Para Kritikus berkata...

kalo ngeliat settingnya (abad 20 kan) berarti Indonesia udah lebih 'modern' dong dalam hal cara pandang. Lha Ibu Kita Kartini aja kan uda memperjuangkan kesetaraan perempuan sejak abad 19-an (kalo ga ya awal abad 20an lah), hehe... Lha ini pada abad 20an aja (menurut tuh link Mariam aja lahir tahun 1959, berarti ya nikah tahun 70-80an kan?). Laila malah baru lahir tahun 1978, berarti dia 'menikah' tahun 1990an, wah.... . Hebat juga yah negara kita, wkwkwkw....

Eh, itu beneran dijalankan tu yang di kotak pink itu? Serem juga yah buat cewe, banyak hak-hak yang dirampas tuh, hmmm....

eh, untung jg ya telat belinya. Buku yg diincer dapet diskon 20%, wkwkwkw.... Bener2 deh...


Mbak, meringis gak waktu ngebayangin laila operasi caesar gak pake obat bius? hiihhh


Gravatar OOT: mohon doanya, CP lagi di UGD, ada masalah dg kandungannya


Gravatar zilko: Negara kita memang OK. Tapi gw takut kalau angin politik memenangkan orang2 yang tidak tepat, bisa kejadian mirip2 Afghanistan juga.. hehehe.. Secara, sebenernya sebelum Taliban berkuasa tuh di kota besar Afghanistan (Kabul) sebenarnya udah gak terlalu beda sama Jakarta.

Beneran, Zil, tuh malah baca spoiler dari Surti yang lebih serem

surti: mungkin karena gw pernah ngerasain melahirkan, dan tahu banget pas melahirkan tuh "bagian lain" digunting dokter aja nggak kerasa sakit sakitnya, gw masih belum bergidik.

Gw malah bergidik baca cerita bahwa dokternya dipaksa mengoperasi pakai burqa! Gila apa??? Toh yang di ruang operasi cewek semua, ngapain pakai burqa? Nggak esensial banget deh.. grrrhhh.

aj's: by email ya, J


Gravatar kok zilko bilangnya kotak pink yah? bukannya kotak orange?
tapi emang payah banget yah kalo itu diterapin disini... secara udah terbiasa lihat 'bahu-bahu licin' (meminjam istilah temen) di mall2 atau tempat nongkrong lainnya.
tapi buat orang2 sana, terutama wanita2 seperti mariam, mungkin udah terbiasa kali yah, jangan2 mereka yang ngeliat 'wanita bahu licin' disini yang aneh :D


Gravatar ehhh... operasi pake burqa?...

tapiii... sama juga kan... biasanya pas ngoprasi kan tutup rambut... tutup hidung... tutup mulut... ga keliatan juga...

hehehe...:D


Gravatar Gw suka banget buku ini Mbak. Menurutku jauh lebih bagus daripada The Kite Runner. Potongan cerita yang paling gw suka adalah ketika Mariam menjelang dihukum mati, dia tersenyum karena dia yang tadinya tidak dianggap oleh siapapun kini akan mati sebagai orang yang mencintai dan dicintai. Gw lupa persisnya, tapi kira2 gitulah. Mantap! Kalau Kite Runner gw bilang kok rada bias ya, ada section yang kayaknya America-minded banget.


Gravatar wah, kapan ni posting TARA? hehe

OOT ah, Mbak, karena Mbak adalah fansnya Rovilson, ni aku kasi link menarik

http://youtube.com/watch?v=4u3-AXOSW3w

tu video diambil salah seorang yg ikutan finale party di Singapore, dia ngerekam adegan behind the scene (gak behind the scene bgt sih soalnya ada beberapa yg emang ada di race), dan salah satunya adalah adegan Rovilson's b*tt yg keliatan jelas waktu doing striptease demi uang di Frankfurt, Jerman, haha....

(sebenernya saia kaga mau OOT tp apa daya, lama sih posting TARA finale-nya, wkwkwkw... )


Gravatar @hans : wah, iya, orange. Kemarin2 pink bukan Mbak? Hmmm, seingetku sih warnanya pink, haha... Apa salah liat ya waktu itu? hmmm... . bahaya nih, jangan2 mind concussion ky yg terjadi sama Vanessa terjadi sama saya, wakakaka....


Gravatar enak dan tidak enak itu subyektif sifatnya tergantung lo diuntungkan atau dirugikan kebijakan sebuah rezim, pendahulu kita malah ada yang bilang lebih enak dijajah Belanda dan bilang jaman penjajahan Belanda adalah jaman normal, apa apa serba enak. Gue tidak melihat pencerahan apa apa dari FIKSI itu karena semua memang sudah jelas, terang benderang dan gamblang memang hidup itu begitu- begitu saja kok, diuntungkan rezim bilang enak dirugikan rezim bilang nggak enak.


Lebih baik mana rezim Orde Baru dibawah Pak Harto atau Taliban? Kalau ditanya ke gue lebih baik rezim Orde Baru karena gue bukan korban Orde Baru malah keenakan kayaknya, tapi kalau ditanya ke korban Orde Baru yang dia dan keluarganya yang ngga tau apa apa disiksa selama 30 tahun lebih mungkin lebih baik Taliban.

Komunisme dan kapitalisme secara praktik sudah gagal, tidak pernah ada negara komunis yang rakyatnya kaya raya melimpah ruah, yang kaya hanya segelintir pejabat pusat dan kroninya.
Yang sukses itu adalah negara yang menerapkan prinsip Sosial Demokrat seperti Jerman dan negara2 Skandinavia dan Negara dengan Hukum Islam yaitu Saudi Arabia. Ini hanya masalah bagaimana mencari jalan kebenaran yaitu konsep keadilan, Komunisme dan Kapitalisme telah terbukti secara praktik gagal dalam menerapkan keadilan dan kemakmuran ekonomi. Jadi gue tidak melihat komunis Uni Soviet dan pemerintahan bonekanya lebih baik dari Taliban dalam konteks Afganistan karena gue lihat dua duanya sama jeleknya. Ingat Uni Soviet itu penjajah Afganistan dan kekejamannya terhadap rakyat Afganistan juga tak terkira. Gue punya data datanya karena gue rajin mengkliping majalah Tempo punya bokap dari tahun 80an yang ada di gudang.



Sebaiknya kalau kita melihat suatu kasus, kita harus memperkuat informasi agar tidak salah dalam mengambil kesimpulan.


Gravatar Ngejawabin yang cowok2 dulu

Hans: hehehe.. bahu2 licin, perut2 datar, dan g-string mengintip dari sela2 hipster ya, Hans

Zilko: oranye sih, Zil, dari awal. Cuma gw kira di layar loe jadi rada mirip pink gara faktor jenis LCD-nya

Thanks... tapi kalau cuma b*tt kurang seru. Ada bagian lain gak

Ara: loe gak dapat pencerahan, Dinda? Bukannya emang loe susah dapat pencerahan? Hehehe.. Harus digaplokin dulu baru "ngeh"

Yang lainnya gak gw respons ya, soalnya komentar loe kayak pesawat kecelakaan: jatuhnya jauuuuh dari landasannya


Gravatar Sekarang yang cewek

Mela: Uhmm.. kalau gw ngelihatnya dari sudut kesejahteraan pasien, Mel, bukan kesejahteraan dokter:
1. Operasi itu butuh ketelitian mata, sementara bagian mata pengguna burqa pun ditutupi dengan sejenis kain kasa yang tentunya mengurangi kemampuan melihat.
2. Operasi itu butuh keterampilan tangan karena harus memotong/mengiris/menjahit bagian2 halus tubuh manusia. Sementara dengan burqa yang menutupi tangan (dan mungkin menutupi bagian yang dioperasi), tentunya keterampilan tangan agak terganggu. Kemungkinan salah iris besar sekali.
3. Operasi itu butuh sterilitas maksimum. Nggak ada yang boleh menyentuh bagian tubuh yang dioperasi, kecuali alat2 dan tangan bersarung karet yang sudah disterilkan. Gw simply nggak bisa ngebayangin berapa banyak kuman yang bersarang pada sebuah burqa yang sudah dipakai seharian, yang mungkin akan masuk ke tubuh saat burqa itu menyentuh luka. Bisa sih burqa disterilkan. Tapi.. dengan sebegitu luas permukaan, kemungkinan gak sterilnya besar sekali

Mita: yup! Bagian itu emang menyentuh sekali. Dan menurut gw itu harusnya jadi klimaks yang menghentikan cerita. Makanya gw sebel penulisnya masih nambahin cerita lagi setelah itu. Menurut gw, cerita selanjutnya itu malah menjadi anti-klimaks


Gravatar pencerahan apa yang lo dapat? Cuma begitu begitu doang fiksi yang memotret realita ditambah imaginasi yang bersifat khayalan. Jadi begitu cara lo mengambil kesimpulan, bersandar pada khayalan dan bukan realita?

Gue lebih tertarik pada realita karena realitanya gue sudah tau jadi gue merasa tidak mendapat pencerahan apa apa.

masalah lo melihat comment gue jauh dari landasan adalah masalah lo sendiri, ingat otak itu cara bekarjanya koheren kalau lo nggak bisa melihat suatu masalah secara sistem dan saling berkaitan itu adalah urusan lo.


Gravatar ara: buat gw yang namanya insight, enlightment, pencerahan,.. itu adalah HASIL PEMROSESAN terhadap INFORMASI YANG KITA TERIMA . Apakah informasi itu dari fiksi, dari kenyataan.. it hardly matters


Gravatar sangat berbahaya apabila kita mencari aufklarung dari cerita fiksi. informasi diproses menjadi kesimpulan, kesimpulan menghasilkan aufklarung, aufklarung yang berakumulasi menjadi pandangan hidup, pandangan hidup dipakai untuk mengambil keputusan hidup.


Kalau informasinya saja sudah fiktif, tidak ada, bertolak belakang dengan kebenaran, khayal, merupakan dunia ciptaan author dimana author adalah tuhan apabisa kita menemukan pencerahan sejati yang akan kita gunakan untuk kehidupan nyata? Apabisa kita mencari kebenaran dari kebohongan dan kesalahan yang disengaja, ingat fiksi adalah kebohongan yang jujur, fiksi jujur kalau dia bohong, terus kita mencari aufklarung dari kebohongan yang jujur tersebut apa tidak aneh kalau begitu?


Gravatar Doh Ara 'aufklarung' eh? *terpaksa gugling*

Gw yg ketinggalan kereta ataw Ara yg memang melesat tinggi yah? hweheheh... dasarr anak muda *evy*


Gravatar ara: ah, Ra, kalau menurut gw sih yang harus kita lakukan dengan hati2 adalah PEMROSESAN INFORMASINYA, bukan apakah sumbernya fiksi/nyata . Contohnya aja anggota2 FPI yang suka nge-razia di bulan puasa. Sumber informasinya bukan fiksi kan? Tapi karena pemrosesan informasinya sembarangan, bukan aufklarung yang didapat

Nirwana: iya, si Ara itu emang melesat tinggi. Sampai2 kayak layangan putus, nggak ada anchor-nya ke darat


Gravatar Perhatikan prosesnya informasi-kesimpulan-aufklarung-pandangan hidup- pengambilan keputusan.

Informasi sudah salah, khayal, tidak ada, dunia yang artificial yang diciptakan author yang berperan sebagi tuhan, kalau model model begini kita pakai kita bisa salah mengambil kesimpulan kemudian salah mengerti suatu objek akhirnya salah dalam mengambil keputusan dalam hidup di dunia nyata.

Masalah FPI itu adalah penafsiran jadi tidak ada hubungannya dengan kasus ini yaitu " MENCARI PENCERAHAN MELALUI KEBOHONGAN / DISINFORMASI YANG DISENGAJA. "


Gravatar ara: Fiksi dan salah adalah dua hal yang berbeda Bahwa informasi yang masuk berupa fiksi, bukan berarti sesuatu yang salah.

Bertahun2 sebelum memungkinkan keliling dunia dalam waktu singkat, Jules Verne sudah menuliskan fiksi Around the World in 80 Days. Apakah Verne salah? Tidak, dia hanya menulis fiksi Dan itu menginspirasi orang2 pada jaman berikutnya untuk berkembang

Bandingkan dengan FPI yang dapat informasi benar, tapi kesimpulannya salah. Mana yang lebih bahaya: mengambil inspirasi dari fiksi atau sekedar mendapatkan informasi yang benar ?

Sudahlah, Dinda, kalau bikin komentar dipikir dulu baik2.. hehehe..


