih penjelasannya ya, Dinda.. Terutama soal istilah2nya yg gak gw kuasai itu. Cuma... loe kok jadi kayak polisi sih, Din? Nerus2in orang supaya maju jalan.. HAHAHA..

Sebenernya sih posting ini bukan bagian dari berdebat sama Tino. Kalo ada nyambung2nya.. yaaah.. bukankah tulisan tuh sebenernya ekspresi perasaan/pikiran/persepsi seseorang? Selama gw belum berubah, pasti tulisan gw ada benang merahnya, biarpun gak diniatin jadi lanjutannya


Gravatar emotional push-nya samaan dgn bpk ini... pas!

http://abusalma.wordpress.com/20...gami-dihujat-1/


Gravatar Yup, memang seperti itu makanya kita dengan mudah bisa memprediksi tulisan Kompas beserta headlinenya demikian juga dengan Tempo. Pola polanya hampir sama dan nggak berubah dari dulu, Berita Buana dan Buana Minggu juga begitu. Termasuk pendekatan- pendekatan cara penulisannya padahal wartawan yang menulisnya beda beda tapi karena satu guru satu ilmu hasilnya sama dan sebangun. Gue juga suka memprediksi tulisan tulisan Mayanoto yang akan datang dan hasilnya hampir 100% sama dengan yang gue prediksi sebelumnya. Apakah ada unsur telepati gue nggak ngerti he he he he.

Kembali ke ilmu sosial, prinsip dasarnya sebenarnya sama dengan IPA karena induknya sama. Jadi berangkat dari yang subyektif menuju yang objektif. Para filsuf dulu mencari dan mencari melalui pertanyaan pertanyaan pertanyaan. Akan tetapi karena objek penelitiannya berbeda maka terjadi percabangan. Kalau hukum alam itu mempunyai ketaatan yang sangat tinggi terhadap hukum Allah sehingga hampir didapat hasil yang objektif dan kemungkinan meleset sangat kecil karena sudah dibuktikan melalui eksperimen. Sedangkan ilmu sosial itu mempunyai variasi yang beraneka ragam yang pada titik tertentu tidak akan didapat hasil yang objektif.


Nah entah dorongan darimana ilmuwan ilmu sosial juga punya kecenderungan untuk seperti rekan rekannya di ilmu pasti yaitu selalu berusaha mecari kebenaran hakiki yang seragam padahal objeknya berbeda dengan ilmu pasti. Makanya sering dilakukan metode seperti ilmu pasti seperti model, pelabelan dll yang pada intinya melakukan penyederhanaan masalah, karena masalahnya memang kompleks jadi dibuat sederhana agar didapat pemecahan secara umum.

Karena ilmu terus berkembang gue rasa masalah ini bukan menjadi persoalan, karena ilmu sosial itu semakin lama akan semakin bergerak menuju ke objektifan. Jadi begerak dari yang bersifat umum menuju ke khusus.Termasuk masuknya budaya lokal ke bidang marketing, sekarang orang tidak hanya belajar pada kasus kasus seperti Ford, system produksi toyota dll tapi juga pada sido muncul, sosro, aqua , J.co dll


Gravatar Nirwana: Eh! Iya, ya, Nir! Sama persis! Mana tanggalnya beda sehari, lagi Kebetulan yg luar biasa, mengingat buku itu sudah lama banget terbitnya. Tapi swear, nggak nyontek.. hehehe..

Pakabar, Nir? Lama hilang dari peredaran

Ara: Ya, ya, memang akhirnya dalam ilmu sosial pun harus ada penyederhanaan. Yang kompleks dan berbeda2 itu dicari irisannya biar sama. Kalau dibilang label boleh2 aja, tapi.. kalau di ilmu sosial (terutama psikologi), labelling itu konotasinya beda. Labelling = tanpa mencoba memahami keberagamannya langsung memasukkan suatu fenomena pada cluster tertentu (yg belum tentu cocok).


Gravatar bubarkan IPDN.


Gravatar Alhamdulillah... selalu berharap lebih baik tiap hari.

Kebanyakan 'blogger' e-push: IPDN, nah kalian berdua malah ngebahas buku & si author (percaya banget kalian tidak saling taut, secara 'beda' lah hihihi...)

Kebanyakan baca (blog-walking)... hiks, malah jadi minder kalau mo koment, gara-gara ngerasa 'diatas langit masih ada langit' (banyak bahasan2 cerdas dari pikiran2 yg brilian).
Gw cukup jadi silent (royal) reader of yours, hehehe.


Gravatar mbak maya... kok ngerti siii...
tadi aku udah nulis kayak gitu... tapi aku hapus...
takut ntar ketauan lagi... hihihi...
wah... udah kliatan belangnya ternyata...


