Para Kritikus berkata...
|
|
seperti biasa, selalu berbeda dari pendapat umum ya mbak )..aku malah gak pernah tau ttg surat ini sampe baca blog mbak May, dan setelah dengerin rekamannya, sepertinya harus setuju dengan mbak May nih..lagian negara ini udah cukup banyak masalah, gak usah menciptakan masalah baru lagi..tapi
kayanya kita emang demen banget ya kalo ribut2? :P
surti |
11.01.08 - 3:30 am | #
|
|
surti: HAHAHA... makanya gw punya label "Debating Something" Tadinya mau dijudulin "Debating Society", tapi kok kesannya belagu banget 
True. Makin lama, gw melihatnya the battle of RUU APP ini masalah pride aja. Udah jadi masalah menang/kalah, udah irrasional. Padahal kalo dipikir, disahkan atau tidak, nggak banyak pengaruhnya pada kehidupan nyata. Berapa % sih kita melakukan pornoaksi/pornografi dalam kehidupan? Sampai gitu, 5%?
Yang bikin jengkel, orang memfokuskan segala daya upaya ke masalah ini, sampai masalah yang lebih penting nggak terurus What's the point gitu loh!
-may- |
11.01.08 - 3:58 pm | #
|
|
memang susah menyatukan pendapat di negara yang heterogen ini mbak. adil itu kan meletakkan sesuatu pada tempatnya ya, memberikan sesuai dengan haknya. kalau menurut saya sih masalahnya bukan kuantitas berapa banyak kita melakukan pornografi dan pornoaksi, tapi kualitas, dampak yang ditimbulkannya itu loh, wong kalau misalnya sekarang 5% dampaknya udah begini parah (masak anak remaja SMP udah bisa ML pake direkam ama HP lagi). kalau saya pribadi menyetujui RUU ini. dan masalah ini memang perlu dituntaskan karena ini masalah moral, apalagi dampak pornoaksi atau pornografi ini yang paling hebat kan ke generasi muda,kalau moral generasi penerusnya udah rusak, gimana negaranya mau bagus?
Banyak yang berpendapat masalah lain lebih penting, masalah lain lebih penting. apa masalah moral bangsa tidak penting ??. kalau dikaji-kaji semua permasalahan bangsa ini muaranya pasti masalah moral juga.
maaf kalo kurang matching dengan topik, maklum pendapat orang awam
ozant |
Homepage |
11.01.08 - 11:33 pm | #
|
|
Smua prmslhn bangsa n negara,baek moral maupun materi adlh hrz ditmpatkan sama penting dlm skala prioriti dlm rngka pradaban&kbrlangsungan umat_krn jika moral dianggap hny tnggung jwb individu,self cntrol an sich..ya udah,ga usah ada guru,polisi,ulama,dll
Bunda Ayyash |
11.02.08 - 1:08 pm | #
|
|
ozant saja: Sebenarnya maksud saya sih bukan berapa banyak DARI POPULASI yang melakukan pornoaksi/pornografi Tapi... berapa banyak BAGIAN DARI HIDUP KITA yang akan berubah jika UU Porno ini disahkan Dan kesimpulan saya... sebenarnya UU Porno ini TIDAK MEMBATASI HIDUP KITA kok
Makanya saya heran, kenapa sih banyak banget orang yang berjibaku menentang pengesahan RUU ini? Disahkan atau tidak, nggak membatasi hidup kita kok Malah lebih memberi kepastian hukum 
Saya sendiri kurang begitu peduli RUU ini disahkan atau tidak. Disahkan boleh, karena menurut saya isinya nggak "menindas" rakyat. Tapi nggak disahkan juga nggak apa2. Yang penting: get over it! Let's move to other issue
Lha... bukannya pada get over it, malah masalahnya jadi lebar. Sekarang malah ada tuduhan rasis lah! Padahal setelah didengar rekamannya, biasa2 aja tuh. Nggak terkesan rasis, kecuali kalau mendengarkan rekaman itu sudah dengan apriori tertentu 
ozant & Bunda Ayyash: masalah moral bangsa memang penting. Tapi apakah moral bangsa itu urusannya cuma sama pornografi dan aktivitas seksual ? Korupsi kan juga masalah moral Kalau begitu, kenapa sibuk ngomongin RUU Porno melulu, nggak ngomongin aspek moral lainnya ?
Makanya sih saya nggak tertark ikut ribut2 urusan RUU Porno. Mau disahkan OK, enggak ya nggak apa2. It's just one aspect of our life kok, kenapa semua daya upaya harus diarahkan ke sana ?
-may- |
11.02.08 - 2:17 pm | #
|
|
Adil sejak dalam pikiran ?
Saya justru masih bingung mengartikan kalimat itu. Apa maksud "adil" disitu ? Masalahnya, apakah "adil" itu adalah hasil dari proses menilai sesuatu atau "adil" itu adalah latar belakang kita dalam menilai sesuatu ?