Gravatar justru sudah dipikir dengan benar, anda yang tidak melihat dari berbagai sisi. Perhatikan fiksi memuat dialog yang palsu, kejadian yang palsu, ketidakbenaran kejadian terus ada mengambil kesimpulan dari ketidakbenaran itu. Perhatikan fiksi yang dihembuskan Orde Baru tentang kelamin Jenderal jenderal yang dipotong dan disilet oleh Gerwani apa akibatnya?

Menurut anda mungkin data dan fakta yang akurat tidak penting yang penting imaginasi dan kata kata indah tapi penuh kepalsuan, silahkan saja berpendapat begitu tapi menurut gue semakin indah sebuah fiksi semakin berbahaya dia.


Anda jangan mengelak dengan dalih imaginasi penting tapi menafikan adanya distorsi kebenaran yang nyata demi keindahan sebuah cerita.


Gravatar Oh ya ada yang sedikit mengganggu.

mayanoto wrote:" Fiksi dan salah adalah dua hal yang berbeda Bahwa informasi yang masuk berupa fiksi, bukan berarti sesuatu yang salah."

tapi bukan berarti sesuatu yang pasti benarkan? Mungkin lebih banyak salahnya ditinjau dari segi logika berpikir dan realitas hidup karena kejadiannya, karakter -karakternya, dialog- dialognya, seting sosialnya adalah artificial / palsu. Fiksi bukan tempat mencari kebenaran, kebenaran harus diciptakan melalui realitas kehidupan.


mayanoto wrote: "bandingkan dengan FPI yang dapat informasi benar, tapi kesimpulannya salah. Mana yang lebih bahaya: mengambil inspirasi dari fiksi atau sekedar mendapatkan informasi yang benar ?"

Ini masalah penafsiran, jadi apakah FPI salah atau benar tergantung dari sudut mana kita memandang, menurut anda FPI salah menurut orang lain belum tentu. FPI salah adalah kesimpulan anda sendiri.


Gravatar ara: Ara, punya argumen yang lebih bermutu daripada ini gak: "Ini masalah penafsiran, jadi apakah FPI salah atau benar tergantung dari sudut mana kita memandang, menurut anda FPI salah menurut orang lain belum tentu. FPI salah adalah kesimpulan anda sendiri."

Sebab, kalau argumen loe cuma segitu doang, maka bisa gw balik dengan: kalo gitu apa yang salah dengan orang yang mengambil kesimpulan dari sebuah fiksi ? Ini masalah penafsiran, jadi apakah orang2 itu salah atau benar tergantung dari sudut mana kita memandang, menurut anda orang2 itu salah menurut orang lain belum tentu. Orang2 itu salah adalah kesimpulan anda sendiri.

Jadi.. cari argumen yang bermutu dulu ya, Nak. Baru kita bicarakan lagi Jangan belibet sendiri.. dan.. uhm, jangan double standard ah

Sekali lagi, Nak, yang jadi masalah adalah BAGAIMANA MENYARIKAN informasi yang didapat. Itu yang lebih penting daripada jenis sumbernya Karena, seperti yang ceritakan di atas, sebuah fiksi seperti Around the World in 80 Days pun bisa menginspirasi orang untuk melakukan inovasi dan pembaharuan


Gravatar Kemarin teriak teriak mendapat pencerahan dari fiksi sekarang setelah sedikit gue gebrak dengan pemikiran sederhana beralih "hanya mendapat inspirasi" dari fiksi Ini dagelan atau apa sih?


Apa benar Around the World in 80 Days pun bisa menginspirasi orang untuk melakukan inovasi dan pembaharuan? Itu masih relatif, bisa saja manusia terinspirasi membuat pesawat terbang dari realitas yaitu burung, dan membuat kapal selam terinspirasi ikan.

khayalan itu harus ditarik ke realitas baru bisa disimpulkan dan didapat pencerahan, lo kemarin teriak teriak mendapat pencerahan tanpa mau menarik yang khayal ke realitas itu salah menurut gue. Karena ilmu pengetahuan menciptakan realitas dari imaginasi yang ditarik ke realitas hidup bukan asal comot dari khayalan. Ingat helikopter? dari imaginasi Leonardo Da Vinci ditarik ke realitas bukan asal comot.


Gravatar Ara: Ara, Ara, Ara.. ck, ck, ck.. Jadi loe ngerasa menggebrak ya? Duh, padahal buat gw sih gebrakan loe nyenggol aja enggak

Coba, loe cari SATU aja kata "pencerahan/enlightment/aufklarung" di posting yang loe komentarin itu. Setahu gw sih gw nggak mengatakan gw dapat pencerahan Bahkan labelnya pun "Points to Ponder", bukan "Aufklarung"

Jadi.. speaking of dagelan, yang lagi dagelan siapa ya ? Kayaknya loe belibet sendiri sama pendapat loe sampai lupa memperhatikan fakta .

Dan sekaligus membuktikan pendapat gw bahwa: yang lebih penting adalah PEMROSESAN, bukan sumbernya Buktinya, loe pakai sumber nyata (= posting gw), tapi terjebak sama proses berpikir loe sendiri

Soal "Around the World in 80 days", gw gak komentar deh. Loe kan jago sejarah. Baca sendiri deh sejarah2nya . Loe akan menemukan orang2 yang terinspirasi oleh fiksi-yang-mengandung-kebenaran itu

Dan in case loe nggak "ngeh", bukankah dengan menuliskan apa yang gw dapat dari fiksi dalam blog ini, dikaitkan dengan pemikiran/perasaan gw terhadap fakta di sekeliling gw, pada hakikatnya gw sedang melakukan apa yang loe sebut sebagai: "menarik khayal ke realitas" ?


Gravatar wekekek wekekek ini tulisan siapa ya:
"ara: buat gw yang namanya insight, enlightment, pencerahan,.. itu adalah HASIL PEMROSESAN terhadap INFORMASI YANG KITA TERIMA . Apakah informasi itu dari fiksi, dari kenyataan.. it hardly matters
-may- | 02.19.08 - 10:21 am | # "

Terbukti pencerahan yang lo dapat bisa berasal dari informasi fiksi yang belum tentu benar. Apa sudah pasti lo selalu memproses informasi fiksi secara benar? Apa jaminannya bahwa lo selalu memproses informasi dari fiksi secara benar? Kalau sudah ada FAKTA buat apa mencari dari sesuatu yang belum tentu benar, itu pekerjaan yang sia sia. Kalau kita bisa mencari pencerahan dari fakta dan realitas buat apa mencari dari fiksi yang sudah pasti mengandung kebohongan?


Kembali mayanoto wrote: "Well, mungkin memang Hosseini-agha punya bakat untuk bikin sinetron seperti bapak2 di Multivision itu.. hehehe.. Tapi setidaknya, walaupun dipanjang2in, ceritanya begitu nyata dan insightful."


wekekek cerita fiksi yang dipanjang panjangin kok dibilang begitu nyata padahal palsu


Sejauh mana lo mengecek kebenaran cerita tersebut? Mana yang fakta dan mana yang bukan tidak dibahas sama sekali. Itu yang lo bilang menarik khayalan ke realitas? Perhatikan kalimat ini dan kesimpulan yang lo ambil:

"Yang tak kalah menariknya, adalah kata2 ayah Laila menyikapi pendudukan Rusia di Afghanistan:

“Women have always had it hard in this country, Laila, but they’re probably more free now, under the communists, and have more rights than they’ve ever had before” (hal. 121)"

data itu fiksi atau fakta? tidak dijelaskan tapi langsung disambung kesimpulan sbb:

Mayanoto wrote"Menarik bahwa ternyata di budaya yang berbeda, situasi yang berbeda, manusia yang berbeda, komunisme adalah sebuah berkah "


Gravatar ara: Uhm.. kalimat yang loe kutip itu dari "posting gw yang loe komentarin", atau dari "respons gw terhadap komentar loe bahwa Gue tidak melihat pencerahan apa apa dari FIKSI ini "

Gw sih cuma bilang di posting ini bahwa buku tsb insightful Boleh di-cek

Dan ya, gw dapat insight dari fiksi itu. So what? Apakah insight yang gw dapat dari fiksi itu PASTI salah karena sumbernya tidak nyata ? Jika menurut loe begitu, BUKTIKAN bahwa memang tidak ada di dunia nyata orang2 yg berpandangan seperti ayahnya Laila, bahwa apa yang diceritakan oleh Khaled Hosseini itu sama sekali tidak pernah terjadi di dunia nyata Sebab jika fiksi itu memang ada di dunia nyata, then you have no issue at all Ini sebenarnya fakta, hanya bentuk penceritaannya aja fiksi. Yang loe ributin cuma pepesan kosong nggak irrelevant

Kalau loe buang2 waktu gw lagi untuk membaca argumen loe yang nggak maju2 dari 3 thn lalu itu, terpaksa gw tagih biaya konsultasi lho


Gravatar Gue yang ngga maju maju atau elo sendiri yang ngga maju maju dalam membaca pemikiran orang Hanya berkutat pada pemikiran sendiri , males berpikir, males memahami pemikiran orang akhirnya menjadi manusia yang ngga berkembang disebabkan kesombongan diri Gengsi dan reputasi yang diutamain itu yang gue lihat terjadi pada diri lo, kesombongan lo melebihi PhD dari UK, orang yang Universitasnya masuk 10 besar terbaik di dunia aja ngga sesombong elo. Nah UI masuk peringkat berapa?


Gravatar ara: ya jelas loe yang nggak maju2 lah, Ra . Buktinya, dari jaman 3 thn yang lalu selaluuuu aja nggak bisa menangkap inti tulisan gw dengan baik Ngebahasnya selalu mbulet kemana2, dan kalau udah diingatkan lagi fokusnya gak bisa jawab. Kayak sekarang ini, begitu ditanyain lagi jadi sebenernya masalah loe apa, loe gak bisa jawab Bisanya cuma nuduh2 orang sombong, terus muter2 lagi ke peringkat universitas

Ohya, menurut gw sih sombong boleh, asal bisa menunjukkan bahwa dia pantas sombong

Dan waktu menjawab pertanyaan loe tentang "apakah orang seperti Fuad Hassan itu dilahirkan atau diciptakan" udah gw bilang bahwa di mana dia bersekolah (=nurture) bukan satu2nya faktor yang menentukan kualitas manusia Bisa aja sekolahnya cuma apa, tapi berkualitas; sementara bisa aja sekolahnya top rank, tapi kurang berkualitas. Baca lagi di sini deh, capek gw ngulang2 terus Ntar beneran gw tagih biaya konsultasi lho


Gravatar Sudah jelas lo yang ngga ngerti maksud gue, lo itu speed reading ya? Gue dari semula sudah menantang lo untuk menarik khayalan ke realitas. Kemukakan fakta fakta yang terjadi pada pendudukan Uni Soviet dan pemerintahan bonekanya di Afganistan serta masa masa sebelumnya yaitu pemerintahan monarki, serta fakta fakta pemerintahan mujahidin dan Taliban. Fakta secara keseluruhan bukan hanya dari sudut kebebasan berpakaian jadi kita mendapat pemahaman yang utuh. Lo malah berkutat nggak penting data darimana, ngga penting fiksi atau bukan. Kenapa lo nggak mau kita adu- aduan data?


Ada apa ini, mana menarik khayalan ke realitasnya kalau anda tidak mau membeberkan fakta yang sebenarnya terjadi dan hanya berkutat di cerita fiksi tersebut?


Gue nggak mau dengar masalah dinda, nak, dan masalah masalah pribadi lainnya lagi, juga masalah non teknis lainnya seperti ucapan ucapan lo ngga nggak berubah berubah dll . Gue minta lo beberkan data TEKNIS bukan embel embel ngga penting. TEKNIS berupa data dan fakta agar kita bisa tau kesimpulan yang lo ambil bahwa komunis adalah berkah itu benar apa nggak secara sejarah, sosial politik, ekonomi, ideologi.


Ini menguji cara berpikir lo bukan hanya sekedar membahas sebuah posting lo tentang fiksi yang ngga penting itu. Cara Berpikir dan fakta fakta nyata itu yang lebih penting daripada sekedar fiksi.


Kalo lo masih ngeles ketahuan bahwa lo nggak siap dengan data dan fakta yang asli. Jangan ngeles terus kerjanya ini bukan masalah menang kalah tapi menguak kebenaran catet itu baik baik.....