Gravatar Biho: tenaaaang... Belanda masih jauh

Nirwana: ah, dikau merendah sekali deh.. Itu kali ya, ilmu padi, semakin tinggi semakin menunduk BTW, perhatiin gak, si Abusalma melabeli tulisannya sebagai "Bantahan", sementara gw dgn "Debating Something".. hihihi.. bisa klop baget gitu

Mela: kok belang sih, Mel? Manusiawi ah.. hahaha.. kan mesti cari yang paling menguntungkan


Gravatar kutip komen: ... bisa klop baget gitu

kalau klop biasa aja dong, gak usah terlalu semangat gitu :p


Gravatar ipra: kamu terobsesi sama aku, atau sama typo ya ? Hehehe.. Atau obsesinya mau jadi editor ?

*iyaaa.. iyaa.. typo *


Gravatar ini sebenarnnya masalah budaya bangsa kita yang sejak dahulu sudah akrab dengan ' hawa nafsu '..lihat saja sejarah raja raja di Nusantara, suku suku, tuan tanah, bangsawan yang bisa memilihara selir, istri banyak dan sebagainya.


Gravatar weleh klo ini diterapkan di Indonesia akan seru, klo pasangan Rafi ma Tamara he..he...


Gravatar hmm... baca ulang lagi ah.. lom bisa komen *ah.. bilang aja mikirnya lambattttttttt* :P


Gravatar Wah kalau saya sih setuju mutlak sj sm tulisan Dono...tanpa melihat embel2 psikologisnya (coz sy jg bkn seorang psikolog), jd hanya kecocokan persepsi atawa cita rasa saja.
Masalahnya, minus dr org2 yg dibilangin bongkokan (yg ini repotnya dia sendiri, kok jd bongkokan), seseorang yg mau kawin sm ce lain kan pastilah mikir...gimana bentuk tubuh si cewek, kebiasaannya, gimana ce tsb akan menyayangi dia - dan dia sendiri akan menyayangi ce tsb.
Gak mungkin lah kawin tinggal di klik sj ky robot, lantas lgsg jalan, pesta, dan selesai. Simpelnya, semua perkawinan ujung2nya pasti ngesex kan, dan itu aja nyampe kesana ada menyangkut faktor fisik dan perasaan, nah ya itu gak mungkin tdk difikirin atawa diangankan atawa di plan, please lah jujur.
Yg saya lihat dlm tulisannya Dono itu ialah pd konteks sensasi psikoligis sampai ke obesesinya itu. Jd psikologis disitu yg dia blg kenapa disebut selingkuh...dan itu saya mutlak sependapat.
Makanya saya punya persepsi ialah: "Semua poligami awalnya adalah selingkuh... Tapi bukan selingkuh lagiwaktu sudah resmi menikah"
Dan tambahan, saya tidak mengutak-atik setuju-enggaknya poligami lho yah, karena kita kan mmg hrs paham bahwa itu tidak dilarang dalam budaya Indonesia (secara umum). Jadi ya selama sesuai syarat, sah2 saja.
Cumaaa (hehe) balik keatas, karena awalnya semua poligami itu selingkuh, jadi kalau bisa, ya jangan/ gak usah poligami.


Gravatar Nah itu dia kelihatan banget kan bahwa ilmu sosial dipandang secara subyektif terutama oleh si Dono & Tulus. Berteori sih silahkan silahkan saja tapi untuk orang orang seperti gue yang dididik dengan pola yang berbeda dengan orang yang berlatar belakang ilmu sosial hal hal seperti ini adalah omong kosong. Gue nggak percaya sama sekali sama teori ini karena gue lihat si Dono tidak melakukan eksperimen. Hanya pengamatan tanpa melakukan eksperimen ya silahkan saja tapi apakah orang percaya atau tidak atas omongannya itu adalah soal lain.


Seberapa banyak orang yang sesuai dengan teori si Dono dan Tulus? Kalau gue berhasil menemukan 1 orang saja yang tidak sesuai dengan teori itu maka teori itu salah dengan otomatis alias menjadi sampah ( dan gue punya data muslimah yang kawin dengan kepala suku di Papua demi dakwah Islam ). Ilmuwan sosial lakukan eksperimen donk jangan hanya bersandar pada teori orang yang hidup di masa lalu, agar ilmumu berkembang seperti juga Ilmu Pasti menuju keobjektifan.


Gravatar Mas Iman: eh, Mas, emang itu sekedar sejarah bangsa kita ?

Ario: Tamara-Rafly disuruh ikut Fear Factor? Kasian, ntar Tamara muntah makan kecoak

Diyan: hamil emang suka bikin kita susah mikir

tulus: yeee.. kalo pas nikah bukan selingkuh lagi, berarti poligami bukan selingkuh, dong Kan poligami itu baru terjadi sesudah menikah

*tapi gw paham maksud loe *

ara: Jadi maksud loe Dono harus poligami dulu, gitu? Atau selingkuh dulu?


Gravatar Setuju!
Duh, telat lagi ya?