Apakah kita tidak bisa berpihak kepada sesuatu, sebagai akibat [hasil] dari suatu penilaian yang kita lakukan dengan cara yang "adil" ? Apakah keberpihakan pada sesuatu, setelah menilai secara obyektif, masih bisa dikatakan adil ?
Kembali ke kasus. Mungkin saja penanggap komentarnya Balkan Kaplale itu bias dan berprasangka, tetapi komentarnya Balkan sendiri [tanpa melihat konteks, arah, maksud, dsb] juga adalah sebuah prasangka.
Saya jadi ingat komentar Louis Aragones [pelatih timnas Spanyol] yang memotivasi pemainnya dengan cara yang "kurang tepat". "Apakah kau mau kalah sama 'black shit' (maksudnya Thiery Henry) itu?". Dia membantah kalau itu adalah sikap rasisme, tetapi hanya sekedar motivasi. Apakah demikian ? 
Konteks memang perlu, adil juga perlu, tetapi sebuah kalimat bisa dilepaskan dari konteks jika kalimat itu bisa mengartikan dirinya sendiri dengan jelas. Dan kalimat yang diucapkan oleh Balkan Kaplale itu jelas-jelas bisa mengartikan dirinya sendiri.
Maksud Balkan dalam menanggapi konteks pemisahan daerah bagi saya sudah cukup tepat. Tetapi sebagai politikus, dia harus tahu untuk "menutup mulut" ketika tidak ada yang penting untuk dibicarakan. Dan bagi saya, itu bukan hanya sekedar "cara yang tidak manis", tetapi itu sudah jelas menyuarakan apa sebenarnya maksud dari Balkan.
Harusnya Balkan yang perlu ditanya : "Apakah anda rasis ?" Pasti jawabannya TIDAK. "Lalu mengapa kalimat itu keluar ?" 
Saya sih masih melihat "celetukan yang salah" sebagai gambaran sebenarnya dari alam bawah sadarnya si Balkan. Bisa saja dia mengatakan tidak bermaksud begitu, tapi salah tulis, salah ucap, salah sebut nama, dan kesalahan tak sengaja yang lain dapat dijadikan gambaran dari "apa yang tidak disadarinya". Dan disitulah sebenarnya posisinya.
fertob |
Homepage |
11.02.08 - 6:55 pm | #
|
|
fertob: aha! Komentar bermutu dari penduduk Sorong nih Apa kabar, Fer? Miss your intellectual comment Komentar yang selalu tajam, tapi nggak OOT 
Gw setuju bahwa apa pun yang dikatakan Balkan adalah cerminan dari alam bawah sadarnya. Bahkan, yang namanya joke pun sebenarnya cerminan alam bawah sadar kan, menurut Freud ?
But I believe that we both know bahwa alam bawah sadar itu LUAS Jadi, tidak bisa serta merta kita menyimpulkan bahwa kata2nya itu rasis, dengan alasan bahwa itu cerminan bawah sadar
Ada BANYAK kemungkinan lain, seperti misalnya keterbukaan pada nilai2 yang dianggapnya lebih baik. Dengan mengatakan "Saya dari Saparua", gw sih melihatnya dia menyetarakan diri sebagai sama2 orang Indonesia Timur dengan Albert. Dengan demikian, kata2 selanjutnya tentang "Kalau perlu kau carilah jodoh dari Jawa" bisa dibaca juga sebagai suatu anjuran untuk mengajak "saudara sedaerah" untuk menyerap nilai2 lain. Mengagumi nilai2 orang lain, tidak identik dengan menghamba pada orang lain itu toh ? Tidak berarti meninggikannya dan menghina yang lain toh ?
Tidak pasti berarti rasis, karena kalau dia sudah menyetarakan diri dengan orang Papua, rasis terhadap Papua adalah rasis terhadap dirinya sendiri. And this does not make sense to me 
Gw setuju bahwa sebagai politikus harusnya tahu kapan harus "tutup mulut". Harusnya dia cukup diplomatis berhenti pada memberikan poin mengenai pemisahan daerah. Nggak perlu carried away Tapi itulah satu2nya kesalahan dia yang gw lihat... hehehe... dan menurut gw adalah tidak tepat jika kemudian orang melabelnya sebagai rasis dalam surat terbuka 
Apa pun yang kita tuliskan dalam ruang publik, termasuk surat terbuka, harusnya OBYEKTIF. Menurut gw apa yang dilakukan si penulis sudah suatu pelanggaran etika tersendiri; menggunakan penilaian subyektifnya untuk menulis di ruang publik She doesn't even care to publish the recording, untuk memungkinkan orang menganalisa sendiri berdasarkan data tangan pertama Ia menyajikan penilaian subyektifnya sebagai kebenaran yang tidak perlu dikritisi 
Itu yang gw kritik dari si penulis surat terbuka Gw sih nggak peduli dengan nama baiknya Balkan, makanya gw nggak berniat membela dia. Tapi gw merasa perlu mengkritik cara si penulis surat terbuka 
-may- |
11.02.08 - 7:43 pm | #
|
|
Ohya, nambahin buat Fertob 
Dari yang gw dengar, Fer, pernyataan Balkan tidak sebanding dengan Luis Aragones Aragones dengan nyata menggunakan "kata berbisa": SHIT, yang sudah jelas menempatkan yang dikatainya dalam posisi sangat rendah 
Kata2 Balkan tidak seperti itu Beda kalau misalnya dia bilang [maaf], "Dasar *****! Kawin sana sama orang Jawa biar keturunanmu nggak jadi ***** kayak kamu!"