Gravatar ara: makanya gw dari awal bilang loe kayak kecelakaan pesawat: jauuuh dari landasannya

Ngapain gw harus mengemukakan fakta2 tentang pendudukan Uni Sovyet, Mujahidin, & Taliban? FOKUS TULISAN GW BUKAN DI SITU Gw emang cuma ngebahas bukunya Khaled Hosseini kok, yang memandang ketiga jaman pendudukan itu dari sudut kehidupan perempuan

Dan buat gw sih apa yang dituliskan dalam fiksi tersebut sudah menggambarkan kenyataan tentang kehidupan perempuan dalam ketiga jaman itu. Makanya.. kalau menurut loe itu "nggak benar" dan "nggak bisa disimpulkan", gw yang MENANTANG LOE UNTUK MEMBUKTIKAN DIMANA SALAHNYA Bukannya malah ngeributin apa yang emang gak gw bahas

Ngerti ?

*dan jelas loe emang gak berubah dari dulu, Nak. Selaluuuu out of focus, tapi nyalahin orang lain Speed reading ya ? Atau memang sulit memahami inti tulisan orang lain ?*


Gravatar ha ha ha HAri hari oMOng KOsong


Gravatar Setelah gue pikir pikir lo kayaknya perlu memoderasi comment yang masuk agar sesuai dengan yang lo inginkan deh. Jadi orang ngga bisa menyentuh hal hal yang tidak lo inginkan untuk disentuh, ngga kayak sekarang gue menyentuh kesimpulan yang lo ambil lo teriak jangan sentuh bagian itu, sentuh bagian intinya. Dulu juga begitu pas kasus Abu Dujana lo teriak teriak jangan permasalahkan data yang salah itu, itu bukan bagian inti, diujungnya akhirnya lo ngaku salah.


Sampai kapan terus begini?
Lo tidak mau memoderasi comment tapi ketika orang menyentuh bagian yang dia tertarik pada artikel lo, lo teriak teriak jangan sentuh bagian itu, itu bukan bagian inti. Lo mau mengontrol orang agar membahas sesuai yang lo inginkan, ketika orang membahas hal lain yang sebenarnya ada di artikel tersebut lo teriak jangan jangan itu bukan inti maksud gue.

Lo ingat kasus Intan yang mengomentari komentar gue, lihat bagaimana reaksi gue, gue tidak defensif seperti lo tapi gue mempersilahkan Intan mengemukakan pendapatnya karena gue tau setiap orang memandang tulisan menurut pandangan hidupnya. Gue tidak pernah bilang Intan lo tidak fokus, tidak bisa menangkap inti tulisan orang dll, gue dengan lapang hati mempersilahkan Intan mengemukakan pendapatnya dan gue hormat dengan orang orang seperti dia. Gue ingat petuah Pak Pram, ketika sebuah karya tulisan dipublikasikan ke publik maka karya itu bukan hanya milik sang author tapi juga milik pembacanya dan gue setuju dengan pendapat ini.


Gravatar ara: moderasi komentar, Ra? Nggak perlu ah Sebagai nyonya rumah yang baik, setiap komentar gw tanggapi. Kalau dikomentarin lagi, ya gw tanggapi lagi. Lama2 dari pertukaran argumen itu kelihatan kok masalahnya apa

Seperti sekarang ini, jelas kan.. siapa yang komentarnya out-of-focus ? Bukan sekedar nggak menyinggung bagian inti, tapi mengomentari hal yang TIDAK GW BAHAS . Kelihatan kan, siapa yang nggak bisa membuktikan apa yang jadi masalah dari posting gw ? Dan kelihatan kan, siapa yang cuma bisa maki2 dan nuduh2 ?

So, kalau ditanya sampai kapan, jawabannya: sampai LOE PUAS Biasanya sih orang lain kalau udah sampai di tahap ini sadar bahwa sudah dalam posisi skak-mat Tapi kalau loe masih usaha, ya sebagai nyonya rumah gw akan layani

Dan nggak usah nyebut2 omongan Barthes The Death of Author (kayaknya Barthes duluan deh yg ngomong, bukan Pramoedya ). Orang boleh menginterpretasikan apa saja, tapi.. bukan berarti harus memaksakan agar si penulis mengamini interpretasinya tersebut, seperti yang loe lakukan sekarang ini Loe gak bisa mengontrol gw (sebagai penulis) untuk mengamini pendapat loe, terlebih lagi ketika pendapat loe itu gak nyambung sama apa yang gw tulis

Terakhir... uhmm... dimana ya, gw teriak2 lantas ngaku salah ? Baca lagi deh di sini . Atau yang loe maksud di sequelnya? Di sini juga gak teriak2 lantas ngaku salah Dari awal gw terima kok kalau gw salah memilih SATU KATA, tapi itu tidak menganggu keseluruhan apa yang ingin gw sampaikan

*eh, ngomong2, di kedua kolom komentar itu, gw selalu nulis juga saran buat loe: F-O-K-U-S Jadi jelas kan, masalah loe dari dulu apa ?*


Gravatar Modus operandi mayanoto adalah
1. ngeles
2. membolak balik pernyataan penanya
3. mengangkat kasus lain untuk mengalihkan perhatian penanya dalam tulisan ini adalah mencoba mengangkat kasus FPI untuk memecah perhatian
4. Tidak mau menjawab pertanyaan tentang sesuatu yg terang- terangan ada di posting yaitu DARIMANA MENDAPAT KESIMPULAN SEPERTI YG TERTULIS DI POSTING. kesimpulan tersebut ada di posting jadi gue bukan membahas yg ngga ada, catet itu baik baik. Jangan sekali sekali melakukan kesalahan yg sama & sering lo ( mayanoto ) lakukan yaitu speed reading yg disengaja, patut diduga hal ini sebenarnya adalah upaya untuk belagak pilon berikut posting yang gue permasalahkan:

Mayanoto wrote Hmm.. sangat menarik. Selama ini gw dibesarkan dalam konsep bahwa komunis itu adalah sesuatu yang buruk. Nggak ada baik2nya. Gimana enggak.. hehehe.. gw kan angkatan yang masih dipaksa nonton film ”Janur Kuning” dan ”Pemberontakan G-30-S/PKI” setiap tahun Menarik bahwa ternyata di budaya yang berbeda, situasi yang berbeda, manusia yang berbeda, komunisme adalah sebuah berkah "

Mayanoto wrote lagi :"Tapi setidaknya, walaupun dipanjang2in, ceritanya begitu nyata dan insightful."


Darimana kesimpulan bahwa "ceritanya begitu nyata" ini didapat? Gue patut curiga karena lo selalu mengelak untuk menjelaskan darimana mendapat kesimpulan seperti yg tertulis di posting, jangan jangan seperti kasus di posting "Calon Pasien Lobotomy Keren dari Betawi " yang sudah terbukti & diakui sendiri oleh Mayanoto sebagai "pameran dugaan yg tidak dapat dibuktikan secara ilmiah oleh Mayanoto. Kasus ini juga sebenarnya mengarah kesitu, kesimpulan tersebut sebenarnya hanya dugaan yg tidak dapat dibuktikan, wajar gue berpendapat begitu karena Mayanoto melakukan aksi berputar putar, ngeles sambil melemparkan tuduhan gw ngga fokus dengan maksud mengalihkan perhatian dari masalah utama.

Hal yg dilakukan Mayanoto ini mirip dagelan ala Jojon


Gravatar ara: yakin pertanyaan loe yang itu, Ra ? Kok yang di sini pertanyaannya: "Gue dari semula sudah menantang lo untuk menarik khayalan ke realitas. Kemukakan fakta fakta yang terjadi pada pendudukan Uni Soviet dan pemerintahan bonekanya di Afganistan serta masa masa sebelumnya yaitu pemerintahan monarki, serta fakta fakta pemerintahan mujahidin dan Taliban. Fakta secara keseluruhan bukan hanya dari sudut kebebasan berpakaian jadi kita mendapat pemahaman yang utuh. Lo malah berkutat nggak penting data darimana, ngga penting fiksi atau bukan. Kenapa lo nggak mau kita adu- aduan data?"

Makanya F-O-K-U-S, pikir dulu apa yang mau loe tanyain sebenernya

Tapi OK deh, anggap saja yang mau loe tanyain adalah: "Darimana kesimpulan bahwa "ceritanya begitu nyata" ini didapat?"

Sebenernya ini gak perlu dipertanyakan kalau loe buka mata buka telinga tentang kehidupan perempuan Afghanistan. Pernah dengar The Plight of Afghan Women? Lagi rame dibicarakan di dunia internasional tuh Banyak literatur online-nya, seperti ini, ini, dan masih banyak lagi

Mau adu2an data? Bener nih loe berani ? Ntar paling2 kalo udah terpojok bisanya ngata2in gw lagi Emang loe lebih lucu daripada Tukul & Djodjon digabung sekaligus


Gravatar Inilah salah satu kelemahan lo dalam berpikir, tidak bisa mengkaitkan satu pernyataan dengan pernyataan lain menjadi sesuatu yg saling berhubungan & berkaitan, ingat otak itu berpikirnya koheren bukan terpecah pecah seperti yang lo pikir, kelemahan ini mengakibatkan lo dalam memandang suatu masalah selalu sepotong- sepotong.



Gue mengarahkan lo untuk membuat kesimpulan yg benar. Kesimpulan yg benar dibuat dengan menggunakan fakta- fakta yg ada dalam hal ini adalah realitas, terus gue bertanya darimana kesimpulan yg lo buat berasal apakah dari fiksi atau fakta? Kalau dari fiksi sudahkah diuji valid atau tidak? Bagaimana cara mengujinya? Gue jelaskan lagi cara mengujinya adalah dengan menarik khayalan ke realitas, selidiki bagaimana realitas sebenarnya.


Gue terus terang tergelitik sampai kegelian membaca reply dari lo yg model begini:

mayanoto wrote "ara: buat gw yang namanya insight, enlightment, pencerahan,.. itu adalah HASIL PEMROSESAN terhadap INFORMASI YANG KITA TERIMA . Apakah informasi itu dari fiksi, dari kenyataan.. it hardly matters"
-may- | 02.19.08 - 10:21
am | # "

Ini cara kerja yg bener bener lambat & tidak efisien, kalau sudah ada data & fakta dari realitas buat apa data & fakta yg dari fiksi kita pakai lagi? Jadinya kita kerja 2 kali harus memverifikasi lagi bener apa ngga data ini, belum kita harus memperhatikan subyektifitas pengarang yg mungkin hanya melihat dari satu sisi. Tidakkah ini seperti dagelan? Ada yg mudah tapi malah dipersulit dan dibikin berbelit- belit akhirnya jadi sembelit

Yang masih gue pertanyakan dan belum lo jawab sama sekali adalah :

Mayanoto wrote Hmm.. sangat menarik. Selama ini gw dibesarkan dalam konsep bahwa komunis itu adalah sesuatu yang buruk. Nggak ada baik2nya. Gimana enggak.. hehehe.. gw kan angkatan yang masih dipaksa nonton film ”Janur Kuning” dan ”Pemberontakan G-30-S/PKI” setiap tahun Menarik bahwa ternyata di budaya yang berbeda, situasi yang berbeda, manusia yang berbeda, komunisme adalah sebuah berkah "


Darimana kesimpulan itu didapat dari fiksi atau fakta? KALAU DARI FAKTA KENAPA BERTENTANG DENGAN REALITA? silahkan lihat link berikut:
http://en.wikipedia.org/wiki/ Sov..._in_Afghanistan

Berkah apa yg didapat kalau ratusan ribu bahkan mungkin jutaan orang Afganistan baik Mujahidin maupun sipil meninggal, cacat seumur hidup, hilang, disiksa dan jutaan lainnya harus mengungsi, kehilangan tempat tinggal, kehilangan mata pencarian, terlunta- lunta di negara orang akibat pendudukan yg dilakukan Uni Soviet. Mana berkahnya?

Korban- korban pendudukan Uni Soviet itu juga wanita yang kehilangan nyawa, orang tua, suami, adik, kakak, kekasih, anggota tubuh cacat seumur hidup dan mereka banyak juga yg mengungsi terlunta lunta, hidup susah. Masihkah dapat dilihat bahwa pendudukan Uni Soviet adalah berkah untuk wanita?


Gravatar ara: loe pernah dengar yang namanya TRIANGULASI ? Kalau dari komentar loe sih kelihatannya nggak pernah ya Makanya loe masih ribut dengan menguji validasi fiksi ke dalam data nyata Dan makanya loe nggak ngerti kenapa gw bilang "hasil pemrosesan terhadap informasi, regardless datanya masuk dalam bentuk fiksi atau data nyata"

Belajar dulu deh Kalau cuma segini kemampuan loe adu data, namanya loe buang2 waktu gw

Ya kalau loe mau kerja 2x, itu sih urusan loe. Kan udah gw bilang loe emang gak mampu menarik insight, enlightment, atau apa pun, kecuali kalau loe ditabokin... HAHAHAHA.. Soalnya buat loe semuanya harus nyata, loe alami secara sensoris, tak perduli bahwa pengalaman sensoris loe itu mungkin terbatas

Dan makanya loe menanyakan KALAU DARI FAKTA KENAPA BERTENTANG DENGAN REALITA? Karena cara pandang loe selalu liner, satu arah, satu aspek. Makanya, buat loe gak kebayang bahwa walaupun PADA ASPEK kehilangan nyawa orang terkasih hal itu musibah buat wanita, maka PADA ASPEK lain seperti pendidikan & kebebasan hal yang sama bisa menjadi berkah buat wanita yang sama.