Gravatar hahahhaaa, aku tersenyum membaca pemikiran mu.
andai saja kau membaca benar-benar buku itu, pasti pemikiranmu sedikit berubah.
pahami betullah arti selingkuh dan poligami secara benar. tidak subyektif, tapi cobalah kau baca sekali lagi.
kau pernah merasakan selingkuh?
karena sejatinya, dalam praktik tidak selalu sempurna dengan teori yang ada.
sudahlah, bila kau sudah mengalami episode seperti yang dilihat Dono, berbincanglah denganku.
hey, apa kau sudah mebaca buku Dono lainnya seperti perawan tiga detik, antara cinta, seks dan dusta?
bacalah, kau pasti akan mengerti maksudku.
_salam adepretu


Gravatar Wah, baru baca nih. Btw, aku nggak bisa cari posting yg mana ini ya? hehehe.. maaf.. maaf..

Cuma tergelitik aja baca komennya Ara. Ara, ada baiknya kalau kapan2 kita ngobrol soal metode penelitian, adik manis.

And speaking of experiment, what about sex? Have you done some experiments, Ra? Just to make sure that you're not "merely observing" blue films.. =)


Gravatar Puji: gak papa, aku juga telat lihat komentarnya

intan: ini kolom komentar untuk tulisan Ini Bukan Tentang Poligami. Iya nih, Haloscan susah ya, nggak link ke tulisan asli


Gravatar ADEPRETU: karena sudah ketawa, makanya dikasih bonus jawaban tersendiri, nggak digabung sama Intan & Puji

Praktik tidak selalu sempurna dengan teori yang ada? Lho, saya kan juga bilang begitu Makanya saya heran kalau Dono pakai teori barat tentang pernikahan untuk menjelaskan praktik poligami Timur dan seolah2 mencapai kesimpulan benar

Kalau modal Anda hanya "sudahlah, bila kau sudah mengalami episode seperti yang dilihat Dono, berbincanglah denganku", maka saya yakin kalau pemikirann saya TIDAK SEDIKITPUN berubah Mengapa ? Karena selain SUDAH melihat episode seperti yang dilihat Dono, saya juga SUDAH melihat episode yang tampaknya BELUM dilihat Dono Atas dasar itu saya bisa mengatakan bahwa that so-called tinjauan psikologis masih timpang; terlalu terfokus pada apa yang sudah dilihat Dono, bukan pada konstruknya sendiri

Masuk akal jika Dono kurang referensi dalam memahami konstruk poligami. Kalau ditinjau dari blog Dono ini, ia dibesarkan dalam budaya yang mengharamkan cerai, apalagi poligami.

Berbincang dengan Anda? Boleh, jika ada manfaatnya buat saya Namun, melihat bahwa Anda kurang mampu menangkap inti tulisan saya, dan Anda masih sekedar berpatokan pada pengalaman empiris ("kau pernah merasakan selingkuh?", "sudahlah, bila kau sudah mengalami episode seperti yang dilihat Dono"), saya ragu obrolan dengan Anda akan ada manfaatnya buat saya

Membaca buku Dono yang lain? Maaf, saya orangnya pemilih dalam membaca Kesan pertama saya terhadap tulisan Dono (dari buku & blognya) tidak terlalu istimewa, jadi.. yakinkan dulu bahwa ada yang berharga dalam tulisannya supaya saya mau membacanya


Gravatar terimakasih sudah mau menanggapinya. aku jadi tambah tertawa mendengar dalihmu. dan membaca itu membuatku tertarik untuk berbincang denganmu. mengenai ada manfaatnya atau tidak, hey kau harus sedikit mengendorkan egomu dulu untuk mengetahui itu.
_salam


Gravatar adepretu: HAHAHA.. senang saya membuat Anda tertawa . Anda tertarik berbincang dengan saya ? Catch me.. it's you who want to talk with me in the first place, right ?

Menekan ego? Ah.. coba tolong contohkan dulu bagaimana itu yang namanya menekan ego . Kalimat seperti ini "sudahlah, bila kau sudah mengalami episode seperti yang dilihat Dono, berbincanglah denganku" tidak terdengar rendah hati, hey Aderiska Andriana


Gravatar rupanya kalimat ku itu mengganggu mu ya may?
maaf ya?
aku sama sekali tidak bermaksud.
tapi semoga kamu mengerti maksudku.
aku hanya ingin kau benar-benar membaca habis buku Dono yang mungkin memang belum sempurna seperti mau mu.
_salam


Gravatar adepretu: Mengganggu? Please define "mengganggu" Mmm.. mengganggu dalam arti menimbulkan ide baru untuk nyilet sih iya

Ya, ya, ngerti maksudnya Ade. Tapi ya itu, ketika saya "membaca cepat" isi buku itu, saya tidak mendapatkan emotional push untuk membaca keseluruhan isi buku itu. Mungkin karena saya akrab dengan tema tersebut, dan juga akrab dengan literatur psikologi, saya mendapatkan benang merah isinya tanpa harus membaca keseluruhan

Tapi gini deh.. menurut Ade, apa yang membuat saya perlu membaca buku itu sampai selesai ?




Name:

Email:

URL:

Comment:  ? 

 

Commenting by HaloScan