Para Kritikus berkata...

Gravatar weis... tumben yang pertama yaa...

sempet kepikiran...
apa karena autis itu kan bukan seperti parno atau narsis yang 'hanya' merupakan gangguan kejiwaan... jadiii... kemungkinan sembuhnya lebih gede dong... asal ditangani secara benar...

kalo autis... itu kan juga ada cacat fisiknya kan... walaupun mungkin hanya sekitar otak saja... tapiii kan jelass beda?...

ato... misalnya ajah tuna rungu... mereka kan cacat fisik dari indera pendengaran... yang mungkin sulit sembuh... ato bisa melakukan sesuatu layaknya orang normal tanpa bantuan alat bantu...

justru itu mungkin yang menjadikan orang-orang terdekat mereka over sensitive... over protective... soalnya dari segi bawaannya juga beda kan?..


Gravatar mela: "Hanya" merupakan gangguan kejiwaan ? Hehehe... Gangguan kejiwaan sekelas paranoid itu bukan "hanya" gangguan ringan seperti fobia yang bisa diterapi. Paranoid itu sudah pasti melibatkan kerusakan pada sistem syaraf. Paranoid bisa dikontrol dengan obat2an seumur hidup, tapi tidak mungkin sembuh total.

Narcisstic Personality Disorder mungkin memang tidak disebabkan oleh ketidakseimbangan kimiawi. Secara teoritis dapat disembuhkan dengan mengubah lingkungan. Tapi dari pengalaman, orang lebih nurut minum obat yang diberikan dokter daripada mengubah seluruh lingkungan hidup untuk memfasilitasi perubahan mereka yang bergangguan kejiwaan ke arah yang lebih baik.

Jadi, tidak benar bahwa "kemungkinan sembuhnya lebih gede" daripada autis Bahkan tidak benar bahwa "dari segi bawaannya aja beda" Ini adalah kasus2 yang setara.

Bahkan, dalam konteks pengobatan dan kehidupan sosial, punya anak penyandang autis itu "lebih mudah secara emosional". Gangguan kejiwaan seperti paranoid itu di mata awam dinamakan "gila". Mereka yang punya anggota keluarga "gila" lebih besar kemungkinan mendapatkan stigma sosial daripada yang punya anak autis.

Dari segi pengobatan pun paranoid gak bisa cuma berobat jalan. Pasti awal2nya mesti mendekam di bangsal kejiwaan. Sementara autis, seberapa pun parah kasusnya, tidak akan dipisahkan dari keluarganya.

So, kalau itu alasannya, justru lebih besar lagi pertanyaan gw tentang keberatan orang mengenai penggunaan autis sebagai metafora


Gravatar Kalau gue... suka parno kalau dianggap narsis akibat sering autis meski di tengah kerumunan orang.

;-D

Kagak, waktu gue gak habis buat berkunjung, tapi buat Facebook-ing dan Twittering.


Gravatar pernah kenalan sama ortu yang anaknya autis atau ada kekhususan lain. keknya mereka santai aja ya sama omongan orang. saking fokusnya sama si anak sampe cuek beibeh ama omongan sekitar kali ya?


Gravatar Soal yang Amazing Race, iya bener tuh, gue jg sebel ama si Margie & Luke gara2 itu, lagian si Keisha ama Jen aja santai2 gak gimana2, si Luke malah yg ngoceh2 mulu...let it go man..sedihnya lagi si Keisha ama Jen kalah hikss..


Gravatar Mungkin karena belum ada kisah tentang penderita narsistik dan paranoid beneran yang bisa jadi bahan untuk berempati dan bersimpati :D

Dan gw rasa gerakan menghentikan penggunaan kata autis ini terdengar heboh, simply karena sosialisasinya oke, di blog orang-orang terkenal lho, yang punya kapasitas untuk mempengaruhi perilaku orang.

BTW, gue juga menghentikan penggunaan kata autis dan menggantikannya dengan 'asyik sendiri', daripada dimarahin orang. :D


Gravatar Sewaktu baca paragraf ini:

"Atau... jangan2 itu adalah bentuk simpati pada keluhan orang tua penyandang autis yang [maaf] masih terlalu sensitif dengan apa kata orang lain. Jika memang demikian, apakah "melindungi" mereka dari suatu proses wajar pergeseran makna kata dan metafora (yang tidak dimaksudkan untuk mentertawakan si penyandang) adalah sesuatu yang membantu? Bukan sesuatu yang justru menyimpan bahaya laten?"

langsung kepikiran akan kasus Margie & Luke vs Kisha & Jen itu loh. Eh, beneran di paragraf selanjutnya dibahas, hahaha...