Hampir semua hal di dunia ini bisa dilihat 2 sisi oleh orang yang sama Sesuatu yang menjadi berkah bisa jadi juga menjadi bencana bagi orang yang sama, TERGANTUNG DILIHAT DARI SUDUT APA OLEH ORANG TERSEBUT

Gak bisa membuktikan bahwa TIDAK ADA wanita yang merasa hidupnya lebih nikmat dalam pendudukan Sovyet ya ? Atau udah sempat baca2 seluruh literatur tentang Plight of the Afghan Women itu sehingga menemukan FAKTA bahwa apa yang Hosseini tulis (dan gw bahas) ternyata sejalan dengan REALITA ?

Atau... simply merasa malu untuk mengakui cacat pikir loe sendiri ?


Gravatar Sekarang gue tanya sama lo, definisi berkah menurut lo apa? Kembali ke sejarah, sebelum Uni Soviet masuk apakah wanita Afganistan dilarang sekolah dan kebebasan dikekang ( harus pakai burqa ) sehingga lo menyimpulkan kedatangan Uni Soviet dengan tujuan membebaskan wanita afganistan yang ngga boleh sekolah?

Inilah gue dari dulu sudah sarankan jangan memaksakan membalas comment yg diluar kompetensi lo akhirnya berubah jadi eyel eyelan ngga jelas, berputar putar nggak keruan setelah di desak desak baru mengeluarkan data data, kenapa nggak dari awal lo keluarkan gue sudah menantang dari awal kok, atau lo baru nyari datanya setelah gue tantang?

Kalau lo tidak bisa membuktikan bahwa ada wanita / ortu yang merasakan mendapat berkah dari pendudukan UNi Soviet ya lebih baik menunda pengambilan kesimpulan sampai ditemukan fakta, buat apa mengambil kesimpulan dari fiksi yg sudah jelas adalah khayalan?

Gue tanya sekarang sama lo apa mungkin kebenaran bertentangan dengan kebenaran? Sudah jelas dan terbukti nyata yang terjadi adalah SDSB ( Soviet Dalang Segala Bencana) dalam konteks Perang Afganistan, nah elo malah mengambil kesimpulan yg lo dapatkan dari fiksi bahwa komunis ( baca Uni Soviet ) adalah berkah.


Gravatar ara: uhmm... dasar dari KESIMPULAN LOE "sehingga lo menyimpulkan kedatangan Uni Soviet dengan tujuan membebaskan wanita afganistan yang ngga boleh sekolah?" ini apa ya? Gw nggak pernah bilang (apalagi menyimpulkan) bahwa Uni Sovyet adalah juru selamat yang datang untuk membebaskan para wanita Afghan Emang loe pikir Uni Sovyet itu "messiah" apa yaks

Gw cuma bilang bahwa "Menarik bahwa ternyata di budaya yang berbeda, situasi yang berbeda, manusia yang berbeda, komunisme adalah sebuah berkah " Dan berkah bisa saja baru disadari setelah hilang, karena orang seringkali take it for granted terhadap apa yang didapatkannya

Kebenaran memang tidak bertentangan dengan kebenaran. Tapi PERSEPSI tentang kebenaran SANGAT BISA bertentangan dengan persepsi tentang kebenaran yang lain . Jadi jangan sok merasa persepsi loe adalah kebenaran sejati deh. Kalau memang kebenaran kan dilihat dari sudut mana pun akan benar, nggak kayak pendapat loe yang muter2 gak karuan penuh tuduhan yang ternyata sangat gampang gw tangkis

Dan bicara soal bukti, sudah dibaca belum tautan2 yg gw kasih? Sampai tuntas? Setidaknya ada beberapa cerita wanita Afghan yang menjadi buktinya di situ Tapi kalau loe masih ngeyel, ya silakan aja. Emang mungkin kompetensi loe cuma segitu, mosok mau gw paksa untuk mengerti


Gravatar Nah ini dia !!!! Terjadi lagi dagelan, sekarang dagelan ala bolot. Saya menanyakan apa definisi berkah menurut anda, anda tidak menjawab.

Anda ini tau sejarah Afganistan ngga sih? Kalau belum tau ada baiknya belajar dengan saya sehingga tidak menyimpulkan secara serampangan. Kebebasan dan pendidikan modern terhadap wanita Afganistan itu terjadi sejak pemerintahan Mohammed Zahir Shah ( 1933- 1973) dengan konstitusi baru tahun 1964 yang memberi kebebasan dan pendidikan kepada wanita. Jadi seharusnya yang disebut berkah itu pemerintahan Raja Mohammed Zahir Shah bukan komunis. Catet itu baik- baik ya jangan sampai salah lagi.


kesimpulan mayanoto sbb:
Mayanoto wrote : "Gw cuma bilang bahwa "Menarik bahwa ternyata di budaya yang berbeda, situasi yang berbeda, manusia yang berbeda, komunisme adalah sebuah berkah " Dan berkah bisa saja baru disadari setelah hilang, karena orang seringkali take it for granted terhadap apa yang didapatkannya "

Kesimpulan mayanoto di atas menurut fakta sejarah adalah salah, karena kebebasan dan pendidikan tinggi untuk wanita Afganistan sudah ada sejak pemerintahan Raja Zahir Shah ( 1933-1973) yg dilanjutkan oleh sepupunya, Mohammed Daoud Khan( 1973-1979 ). Jadi Uni Soviet tidak punya andil apa apa terhadap kebebasan dan pendidikan wanita Afganistan karena memang sebelum kedatangan Uni Soviet (1979 ) wanita Afganistan sudah mendapatkan pendidikan dan kebebasan.

Anda harus menghapus atau mengganti kesimpulan yg anda buat tersebut karena tidak sesuai dengan fakta sejarah.


Gravatar ara: nah.. ini pameran kecacatpikiran Aramichi yang luar biasa

Baca komentar gw buat Zilko ini: "Secara, sebenernya sebelum Taliban berkuasa tuh di kota besar Afghanistan (Kabul) sebenarnya udah gak terlalu beda sama Jakarta.

Gw UDAH TAHU bahwa sebelum pendudukan Uni Sovyet, para wanita Afghan (terutama di kota2 besar seperti Kabul) sudah mendapatkan kesempatan pendidikan.

Sekali lagi gw ingatkan bahwa gw menulis tentang BUKU ini, terutama tokohnya, Laila yang LAHIR pada pendudukan Uni Sovyet. Maka.. ketika gw bicara tentang "Menarik bahwa ternyata di budaya yang berbeda, situasi yang berbeda, manusia yang berbeda, komunisme adalah sebuah berkah", ITU HARUS DILETAKKAN PADA KONTEKS LAILA, YAITU PEREMPUAN YANG HIDUP DI JAMAN UNI SOVYET - TALIBAN .

Orang yang kemudian meletakkan tulisan gw pada konteks sejarah keseluruhan Afghanistan, well.. jelas orang itu tidak bisa mengambil inti tulisan dengan benar

Berkah, itu selalu dilihat secara individu. Kalau orang belum lahir ketika masa monarki Afghanistan, dan hanya merasakan masa Uni Sovyet - Taliban, apakah ia akan menilai kehidupannya (berkah & ketidakberkahan) dari konteks sejarah ?

Jadi.. tidak ada yang harus gw hapus/ganti . Justru LOE YANG HARUS BELAJAR BANYAK tentang meletakkan segala sesuatu dalam konteksnya

Udah, Ra, puas? Atau perlu gw nista2kan lebih lanjut


Gravatar Nah ini dia!!! Untuk KEDUA kalinya terjadi dagelan ala Bolot. Saya menanyakan apa definisi berkah menurut anda?( ini pertanyaan gue yg ketiga kalinya ) Kenapa anda tidak mau menjawab pertanyaan ini ada apa ini? Apakah ada yg disembunyikan atau ada ketakutan ketakutan tertentu sehingga anda tidak mau menjawab?

Perhatikan kutipan berikut:
Mayanoto wrote:
"Yang tak kalah menariknya, adalah kata2 ayah Laila menyikapi pendudukan Rusia di Afghanistan:

“Women have always had it hard in this country, Laila, but they’re probably more free now, under the communists, and have more rights than they’ve ever had before” (hal. 121)

Hmm.. sangat menarik. Selama ini gw dibesarkan dalam konsep bahwa komunis itu adalah sesuatu yang buruk. Nggak ada baik2nya. Gimana enggak.. hehehe.. gw kan angkatan yang masih dipaksa nonton film ”Janur Kuning” dan ”Pemberontakan G-30-S/PKI” setiap tahun Menarik bahwa ternyata di budaya yang berbeda, situasi yang berbeda, manusia yang berbeda, komunisme adalah sebuah berkah "

Lo mengambil kesimpulan dari kata- kata AYAH LAILA. Terus lo menuduh gue salah mengambil konteks? Ini dagelan atau apa sih, ngeyel sana sini membela diri pakai ngomong dalam konteks Laila segala padahal di situ sudah jelas pendapat AYAHNYA LAILA yang kemudian lo sambung dengan kesimpulan. Ini persis dagelan ala Komeng.

Makanya mikir dan baca dulu sebelum melakukan pembelaan diri

Perjalanan diskusi kita masih panjang, jangan kabur lo !!!!! Nanti gue sambung minggu depan, hari Senin.


Gravatar ara: Nah, kan, ini modus operandinya Ara: bukannya introspeksi kalau argumennya berhasil ditangkis, malah nuduh2 gak karuan Ketika ceracauannya tentang "mengambil insight" dari fiksi ditangkis, lari ke "death of author". Ketika pemahamannya tentang death of author ditangkis, lari ke "sejarah yang memang tidak dibahas". Ketika sejarah ditangkis dengan konteks, lari ke definisi berkah

Yang ngomong memang Ayah Laila, tapi KONTEKSNYA adalah hidup Laila, bukan ? Pada saat membaca kata2 ayah Laila itu, coba tempatkan diri loe sebagai Laila. Apakah bukan kemudian Laila bisa melihat pendudukan Rusia sebagai berkah, apalagi setelah mengalami masa sulit dgn Taliban ?

Eh, sebenernya, loe ngerti nggak sih artinya "konteks" ? Konteks itu semacam sangkutan dimana loe harus mengaitkan berbagai hal (termasuk kata2 dari orang yang berbeda2) untuk menarik kesimpulan . Ini yang menghindarkan kita dari logical fallacy akibat mengambil kesimpulan dari SEPOTONG KALIMAT SAJA seperti yang loe lakukan ini

Sudah cukup? Atau masih kurang nista dirimu ?

BTW, untuk membantu loe memahami konteks, coba perhatikan judulnya: INQILABI GIRL. Dan beberapa kali gw sudah tuliskan juga bahwa yg menarik dari sini buat gw adalah hidupnya Laila. So.. everything in this entry is about Laila, walaupun untuk memahami Laila harus melihat juga interaksi dgn orang di sekitarnya So, entry ini memang bukan tentang sejarah Afghanistan. Camkan ini dulu di kepala loe, daripada loe buang2 waktu gw terus. Sebagai nyonya rumah, gak sopan kalo gw gak meladeni tamu. Tapi, kalau tamu ngelunjak kayak loe (marah2, nuduh2, nuntut2, sementara jelas si tamu tulalit dgn pikirannya sendiri), bosen juga gw ngeladeninya. Habisss... gw mesti ngulang2 hal yang sama terus


Gravatar Anda beruntung keberangkatan gue ditunda jadi bisa langsung gue bahas.

Jadi benarkan kesimpulan anda buat didapat dari fiksi. Bilang saja terus terang kesimpulan yg lo buat didapat dari fiksi dan bukan kenyataan, ini malah muter muter ngelak sana sini akhirnya ngaku bahwa kesimpulan yg lo buat hanya berasal dari fiksi ini.


Kenapa harus komunis yg berkah? Kenapa tidak pemerintahan Mujahidin (1992-1996) yang berkah? Ingat sejak 1979 secara de facto sebagian besar wilayah Afganistan dikuasai Mujahidin, hanya di perkotaan yg dapat dikontrol komunis. Dan jangan lupa di jaman Mujahidin kebebasan wanita dijamin dan wanita tetap bisa sekolah. Penutupan sekolah wanita baru terjadi ketika Taliban berkuasa tahun 1996 termasuk penutupan Universitas Kabul.