Nah.. kalau kasusnya seperti itu, gw duluan deh yang akan bilang dia rasis... 
-may- |
11.02.08 - 8:12 pm | #
|
|
Mo gangguin diskusi lo doang 
Dengan pola pikir kayak gitu, bisa dong gue berkonklusi bahwa Nabi Muahammad SAW rasis karena dia nyuruh umatnya buat belajar ke China ....

PJ |
11.03.08 - 10:34 am | #
|
|
PJ: Ya, ya, dengan cacat logika seperti ini, Nabi Muhammad SAW adalah seorang RASIS! Beliau jadi terlihat menghinakan umat Islam dan meninggikan orang2 Cina
*tapi mungkin enggak juga, kan Nabi Muhammad SAW tidak bilang, "Kalau perlu ambillah jodoh orang Cina untuk memperbaiki keturunan" *
-may- |
11.03.08 - 12:11 pm | #
|
|
Buat simpatisan FPI, MMI, ato ormas Islam lainnya:
Gw ngerasa perlu kasih konfirmasi bahwa pernyataan gw gak ada maksud menghujat BAGINDA RASUL, KEKASIH ALLAH ... Gw cuma mau kasih liat betapa menyesatkan dan berbahayanya logika atawa pola pikir yang dipake di surat terbuka itu dengan meberi sebuah contoh ekstrim
Buat yang laen:
Bagi gw, pak Balkan cuma mau mengajak sodara2 kita dari Timur untuk mengadopsi nilai-nilai dan sikap hidup orang2 di Jawa (apa pun sukunya) dalam menghadapi suatu persoalan, tapi dia emang kelewatan ekstrim ketika dia menganjurkan untuk kawin dengan orang dari Jawa sebagai manifestasi atawa pengejawantahan pengadopsian nilai-nilai dan sikap hidup orang-orang di Jawa. Memperbaiki keturunan (mungkin) maksudnya anak keturunan yang dihasilkan akan memiliki nilai-nilai dan sikap hdiup tersebut karena diajarkan sejak kecil oleh ibu/bapak yang berasal dari masyarakat di Jawa.
Wallahu 'alam bissawaab ....
PJ |
11.03.08 - 12:48 pm | #
|
|
PJ: akuurr... moga2 nggak ada yang salah menafsirkan komentar PJ dan membuat surat terbuka karenanya 
Exactly, Mil, maksud gw juga begitu seperti yang loe tulis untuk "yang laen" 
-may- |
11.03.08 - 5:58 pm | #
|
|
nah inilah, becanda jaman sekarang mesti hati2... teknologi udah canggih
mungkin iya si balkan ini bukan rasis, keseleo lidah aja. tapi keseleo lidah yang satu ini bisa dong jadi indikator kompetensinya sebagai KETUA PANSUS? lah wong kita interview kerjaan aja bisa ga diterima gara2 keseleo lidah hehehe...
gua masih berharap kalau RUU ga penting itu tidak jadi disahkan, bukan demi pluralisme atau apapun bentuk idealisme yang lain. cuma masih pengen jadi pelanggan majalah pria dewasa favorit gua dan masih pengen liat bahu2 licin dan pinggul2 mulus berkeliaran di mall2.
hans |
11.05.08 - 6:52 pm | #
|
|
gue juga mau ngerecokin perdebatan lo terhadap sesuatu ah..
nah itu, idem dengan hans, gw masih pengen memuaskan keinginan mata pria-pria sejenis hans di mall *alaaah* hahahah. Dan sebagai orang awam masalah2 ginian, gw ga pengen takut2 berkarya apa pun tanpa takut bermasalah...
okke |
11.07.08 - 1:48 pm | #
|
|
OOT:
Kalo mau masukin lagu dari imeem ke entri gimana caranya Bu? Gw nyoba ga bisa2 euy.. :-(
Thank youuu
JJ |
Homepage |
11.10.08 - 11:21 pm | #
|
|
hans: HAHAHA... iya sih, kepleset lidah itu harusnya nggak terjadi kalau udah di posisi dia 
BTW, kalau alasan loe jujur begini (mau lihat bahu licin), gw sih akur aja. Paling sebal gw kalau orang mengangkat isyu pluralisme bla bla bla untuk membatalkan UUP 
okke: love to hear your honest reason, babe 
JJ: copy paste aja script yang ada di kotak itu, Jeng. Tapi masukinnya di blog via "Edit HTML", jangan di "Compose".
-may- |
11.13.08 - 1:30 pm | #
|
|
Commenting by HaloScan
|