Aku setuju sekali Mbak, aku juga merasa Margie terlalu sensitif dengan kondisi di sekitarnya. Yang membuat Margie (dan Luke) makin menyebalkan adalah kengototan mereka. Oke lah mereka sensitif dengan ketuna-runguan Luke. Namun, mereka koq masih ngeyel bahwa Kisha menertawakan Luke BAHKAN setelah Kisha meminta maaf atas kesalah-pahaman dan telah menjelaskan dia tidak bermaksud begitu SERTA setelah Phil Keoghan berusaha menengahi mereka. Apalagi di episode selanjutnya (scene singkat di bandara Guilin) mereka MASIH saja ngeyel akan hal itu, haha... .

Aku benar-benar kehilangan (sebagian besar) respek ke mereka akibat insiden itu.

Wew, koq nggak membahas kasus "autis"-nya yah? Aku sih setuju Mbak, memang ini adalah pergeseran makna saja. Cuma karena masih baru, rasanya belum banyak telinga yang biasa mendengarnya. Oleh karenanya, terdengar "panas" bagi mereka yang belum pernah (jarang) mendengarnya.

Btw, kadang ada joke di kampus gini: Anak yang sedang Facebook-an dibilang autis, jadi gak cuma pengguna Blackberry saja, haha


Gravatar JJ: Blogging kapan?

nYam, okke, & Zilko on Autis: itulah Menurut gw gerakan "hentikan penggunaan kata autis" ini terlalu bombastis

OK lah, gw setuju dengan Okke bahwa kita nggak pernah dengar gerakan yang sama dari keluarga orang yang terdiagnosa paranoid/narsistik karena kasus ini tidak tertampilkan ke muka umum. Gw setuju... karena seringkali anggota keluarga "bergangguan kejiwaan" itu memilih untuk "membuang" si anggota keluarga. Not fight for them, seperti yang dilakukan ortu penyandang autis.

Tapiiiii...... bagaimana dengan penggunaan kata "Kanker" untuk bercanda? Pernah dengar nggak kata2 semacam, "Blackberry Storm menyebabkan kanker" untuk mengatakan bahwa beli BB Storm yang 10jt-an itu menyebabkan KANtong KERing. Apa kita pernah dengar keluarga penderita kanker ribut dan tersinggung? Enggak kan?

Gw sendiri kehilangan ayah karena kanker. And trust me... punya ayah yang sakit kanker TIDAK LEBIH MUDAH daripada punya anak yang menyandang autis. Still, gw gak ribut kalau orang mau bercanda dengan kata "kanker"

Mungkin karena gw sudah "berdamai" dengan masalah itu ya, jadi udah nggak oversensitif

Jadi, Kke, kalau gw sih nggak mau terintimidasi untuk mengganti istilah... hehehe... There is nothing wrong with it, kita nggak "mentertawakan" atau "melecehkan" kok Biar mereka lebih terbiasa juga, gak merasa dizalimi, karena ini sesuatu yang biasa dan dialami juga penderita penyakit/penyandang cacat yang lain. If they can live with it, why the parents of autistic children cannot?

Males aja ntar ada gerakan menghentikan penggunaan istilah "Kanker" untuk "Kantong Kering", gak boleh pakai istilah semacam "Anggota Dewan dibutakan oleh harta, dan tuli terhadap aspirasi rakyat" karena bisa menyinggung keluarga penyandang tunanetra dan tunarungu

surti & Zilko on Margie-Luke: itulah yang membentuk sikap gw "Asal Bukan Margie-Luke" Dan senang banget bahwa akhirnya M/L gak menang

Sebagai ibu gw mengerti reaksi spontan Margie mendukung anaknya. Tapi lama2 jadi lebay deh waktu dia masih aja ngomong jelek sama J/K di leg selanjutnya. Plis deh! Gw sendiri sering nyesel lho, kalau habis melakukan sesuatu yang "nggak bener". Biasanya sehari setelahnya gw nyesel, dan walaupun gw nggak minta maaf secara verbal, perilaku gw berubah. Dengan tidak berubahnya perilaku Margie, gw kira dia emang udah gak bisa obyektif lagi kalau menyangkut her baby boy. And I don't like this kind of person ...


Gravatar jadi inget south park lagi :D lupa di episode yang mana, tapi ada istilah disana seperti ini "after 30 years, we can finally laugh about AIDS"
mungkin butuh waktu aja mbak sebelum kata autis buat pengguna blackberry itu jadi lebih umum lagi, toh bb juga baru 1-2 tahun ini boomingnya.

*maaf, komen tanpa bermaksud menyinggung siapapun nih*


Gravatar hans: ah, ya! Gw inget kata2 itu! Tapi kemarin gak inget... hehehe...

Iya juga ya, mungkin butuh waktu buat "menerima kenyataan" Tapi, kalau butuh waktu dan keburu "dihentikan", nggak akan pernah sampai dong ?




Name:

Email:

URL:

Comment:  ? 

 

Commenting by HaloScan