Jadi kesimpulan lo gue tolak, yang berkah itu pemerintahan Sahir Shah dan kalau dalam konteks Laila pemerintahan Mujahidin, bukan komunis. Gue tanya sama lo lebih baik mana rezim Mujahidin yg memberikan kebebasan dan pendidikan atau rezim komunis yg di dukung soviet yang membantai, ngebom sana sini, mengakibatkan kematian, kecacatan, pengungsian dll.

Gue lihat lo ini ngga mau melihat kenyataan, kenapa lo nggak mau melihat kenyataan? Lo hidup di realita apa di alam fiksi? Ketika gue mengajak melihat realita lo menolak dan malah kekeh berpegang di alam fiksi yang bukan tidak mungkin terdapat unsur propaganda ideologi tertentu.

Itu terserah lo sih kalo masih mengambil kesimpulan secara campur aduk antara fiksi dan kenyataan tapi menurut gue kesimpulan model begitu salah. Sangat gampang memanipulasi orang orang seperti lo ini yang tidak mau melihat sejarah sebagai acuan tapi hanya berpegang kepada fiksi yg faktanya belum tentu benar. Gue menolak mengambil kesimpulan dari fiksi.

Silahkan lo ngomongin dunia khayal sementara gue akan ngomongin realita dengan maksud untuk memberitahukan fakta sebenarnya. Comments gue sebenarnya untuk pembaca blog lo, bukan buat lo.

Wong maksud gue sebagi penyeimbang kok agar pembaca blog lo mendapat pengetahuan tentang realita sebenarnya dan bukan hanya manggut- manggut ketika disodori kesimpulan Komunis adalah berkah


Gravatar ara: loe beruntung gw masih online, jadi bisa langsung gw tanggapi

1. Dari awal gw sudah bilang bahwa dalam pengambilan keputusan, it's the process that matters. Fiksi atau fakta, it hardly matters Baca lagi dari awal seluruh tanggapan gw sebelum nuduh bahwa gw mengelak kesana-kemari Sebaliknya, justru loe yang mengelak memberikan bukti bahwa fiksi ini tidak sebanding dengan kenyataan (=tidak ada manusia di Afghanistan sana yang seperti diceritakan dalam fiksi ini)

2. Kenapa harus komunis yang berkah, bukan Mujahidin? Seperti sudah gw jelaskan: KONTEKS-nya adalah tokoh LAILA dalam cerita ini, bukan orang lain, apalagi loe :lo: Baca bukunya deh untuk mengetahui bagaimana kondisi Laila & keluarganya dalam masa Mujahidin. Kalau loe gak sanggup baca yang bahasa Inggris, baca yang terjemahan aja

3. Mana yang lebih baik antara pemerintahan Uni Sovyet atau Mujahidin? Hmm.. konteksnya pendapat siapa ? Loe pikir setelah Mujahidin berkuasa Afghanistan nggak penuh pembantaian, pengeboman, dll? Katanya loe ahli sejarah, berpegang pada fakta... hehehe.. tapi gak tahu bahwa faksi2 Mujahidin juga berperang dan mengakibatkan kondisi yang sama

4. Loe mau jadi penyeimbang? Boleeeeh... Tapi untuk jadi penyeimbang yang baik loe mesti tahu banyak hal. Lha, ini fakta chaos dalam masa Mujahidin aja nggak tahu, kok mau jadi penyeimbang

5. Respons gw terhadap komentar loe juga lebih ditujukan untuk pembaca blog, bukan buat loe Supaya mereka bisa belajar juga dari bolong2 logika dan bolong2 fakta yang loe pertontonkan Loe sih kayaknya udah gak tertolong lagi.. HAHAHAHA..


Gravatar ada semacam kepuasan tersendiri ketika Miriam membunuh suami mereka berdua

btw, satu kata aja yg terlintas pas selesai baca buku ini, gw bersyukur jadi perempuan Indonesia, bukan perempuan di bawah rezim Thaliban


Gravatar Lia: setuju banget Kalau gw di bawah rezim Taliban, mungkin gw udah bunuh diri atau dibunuh Taliban


Gravatar Sekarang gue tanya banyakan mana korban akibat konflik Mujahidin atau pendudukan Uni Soviet?

Soviet itu membunuh hampir 1 juta orang, persenjataanya modern jadi kalau sekali ngebom korbannya ratusan nyawa, belum yang cacat seumur hidup. Ini dulu yang lo harus jawab. Mana rezim yg lebih berlumuran darah rakyat Afganistan? Sudah jelas Uni Soviet, ngga perduli kombatan atau bukan dijatuhi bom sama dengan Israel. Bahkan kadang kadang IDF lebih baik dari Uni Soviet, sebelum ngebom kasih peringatan dulu supaya warga sipil Palestina menyingkir.

Konflik Mujahidin adalah konflik antara kombatan jadi korbannya jauh lebih sedikit dari Uni Soviet. Karena Uni Soviet tidak bisa membedakan mana sipil mana kombatan semua dijatuhi bom, diratakan dengan tanah. Ini yg lo bilang lebih baik? Belajar sejarah dulu sebelum ngomong sama gue.


Gravatar ara: Oh, jadi sekarang loe mereduksi "mana yang lebih baik" dengan sekedar angka statistik ? Bahwa kalau angka statistik lebih rendah pasti lebih baik? As simple as that? Belanda menjajah Indonesia 350thn, Jepang cuma 3,5thn. Mana yang lebih baik ?

Belajar menempatkan fakta dalam konteks dulu, baru coba2 ngeyel Jangan ngeyelnya aja diumbar

BTW, sebenernya loe lagi nyanyi apa sih? "Hard to Say I Surrender" atau "Surrender seems to be the Hardest Word" ?


Gravatar Lah fakta dan konteksnya aja ada di fiksi apanya yg mau ditempatkan? Sorry bukannya gue sombong dengan menolak membaca buku yg lo anjurkan, tapi gue nggak tertarik belajar sejarah dari fiksi seperti yang lo lakukan.

Coba lo perhatikan fiksi itu, indikasinya sudah begitu nyata ada upaya membentuk opini publik dengan mengarahkan opini pembaca ke sudut pandang tertentu. Kenapa dialognya seperti itu, kenapa sudut pandang yg dipilih seperti itu, ada apa ini? Kenapa komunis yg dibuat sebagai tolak ukur kenapa tidak Amerika yg menumbangkan rezim Taliban yg dijadikan tolak ukur, kenapa bukan Rezim Burhanuddin Rabbani ? Gue sebagai orang yg kritis tidak bisa menerima hal hal seperti ini begitu saja.

Lo pernah dengar Cinderella Complex? Tanpa kita sadari fiksi dan kapitalisme telah membentuk
konsep ideal yang pada akhirnya mempengaruhi cara kita memandang sesuatu hal dan otomatis akan mempengaruhi cara kita mengambil keputusan yang pada akhirnya mempengaruhi perilaku.


fiksi yg terus diulang- ulang dengan bermacam macam versi akhirnya tanpa sadar membentuk konsep ideal dan ketika dia bertemu dengan realitas terjadi crash muncul masalah masalah sosial. Saya ingatkan repetisi bukan hanya bisa memandulkan kepekaan tapi juga bisa membentuk konsep ideal yg kita anut tanpa kita sadari


Gravatar ara: Ya udah, kalau begitu loe baca tulisannya Ignas Kleden aja "Fakta & Fiksi tentang Fakta & Fiksi: Imajinasi dalam Sastra & Ilmu-ilmu Sosial". Itu ada dalam buku berjudul Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan.

Atau baca artikel Esai Sastra di Kompas edisi Sabtu, 1 Maret lalu. Versi onlinenya di sini.

Kalau loe sudah bisa mengerti bagaimana letak fakta dalam fiksi, baru loe komentar lagi. Soalnya, nggak bakal nyambung juga kalo loe ngomentarinnya dalam konteks jurnalisme.

Jurnalisme & fiksi sama2 mengandung fakta, namun meletakkannya berbeda. Dan selama loe gak bisa ngerti ada fakta dalam fiksi, percuma juga loe komentar sampai berbusa2 di sini.. komentar loe tetap nggak nyambung

Menjadi orang kritis itu tidak cukup hanya dengan berani bicara. Tapi melingkupi berani menunjukkan bila ada sesuatu yang tidak tepat. Untuk itu, seorang kritis harus memahami konteks hal yang ingin dikritisinya. Kalau dia tidak tahu, hanya berbekal pemikirannya sendiri, namanya bukan kritis dong.. tapi kepo

Satu lagi.. dari komentar loe tentang Cinderella Complex, kelihatan banget loe belum pernah baca bukunya ya ? Loe nggak tahu ya, bahwa Cinderella Complex adalah penamaan gejala sosial karena mirip dengan kisah Cinderella, bukan gejala yang terbentuk karena ada cerita Cinderella


Gravatar Loh dari awal memang gue sudah menolak membahas dari sudut fiksi kok perhatikan baik- baik alur pemikiran gue, anda membahas fiksi saya alihkan ke realita begitu terus menerus. Gue lebih tertarik membahas dari sudut realitas untuk mencegah muncul persepsi yg salah pada pembaca blog lo.

Dari awal sudah saya peringatkan untuk tidak memaksakan membalas semua komentar yang masuk. Jadi kalau lo merasa terganggu apalagi tersiksa seperti curhat lo kepada Bung PJ berikut ini:

Mayanoto wrote:
PJ:I'd rather call it "Hotel California", dear! Such a lovely place, [where] you can check out anytime you like, but you can never leave .. and.. it could be heaven or it could be hell
-may- | 11.15.07 - 10:49 am | #

Itu adalah bukan kesalahan saya ( kalau anda merasa tersiksa ) karena dari awal saya sudah memperingatkan. Saya sadar ini mungkin akan mengganggu ketenangan anda makanya saya sudah peringatkan malah saya dengan baik hati sudah menyarankan anda melakukan moderasi agar comments nyeleneh dan OOT dari saya bisa dikontrol tapi anda menolak melakukannya ya sudah, bukan saya yg menjebak anda dalam masalah ini.

Masalah cinderella complex saya sudah mengerti tapi menurut saya bukan tidak mungkin repetisi terhadap fiksi ini yg dilakukan dalam berbagai versi mempengaruhi persepsi masyarakat dalam memandang hubungan pria dan wanita


Gravatar ara: gw ulang lagi ya respons pertama gw terhadap komentar pertama loe:

--------

Ara: Yang lainnya gak gw respons ya, soalnya komentar loe kayak pesawat kecelakaan: jatuhnya jauuuuh dari landasannya

-may- | 02.18.08 - 11:57 am | #

------

Gw gak ngerespons karena udah lihat bahwa loe bukan ngomentarin tulisan gw, tapi bikin tulisan baru Terus... siapa yang nyolot dan komentar lagi pakai nanya2 segala ? Emangnya gw ?

Jadi jangan memutarbalikkan fakta deh Ad hominem loe

Kalau loe orang yang kritis, mestinya loe melihat dari konteks gw, lantas mengomentari apa yang loe lihat bolong dari situ. Bukannya malah melihat dari sisi yang memang tidak gw bahas Itu sih namanya bikin tulisan baru Kalau mau begitu, tulis aja di blog loe sendiri, jangan "numpang tenar" di comment box gw

Dan.. soal curhat.. aduuuh.. belajar bahasa Inggris deh Itu kan deskripsi tentang makna blog gw buat para pengunjung, bukan curhat gw

Terakhir... Cinderella Complex itu tidak ada hubungannya dengan repetisi fiksi, apalagi hubungan wanita-pria Baca lagi bukunya yang benar, jangan sambil merem


Gravatar Sudah jelas komentar gue ada tujuannya yaitu untuk menyadarkan pembaca blog agar kritis terhadap apa yg lo tulis, jangan langsung percaya dan mengamini apa yang ditulis mayanoto tanpa melakukan pengecekan fakta dan datanya karena kesimpulan yang diambilnya ternyata dari fiksi. Masa penjahat perang mau dijadikan pahlawan malah dibilang berkah segala, kata kata berkah terlalu mulia untuk penjahat perang seperti Uni Soviet dan rezim bonekanya di Afganistan.


Gue menyadarkan pembaca blog lo bahwa masih banyak rezim yg lebih baik dari Uni Soviet dan komunis dalam konteks Afganistan yaitu Rezim Zahir Shah dan rezim Burhanuddin Rabbani. Sekaligus memberi tahu adanya kemungkinan subyektifitas dalam penulisan fiksi tersebut, gue lihat adanya upaya untuk membentuk opini publik karena hanya memandang dari sudut tertentu yang dia kehendaki.


Mengenai curhat, jadi elo ya yang menentukan makna blog lo buat para pengunjung bukannya pengunjung sendiri yang menentukan maknanya? Sejak kapan begitu, Pemilik blog menentukan makna blognya buat para pengunjungnya? Ini lelucon namanya, bilang saja itu sebenarnya curhat colongan pakai mengatasnamakan pengunjung blog lo lagi


Mengenai Cinderella Complex, lo pikir ilmu sosial itu ilmu pasti apa? Ilmu pasti saja terbuka terhadap teori -teori baru apalagi ilmu yang nggak jelas seperti ilmu sosial harusnya lebih terbuka lagi dalam menerima ide ide baru yang segar.


Setiap orang berhak membuat hipotesanya sendiri dalam ilmu sosial.
Menurut gue cerita fiksi yang direpetisi dapat mempengaruhi pemikiran seseorang karena dapat membentuk konsep ideal secara tanpa sadar. Lo lihat Cinderella begitu banyak variannya seperti Pretty Woman dll. Bisa terjadi hal tersebut tertanam di benak perempuan, hanya mengharapkan datangnya sang pangeran tanpa mau berusaha sendiri. Jadi kebahagian itu datangnya dari luar yaitu dari laki laki yang kaya, tampan, pintar ( seperti aramichi gitu loh (becanda biar ngga tegang ) ) yang datang untuk menolong sang perempuan . Bagaimana dengan realita? Realita tidak seindah fiksi karangan para pujangga camkan itu !!!!!


Gravatar ara: dimana2, sebelum menyadarkan orang, seseorang itu harus sadar diri dulu . Darimana loe menyimpulkan bahwa pembaca blog gw mengamini pendapat gw ?Loe sedang merendahkan intelegensi para pembaca blog gw, menganggap mereka semua bodoh, atau ini gejala waham seseorang yang merasa dirinya messiah yang harus menyelamatkan mereka dari kesesatan ?

Kalau pembaca blog gw setuju pada apa yang gw tuliskan, mungkin karena mereka (seperti juga gw) melihat kedekatan antara fakta & fiksi. Karena mereka orang2 yang kritis, yang bisa meletakkan tulisan pada konteksnya, yang tahu bagaimana cara membaca sebuah teks sastra, yang tidak main hantam kromo bahwa kita tidak bisa belajar dari teks sastra HANYA karena itu adalah fiksi

Coba aja cek sama orang2 lain yang komentar. Tanya satu2 kepada mereka: apakah mereka segitu bodohnya mengamini kata2 gw, atau mereka juga melihat apa yang gw lihat (yang, ironisnya, tidak bisa loe lihat ). Jadi.. kumpulkan data dulu, fakta dulu, BARU loe bicara tentang menyadarkan orang lain. Jangan sampai ternyata loe yang butuh disadarkan oleh orang lain

Mengenai ad hominem loe tentang "curhat" itu gak gw bahas. Out of focus, melebar kemana2, ada indikasi loe bahkan nggak ngerti terjemahannya, dan yang jelas loe mengabaikan kaitan dengan komentar sebelumnya .

Cinderella Complex juga gak gw bahas, karena jelas loe gak ngerti definisi istilah itu. Kalau loe tertarik, baca aja di sini Ilmu sosial memang bukan ilmu eksakta. Tapi.. membuat definisi baru dari sebuah definisi baku juga ada aturannya. Bukan lantas semua orang boleh seenaknya mengubah definisi

Udah ya, Ra. Kalau mau diterusin, gw harap loe punya argumen yang lebih bermutu. Bukan sekedar ad hominem dan melebar kemana2 kayak layangan putus ditiup angin


Gravatar Nah lagi lagi membuat kesimpulan dari yg tidak saya tulis, bagian mana yg saya mengatakan begitu? Itu adalah kesimpulan anda sendiri. Inilah apa apa diwarnai prasangka jadinya selalu negatif saja. Saya hanya ingin mengingatkan ini loh fakta fakta sebenarnya. Jangan terlena dengan fiksi, inilah fakta aslinya.

Bagi yang sudah tau bagus bagi yg belum tau bisa menjadi tambahan pengetahuan, apa salah? Ngga semua orang punya waktu dan akses untuk mempelajari masalah Afganistan, kalau anda sudah tau ya bagus berarti tulisan saya bukan untuk anda.

Yang sering melakukan ad hominem adalah anda yang diserang selalu pribadi bukannya pemikiran, ucapan nak, belajar dulu sana dll. Ketika diajak bertukar data kewalahan dan berlindung dibalik lo nggak fokus, bukan itu pokok permasalahan gue dll sadar nggak lo? Yg saya pertanyakan kok lo dengan jumawanya bisa mengetahui
makna blog lo buat para pengunjung lo, emangnya lo udah nanya satu satu apa? Coba sebutkan siapa itu yg memaknai blog lo seperti itu? Itu pendapat lo sendirikan? dan jangan lupa PJ itu ngomongnya" forum " dan yg dia maksud itu comment box lo ini.


Mengenai Cinderella complex saya sudah mengerti dan saya mengajukan hipotesa baru nah masalah lo nggak setuju dengan hipotesa gue bukan urusan gue, saya tetap berkeyakinan sebaliknya.


Gravatar ara: Kalau cuma mau menambah pengetahuan orang yang belum tahu tentang sejarah Afghanistan, mosok ngomonnya "untuk menyadarkan pembaca blog agar kritis terhadap apa yg lo tulis, jangan langsung percaya dan mengamini apa yang ditulis mayanoto tanpa melakukan pengecekan fakta dan datanya karena kesimpulan yang diambilnya ternyata dari fiksi"

Kata "untuk menyadarkan" berarti loe menganggap bahwa yang baca "nggak sadar" sehingga perlu "disadarkan" dong ?

Dan "hanya ingin mengingatkan ini loh fakta fakta sebenarnya. Jangan terlena dengan fiksi, inilah fakta aslinya"?

Fakta apa? Sejauh yang bisa kita baca di comment box ini (tidak ada satu pun kata2 loe yang gw delete), sampai sekarang loe belum berhasil membuktikan bahwa apa yang gw tulis tidak benar: bahwa untuk sebagian wanita, Uni Sovyet lebih baik daripada Mujahiddin, apalagi Taliban Justru gw yang sudah memberikan tautan bukti pada berita2 Plight of Afghan Women, yang bisa membuktikan bahwa wanita2 yang berpandangan seperti Laila itu ADA. Bukan cuma mengada2 seperti tuduhan loe

Kalau gw bilang loe gak fokus, itu bukan ad hominem. Itu FAKTA Baca tautan bukti gw tentang cara membaca teks sastra - dimana kalau ada orang yang membaca tentang bahasan sastra lalu melihatnya dengan kerangka jurnalistik, itu berarti tidak fokus

Bandingkan dengan tuduhan2 loe tentang "modus operandi", "kewalahan", dll. FYI, gw belum pernah kewalahan menjawab komentar2 loe Selalu bisa gw kasih tautan bukti kan ?

Soal tuduhan curhat loe itu, hmm.. loe ngerti positioning nggak? Itu positioning blog gw menurut gw Perkara kemudian consumers punya positioning berbeda, itu perkara lain. Yang jelas, itu bukan curhatan gw, tapi positioning yang gw rancang untuk blog gw

Dan Cinderella Complex, kalau loe memang ngerti dan "cuma" bikin hipotesa baru, loe gak akan nulis "Lo pernah dengar Cinderella Complex? Tanpa kita sadari fiksi dan kapitalisme telah membentuk
konsep ideal yang pada akhirnya mempengaruhi cara kita memandang sesuatu hal.. fiksi yg terus diulang- ulang dengan bermacam macam versi akhirnya tanpa sadar membentuk konsep ideal "


Cukup banyak kan, bukti yang bisa gw berikan ? Bukan sekedar ad hominem seperti yang loe lakukan ?


Gravatar Sebenarnya ini hanya sepele, kalau mau membahas fiksi silahkan membahas fiksi, gue belum sekonyol orang yg membahas dan menuntut kebenaran fiksi agar sesuai dengan realitas seperti ada orang ( oknum tertentu yg GJ ) yg mencak- mencak ketika ada sinetron dengan judul BH Nayla dan juga film dengan judul Cinta Pertama.


Kalau mau mencari kebenaran jangan di fiksi, fiksi itu dunia imaginasi, dunia dimana kita "dihalalkan" untuk bohong. Seandainya, umpama, misal, jikalau, andaikata, bilamana adalah halal. Tidak ada kewajiban author untuk menyampaikan cerita sesuai asli atau realitas hidup.


Sebenarnya saya tidak mepermasalahkan komentar ayah Laila, perhatikan alurnya, yg saya permasalahkan selalu adalah kesimpulan yg anda buat. Kesimpulan yang anda buat itu bukan fiksikan? Jadi tuduhan bahwa saya tidak fokus adalah salah karena yg saya permasalahkan adalah kesimpulan anda bukan cerita fiksinya. Sekaligus tidak lupa seperti biasa saya selipkan idealisme saya dengan cara menerangkan hakekat fiksi dan bagaimana pandangan hidup saya, bagaimana saya memandang dunia dan kehidupan di dalamnya. Idealisme saya adalah menjaga jangan sampai kehandalan saya dalam menganalisa realitas menjadi rusak gara -gara dirasuki oleh cerita fiksi, fiksi menurut saya seperti dagelan hanya sebatas hiburan tapi bukan tempat mengambil kesimpulan.


Sebenarnya apa yg saya tulis sudah mewakili pesan yg saya ingin sampaikan baik tersirat maupun tersurat, kalau anda tidak bisa menangkap pesannya berarti itu adalah urusan anda dan bukan urusan saya

mengenai masalah curhat, situ bisa aja bikin kita geli dan mengenai cinderella complex kan situ pernah bahas, jadi mana mungkin gue nggak tau sudah lupa ya? Saya punya catatannya


Gravatar ara: Iya, Ra, loe emang gak konyol seperti Ignas Kleden, Seno Gumira, Fadlillah Malin Sutan Kayo, Jacques Derrida, Paul Ricoeur, dkk, kok Loe kan orang hebat Nggak seperti mereka2 itu: cuma sekumpulan budayawan dan filsuf konyol yang banyak cincong tentang hermeneutika Mereka harus banyak2 belajar dari loe supaya tahu bahwa hermeneutika itu gak ada, ya kan ?

Sekedar menjawab: iya, kesimpulan saya tentang kata2 ayah Laila itu bukan fiksi Hanya mencoba mengamalkan hermeneutika pada sebuah teks fiksi Yaah.. gimana ya, saya kan sama konyolnya dengan Derrida, Ricoeur, dkk Sama sekali bukan tandingan Aramichi yang Agung lah..

Tapi.. kalau memang hermeneutika yang saya lakukan salah, kenapa sampai sekarang Aramichi yang Agung tidak bisa memberikan bukti bahwa tidak ada perempuan di Afghanistan yang akan sejalan dengan kesimpulan saya ?

Soal punya catatan bahasan Cinderella Complex.. monggo di-share. Jadi bukan cuma saya yang bisa kasih tautan terhadap bukti


Gravatar Situ bisa saja menyindir saya Saya mengerti maksud anda

Mengenai cinderella complex saya kebetulan punya catatan bahasan anda memang tidak membahas khusus hanya menyerempet :


mayanoto wrote: "Di masa yang lebih modern sedikit.. ada juga sebutan Cinderella Complex. Yang ini sebenernya gw nggak yakin masih bisa dibilang bagian dari psikoanalisa atau simply psikologi populer, but I like the concept . Complex ini menjelaskan fear of success pada [sebagian wanita] yang disebabkan karena, unconsciously, mereka menunggu “diselamatkan” oleh pangeran. Lagu kebangsaannya: someday my prince will come, someday I’ll find the love, and away to his castle we’ll go to be happy forever..

*Catatan: itu lagu dari Snow White and the Seven Dwarfs, sih.. tapi nggak papa deh. Cinderella dan Snow White kan sebelas dua belas *"

he he he lo kaget kan gue punya catatan hal hal sepele seperti ini


Gravatar ara: kalau situ punya catatan tulisan gw itu sih nggak kaget. Kan situ emang hobinya mengkliping tulisan gw

Yg gw heran kenapa kesimpulan loe salah kaprah tentang potongan tulisan itu Kan udah jelas gw tuliskan: fear of success pada [sebagian wanita] yang disebabkan karena, unconsciously, mereka menunggu “diselamatkan” oleh pangeran? Itu memang mirip kisah Cinderella, makanya dinamai Cinderella Complex. Tapi bukan disebabkan kisah Cinderella.

Kalau mau ditarik lebih jauh, apa yang disebut CG Jung sebagai "collective unconsciousness" lah yang membuat [sebagian] perempuan menunggu diselamatkan, plus sekaligus memunculkan fiksi tentang Cinderella


Gravatar nah saya sebagai orang yang agung ( kata lo nih ) berpikir sebaliknya fiksi lah yang menyebabkan wanita menunggu diselamatkan sama seperti konsep cewek cantik itu adalah cewek yg berkulit putih dll yg dibentuk secara sengaja maupun tanpa sadar oleh masyarakat.

Tanpa kita sadari fiksi dan kapitalisme telah membentuk
konsep ideal yang pada akhirnya mempengaruhi cara kita memandang sesuatu hal.. fiksi yg terus diulang- ulang dengan bermacam macam versi akhirnya tanpa sadar membentuk konsep ideal.

begitulah hipotesa dari saya yang agung ini


Gravatar ara: Hai Ara yang Agung, pendapat loe pada hakikatnya benar, bahwa fiksi & kapitalisme memang juga ikut membentuk konsep ideal dalam benak masyarakat. Ini kan viscious circle, rangkaian aksi reaksi.

Tapi.. kalau loe ngomong tentang Cinderella Complex & dongeng Cinderella, kecil kemungkinan bahwa kejadiannya seperti itu. Setidaknya kalo loe mau ngeyel, tunjukkan bukti yang mendukung hipotesa loe Mosok setelah sekian puluh komentar mengagungkan fakta, tiba2 loe cuma berargumen berdasarkan hipotesa fiktif Malu dong, ah


Gravatar Pembuktian bagimana? Lo sendiri sudah mengakui sbb:
mayanoto wrote :"Hai Ara yang Agung, pendapat loe pada hakikatnya benar, bahwa fiksi & kapitalisme memang juga ikut membentuk konsep ideal dalam benak masyarakat. Ini kan viscious circle, rangkaian aksi reaksi."

Jadi pembuktian bagaimana lagi yg anda tuntut? Ini kan seperti polemik mana lebih dahulu ada telur atau ayam? masing masing berpegang pada argumennya sendiri sendiri. Jadi sebuah hipotesa baru bisa dinyatakan salah apabila sudah dapat dibuktikan bahwa itu salah. Nah kalau anda merasa hipotesa saya salah buktikan di mana salahnya. Kalau tidak bisa dibuktikan bahwa itu salah ya saya tetap pada pendapat saya.


Gravatar ara: pembuktian bagaimana, Ra? Begini... "Banyaknya sampah di bantaran kali Ciliwung menimbulkan banjir" adalah suatu fakta.

Tapi.. kalau kemudian ada banjir di negara bagian Mississippi dan loe mengatakan bahwa "Banyaknya sampah di bantaran sungai Mississippi menimbulkan banjir", naaah.. itu adalah suatu hipotesa yang dipertanyakan dasarnya

Nggak semua fakta di satu kasus bisa diterapkan dalam kasus lain


Gravatar Nah disini perbedaannya anda menganggap saya melakukan metode qiyas, padahal cinderella adalah bagian dari fiksi maka dengan sendirinya dia mempunyai sifat yang sebangun dengan himpunan di mana dia berasal. Jadi sebenarnya saya tidak melakukan qiyas di sini karena cinderella adalah fiksi sama dengan fiksi lainnya.


Anda mengirimkan pesan seolah olah ini hanya masalah chemical secara langsung anda mendukung pendapat versi lama, yang menganggap ini adalah masalah internal. Kenapa wanita suka kisah kisah seperti cinderella karena secara nature itu sesuai dengan chemical reaction yang ada dalam dirinya. Kenapa anda suka buku spionase karena anda memang orangnya begitu ( ingat ngobrol ngobrol ringan kita dulu ) karena anda mempunyai sifat begitu makanya anda suka cerita spionase dan detektif detektifan. Sama saja seperti kenapa orang suka karya Pram apakah karena dia mendapat inspirasi dari Pram ataukah karena dia mengindentifikasi dirinya dengan Pram karena ada kesamaan kesamaan dia dengan Pram?



Saya membuka wacana lain bahwa ini mungkin bukan hanya masalah reaksi kimia dalam tubuh yg orang bilang chemistry, tapi adanya faktor eksternal yaitu adanya repetisi konsep ideal yang dilakukan oleh orang tertentu yang mempunyai pandangan tersebut. Jadi ini sifatnya eksternal bukan dari dalam diri, kalau dari dalam diri seharusnya setiap wanita tanpa sadar mempunyai sifat tersebut ( ketakutan terhadap kemandirian ) tapi ternyata banyak wanita menjadi karakter yang mandiri jadi saya meragukan bahwa penyebab cinderella complex adalah nature.


Gravatar ara: belajar dulu deh, Ra Setidaknya pahami dulu tautan tentang "collective unconsciousness" di atas sebelum nulis Jangan cuma bertahan pada sudut pandang fiksi vs non fiksi, terus sisanya ngarang

Tidak ada yang bicara tentang chemistry di sini. Dan tidak ada hubungannya dengan chemistry Alih2 bisa memberi bukti terhadap hipotesa loe, komentar loe panjang, lebar, nggak fokus, dan nggak mutu seperti biasanya


Gravatar Loh yg bertahan dengan sudut pandang fiksi dan non fiksi siapa? Sudah jelas saya berpendapat bahwa keinginan untuk diselamatkan itu adalah hasil dari produk sosial budaya masyarakat dan fiksi bisa ikut andil di dalamnya Saya tanya sekarang sifat merasa inferior itu datangnya dari dalam diri atau ada pengaruh dari sosial budaya masyarakat? Nah kalau saya salah buktikan bahwa saya salah, gampang kan


Gravatar Yang gue nggak abis pikir bener bener aneh cara berpikir mayanoto apakah dia nggak pernah belajar Biologi sehingga omongan gue nggak nyambung ataukah seperti biasa dia speed reading .


collective unconsciousness itu sudah pasti berhubungan dengan faktor biologis dalam hal ini genetis ( diturunkan ) dan sudah pasti berhubungan dengan chemical reaction yang ada di dalam tubuh manusia . Seperti sex, manusia biarpun terpencar pencar sampai ujung dunia tetap saja mempunyai naluri sex yang sama, biarpun ditahan tetap saja muncrat jadi ini adalah organik yg mempengaruhi pikiran.


Gue sarankan kalau membaca tulisan gue jangan speed reading ya, kalau males baca mendingan ngga usah baca


Gravatar ara: silakan lho, Ra, kalau mau terus2an mempermalukan diri sendiri Semakin panjang yang loe tulis, semakin parah dampaknya buat loe sendiri

Gw udah tulis di sini lho ya, supaya membuktikan bahwa dongeng Cinderella turut andil dalam pembentukan Cinderella Complex Paparan loe tentang fiksi yang ikut membentuk persepsi sosial memang betul dalam beberapa kasus; seperti iklan pemutih yang andil membentuk persepsi sosial tentang kecantikan. Tapi.. terlalu naif kalau hal ini diterapkan dalam pembentukan complex

Quote "collective unconsciousness itu sudah pasti berhubungan dengan faktor biologis dalam hal ini genetis ( diturunkan ) dan sudah pasti berhubungan dengan chemical reaction yang ada di dalam tubuh manusia"

FYI, collective unconsciousness adalah konsep yang diajukan Carl Gustav Jung, kritikus utama teori libido dari Sigmund Freud. Maka dari itu, sungguh lucu jika kemudian loe mengatakannya sudah pasti berkaitan dengan chemical reaction pada tubuh manusia Lha wong yang paling ditentang oleh Jung adalah unsur biologis yang dipakai Freud, kok sekarang dibilang sudah pasti begitu

Monggo lho, silakan lanjut mempermalukan diri sendirinya

@Nirwana: ini bukan masalah sibling rivalry, tapi masalah kompetensi


Gravatar Saya membuat hipotesa kok disuruh membuktikan, bagaimana kalau kita win win solution. Saya baru akan mencoba membuktikan cinderella dan varian variannya mempengaruhi cinderella complex setelah anda bisa membuktikan bahwa cinderella dan varian variannya sama sekali tidak mempengaruhi pemikiran perempuan. Itu PR anda berani nggak lo? Saya pesimis mengingat pas kasus AM ( Calon Pasien Labotomy keren dari Betawi ) lo nggak bisa membuktikan secara ilmiah bahwa dia psikotik.


Loh masalah Carl Gustav Jung berpendapat begitu bukan urusan saya, saya bukan orang yg terlalu mendewa dewakan teori orang lain. Saya berpikir dengan pemikiran saya sendiri bahwa collective unconsciousness itu sudah pasti adalah unsur biologis yang diturunkan ( genetis ). Jadi faktor organik berperan besar di sini. Kok orang dari generasi ke generasi berikutnya bisa punya kecenderungan yang sama sekalipun berpencar pencar ke seluruh penjuru dunia? Ingat fenomena mimpi basah yang terjadi diseluruh dunia. Jadi masalah Carl Gustav Jung berpendapat lain bukan urusan saya, saya tetap berpikir sesuai realita yg ada.


Yang ingin saya soroti apa benar cinderella complex itu sumbernya dari collective unconsciousness yang dialami perempuan? Bagaimana dengan fenomena Ratu Adil yang terjadi di Jawa dan kepercayaan akan turunnya Messiah pada masyarat Yahudi yg akan mengembalikan kejayaan Yahudi seperti jaman King Solomon? Apakah masyarakat Jawa dan Yahudi mengalami cinderella complex juga Terus bagaimana dengan orang orang yg kerja minta tolong sambil nyembah nyembah tuhan dengan harapkan diselematkan hidupnya di dunia dan akhirat, apakah terkena cinderella complex juga karena berharap diselamatkan?


Gravatar ara: Saya membuat hipotesa kok disuruh membuktikan

Yang namanya hipotesa itu harus ada landasan berpikir yang jelas berdasarkan kaitan fakta/teori/pengetahuan yang mengarah pada hipotesa tersebut. Bukan hanya main comot dari kasus lain tanpa bisa menunjukkan kaitannya dgn yang dihipotesakan

Menantang gw membuktikan? Ah.. kalau loe ngerti konsep collective unconsciousness, sudah terbukti kok dengan sendirinya

Saya berpikir dengan pemikiran saya sendiri bahwa collective unconsciousness itu sudah pasti adalah unsur biologis yang diturunkan ( genetis )

Collective unconsciousness yang gw bicarakan di sini adalah konsep dari Jung. Kalau menurut loe konsep itu gak cocok untuk menjelaskan fenomena, buktikan dimana ketidakcocokannya Bukan dengan lantas mengubah konsepnya seenak udel

Yang ingin saya soroti apa benar cinderella complex itu sumbernya dari collective unconsciousness yang dialami perempuan? Bagaimana dengan fenomena Ratu Adil yang terjadi di Jawa dan kepercayaan akan turunnya Messiah pada masyarat Yahudi yg akan mengembalikan kejayaan Yahudi seperti jaman King Solomon?

Belajar dulu artinya complex Jangan dicampur2 dengan belief, social perception, dll

Silakan terus mempermalukan diri Tapi kalo bisa sih di blog loe sendiri aja Jangan nyampah di comment box gw


Gravatar Begini landasan berpikir gue, secara realitas, pikiran dipengaruhi 2 faktor:

1. Faktor fisik dalam hal ini adalah faktor organik yaitu otak. Ini bukan hipotesa lagi tapi sudah fakta. Chemical Imbalance dapat mempengaruhi pikiran yg akhirnya mempengaruhi perilaku, otak yg pernah luka atau memar waktu lahir juga bisa mempengaruhi pikiran dan jangan lupa schizophrenia itu bisa diturunkan ( genetik) .

2. faktor non fisik, nah disini bisa masuk faktor sosial budaya.

masalah dorongan bawah sadar, masih menjadi misteri buat gue apakah ini berasal dari pengalaman dalam hal ini berkaitan dengan sosial budaya ataukah ini bersifat genetis.
Kalau dalam hal sex saya yakin ini berkaitan dengan genetis karena diseluruh dunia mempunyai persamaan.



Kalau kita mengamati realitas, ada suatu benang merah pada setiap manusia,
yaitu manusia secara bawah sadar selalu menginginkan kesempurnaan. Akan tetapi dalam realitas manusia mempunyai kelemahan atau merasa dirinya lemah hal ini disebut inferior. Perasaan inferior ini dikompensasikan bisa dengan macam macam cara, antara lain dengan mengharapkan bantuan dari kekuatan yg dianggap lebih superior, hal ini diperlukan karena dia merasa tidak sanggup mencapai kesempurnaan dengan kemampuan sendiri sementara di sisi lain dorongan untuk menuju kesempurnaan / kondisi ideal begitu kuat.



Ini yang terjadi pada perempuan, perempuan yg merasa dirinya lemah mengharapkan bantuan dari yg dianggap lebih superior yaitu pria agar mencapai apa yg oleh bawah sadar inginkan yaitu kesempurnaan / kondisi ideal. Nah dimana hubungannya dengan fiksi cinderella? Fiksi cinderella membentuk opini bahwa perempuan itu lemah akhirnya terjadilah cinderella complex


Gravatar ara:Quote 1"Begini landasan berpikir gue, secara realitas, pikiran dipengaruhi 2 faktor"

Quote 2: "Fiksi cinderella membentuk opini bahwa perempuan itu lemah akhirnya terjadilah cinderella complex"

Dari sini aja udah salah konsep . Bicara tentang complex, tapi landasannya "pikiran". Nih, baca lagi tentang complex: an important group of unconscious associations, or a strong unconscious impulse lying behind an individual's otherwise mysterious condition

Perhatikan kata kuncinya deh: unconscious. U-N-C-O-N-S-C-I-O-U-S-N-E-S-S. Artinya ketidaksadaran. Sedangkan pikiran itu bergerak di level kesadaran penuh

Collective unconsciousness (dan juga complex) itu tidak ada hubungan dengan pikiran maupun sosial budaya. Justru sebenarnya sosial budaya dapat dipengaruhi/terbentuk oleh adanya collective unconsciousness

Secara khusus tentang dongeng Cinderella, coba baca ini: The collective unconscious appears to consist of mythological motifs or primordial images, for which reason the myths of all nations are its real exponents. In fact the whole of mythology could be taken as a sort of projection of the collective unconscious.

Fiksi itu juga terbagi macam2: karya perorangan (dari cerpen hingga karya sastra), mitologi/legenda/dongeng (yang berlaku universal dalam kelompok kecil/besar).

Cinderella itu jelas masuk kategori mitos, berlaku universal. Ini berbeda dengan sebuah karya perorangan yang mejadi best seller dan bisa mempengaruhi pandangan umum Bedanya dimana? Seperti dikatakan Jung di atas, mitos adalah proyeksi dari collective unconsciousness. Dia memang sudah ada dalam bawah sadar sekelompok manusia. Jadi Cinderella Complex dan dongeng Cinderella itu sama2 produk, bukan satu mempengaruhi yang lainnya

Makanya dari awal gw bilang: jangan cuma bertumpu pada pembagian besar fiksi vs fakta Selain fiksi & fakta itu saling terkait, ada nuansa2 dalam fiksi & fakta itu sendiri yang tidak sesederhana itu penjabarannya

Udah ngerti, atau masih mau ngeyel ?


Gravatar terus terang gue masih ngeyel karena ini jelas ada masalah yg belum tuntas dijawab.

Bawah sadar itu dari mana? Kok dia bisa ujug ujug ada pada setiap generasi, berarti diakan adanya di otak. Kalau begitu dia pasti berasal dari DNA. Kalau kita bicara secara biologi memang ada sifat sifat tertentu yg hanya diturunkan dari ibu ke anak perempuannya, itu juga yg menurut gue sangat masuk akal kalau cinderella complex hanya terjadi pada perempuan.


Nah pertanyaan selanjutnya adalah begini menurut pemikiran gue, bukan tidak mungkin bawah sadar adalah produk pengalaman orang jaman dahulu kala yg diwariskan melalui DNA, ingat manusia modern itu nenek moyangnya sama, menurut teori out of africa, manusia modern berasal dari Africa lalu menyebar keseluruh dunia.


Nah bagaimana menurut lo apakah ini berkaitan dengan fenomena pemujaan dan adanya tuhan di seluruh penjuru dunia? ini gue lihat fenomena yg merata mulai dari masyarakat modern sampai primitif mengenal tuhan mirip dengan fenemona ngesex, bahkan ada Atheis yg kerjanya ngomongin tuhan, bahkan paling hobby ngomongin tuhan Bagaimana fenemona ini dijelaskan?


Gravatar Duh nih bocah dua demen banget bekelai siy ... Masalah awalnya apaan deh? Fiksi vs Fakta? Lo bikin entry baru deh, May ... judule: Gue dan Ara: A Neverending Battle of ###@$%@$#$ ... Huahahahahaha ... !


Gravatar ara: mau tau tentang dari mana collective unconscious itu? BACA! BELAJAR! Googling dong tentang konsepnya Carl Gustav Jung

Terus terang gw juga males kalo nerangin di media comment box begini. Selain teori Jung adalah salah satu yang paling rumit, comment box ini dirancang untuk menampung komentar terhadap tulisan gw (yang kali ini tidak berkaitan dgn complex, collective unconsciousness, dan Jung). Gw udah cukup sabar deh melayani komentar loe yang nggak nyambung itu, sampai 76 begini

Nanti kalo loe udah baca tentang Jung, boleh nanya lagi. Kursus privat lewat email juga boleh Tapi kalo bahkan loe masih berpikir tentang "biologi", "DNA", bahkan "pengalaman yang diwariskan via DNA", kejauhan kalo harus gw terangkan tentang psyche, archetype, dll

Kalo loe udah belajar Jung, fenomena yang loe tanyakan itu terjelaskan dengan sendirinya. Makanya belajar! Baca! Daripada waktu loe dipakai buat ngeyel, mendingan buat baca

*FYI, even konsep biologi loe aja ngawur. Pengalaman kok diwariskan via DNA Belajar biologi dimana sih??*

PJ: kalo menurut gw sih sebenernya battle ini udah selesai dari kapan2, P Tapi ada yang masih menuntut revenge, jadi sebagai nona rumah yang baik ya gw tanggapi terus. Lagian lumayan buat olahraga..


Gravatar Situ baru sadar ya kalau kita OOT . Masalah ilmu pengetahuan adalah kebenaran relatif, kebenaran saat ini bukan berarti kebenaran esok hari. Masalah DNA sendiri adalah masih misteri sama seperti asal usul manusia, gue coba mengajukan pertanyaan nyeleneh karena gue rasa memang di sini tempatnya untuk berpikir nyeleneh. Lo tau Lucy? dulu orang berpendapat Lucy lah nenek moyang manusia modern, sekarang teori tersebut dibantah.


Nah misteri bawah sadar aja belum terpecahkan kan sampai sekarang? Lo sendiri berpendapat sebagai berikut:
mayanoto wrote : "Complex, kalau bisa diterjemahkan dengan bahasa sederhana seperti pada tautan Wikipedia di atas, adalah ”sekumpulan dorongan bawah sadar yang kuat yang mendasari tindakan2 seseorang yang tidak bisa dijelaskan"

Manusia kalau mau maju harus berani berpikir nyeleneh, karena banyak hal yang belum bisa dibuktikan. Kalau lo belajar biologi secara formal ya memang tidak ada teori seperti itu, justru saya ungkapkan disini untuk membuka wacana baru pemikiran atas misteri kehidupan.

Karena sudah terlalu OOT, dan sorry itu memang saya sengaja maka sebaiknya masalah ini disudahi sampai disini


Gravatar ara: kalau sadar OOT sih udah dari dulu. Tapi gw mah sopan, nggak ngusir tamu Makanya biarpun loe sarankan nge-ban atau moderasi, tidak gw lakukan

Ilmu pengetahuan memang kebenaran relatif. Tapi, kalau mau mengoreksi dan menyanggah ilmu pengetahuan yang sekarang, pertama2 harus mengerti apa yang dimaksud oleh konsep itu. Baru cari titik lemahnya dimana, dan disanggah dengan landasan berpikir yang mendukung sanggahan itu

Lha, loe ngerti konsepnya aja belum, udah main sanggah aja

BTW, terjemahan yang benar dari "an important group of unconscious associations, or a strong unconscious impulse lying behind an individual's otherwise mysterious condition" adalah: sekumpulan asosiasi bawah sadar yang penting, atau sebuah dorongan bawah sadar yang kuat, yang mendasari kondisi seseorang yang tidak dapat dijelaskan dengan cara lain

Jadi.. bukan bawah sadarnya yang menjadi misteri Tapi kondisi tersebut yang tidak dapat dijelaskan dengan cara lain Bawah sadarnya sih jelas Asal loe mau belajar & baca, loe bakal tahu

*tapi gw ragu apakah loe bakal ngerti kalo baca sendiri ya? Wong nerjemahin kalimat sesederhana itu aja salah sambung *


Gravatar Ha ha ha ha makanya gue malas baca buku psikologi terlalu mumet dan ngga jelas.
si tino tukang perahu males juga kan kemana dia?


Gravatar ara: kalo males baca buku psikologi doang sih gak papa. Yang nyebelin tuh komentar tapi nggak tahu apa yang dikomentari karena males baca

Emang setali tiga uang loe sama Tino Dia ada sih, cuma lagi bertapa


Gravatar Wow. Ngomong soal sabar. Hahaha.. sejak kapan berantem di sini?

Oya, Ra, gw punya jawaban nih atas pertanyaan loe:
"bahkan ada Atheis yg kerjanya ngomongin tuhan, bahkan paling hobby ngomongin tuhan Bagaimana fenemona ini dijelaskan?"

Gampang aja kok, Ra. Some atheists keep talking about god because there are always people who are worth being slapped. NOT because they believe in god and whatnot, but merely because they're annoying.


Gravatar yah habis d hiburannya, habis tamunya uda mu pergi si, hehehehe Mba May gpp toh dapet tamu, kalo kata temen gw: seneng2 aja didatangin banyak tamu karena sebagian dosa2 kecil kita ikut terbawa seiring dengan si tamu keluar dari rumah kita *ini kata temen gw loh, jadi jangan tanya ke gw dari hadist yang mana or sahih nggaknya hehehehe*
btw kalo tamu "waton sulaya" bawa pergi dosanya banyak ngga ya hehehe


Gravatar intan: udah sejak tahun 1919 (eh, itu sih Nyonya Meneer )

Ntan, gw terjemahin buat Ara ya: "Beberapa ateis terus aja bicara tentang tuhan karena selalu orang yang pantas untuk digampar. BUKAN karena apa yang mereka percayai dan tidak, tapi cuma karena mereka mengganggu"

*hehehe.. definisi mengganggunya apaan, Ntan? Kalau gw sih: hampir 30 komentar gak nyambung yang ditulis sambil nyolot itu udah kategori annoying *

Indie: sabar... ntar pasti ada lagi topik baru yang bisa ditonton Yang sekarang mesti ditutup, kalo gak ntar kepanjangan kayak sinetron Tersanjung

Gak papa kok kedatangan tamu. Gw sih seneng2 aja, bisa buat olahraga Makanya yg kayak gini nggak gw banned kan ?


Gravatar Intan: wakakak wakakak intermezo gue dianggap serius. niat banget lo bacanya, kok bisa sampai tau gue nulis begitu padahal itukan ada ditengah tengah. Menurut gue Atheis yg ngomongin tuhan adalah atheis yg kurang kerjaan ngapain ngomongin yg ngga ada

May: Gue tidak butuh penterjemah Bukan salah saya saja kalau anda merasa terganggu dari awal sudah saya peringatkan jangan memaksakan membalas semua komentar yg masuk dan SAYA TIDAK PERNAH meminta anda membalas semua komentar saya, kalau anda membalas dan karenanya merasa terganggu bukan urusan saya, siapa suruh membalas komentar saya?
Mungkin anda bersedia diganggu kalau begitu


Gravatar Ara: Wah, bisa juga begini dong ya:
Why do sociologists bother to talk about things that are only the products of social construction? Things that are not real, so to speak.
Well, boy, we discuss things like these mainly because the consequences are real; that they have real impacts or effects on society.

God may not exist, or isn't real, but the consequences of believing in God *are* real. That's why this notion is still worth talking about, especially when these consequences have gone awry.

P.S. I do take bad arguments or questions seriously. Well, sometimes. =)


Gravatar intan: thanks, Ntan, for such an elaborated cynical comment Hopefully the boy-in-question can grab the essence of it

*which, regretfully, I doubt *

ara: hmm.. terakhir gw cek, blog ini masih punya gw deh Jadi.. yang berhak menentukan aturan di blog ini gw, bukan loe Terserah gw mau gw apakan semua komentar yang masuk ke blog gw . Kalo loe berkunjung ke sini, you have to follow my rule, bukan sebaliknya




Name:

Email:

URL:

Comment:  ? 

 

Commenting by HaloScan