Para Kritikus berkata...

Gravatar ah masa-masa indah bisa nonton masih lama ya? huhuhu...akyu kangen 21. meski dalih kencan ama suami, teteup aja pikiran ke rumah.


ah iya, soal batas membatas, kadang rasanya ankaa bablas deh. wortel mentah plus sendal jepit digigitin. cotton buds masuk kuping. iyaa eksplorasi, tapi kan ketar ketir juga huhu. gimana nih enaknya? binun sayah

*kok jadi nanya yah?*


Gravatar Iya deeeeeeeh, kakak pertama ....

Tapi emang sih, hal-hal yang kita pikir kita sampein secara sambil lalu ternyata nyangkut banget di benak anak ya ... mungkin ada faktor "interest" kali ya ... Bisa gak sih "interest" tumbuh dengan pola "authoritarian" ?? Gak nyambung ya?


Gravatar May, gw sedang baca buku tentang Kiat-kiat membesarkan anak yg memiliki 'Kecerdasan Emosional' tulisannya John Gottab, PH.D. dan Joan DeClaire, penerbit Gramedia.

Karena ini gw sedang belajar menjadi orangtua yang melatih emosi 'TiiiT'''

Orangtua Pelatih Emosi berfungsi sebagai pemandu anak-anak menempuh dunia emosi. Mereka tidak sekedar menerima & mematok batas-batas tingkah laku yg tidak tepat tapi lebih jauh lagi dengan mengajarkan anak-anak mengatur perasaannya, menemukan ungkapan-ungkapan yang tepat dan memecahkan masalah-masalah.

Dampak pola pengasuhan ini terhadap anak-anak menurut buku ini berdasarkan hasil penelitian:
Mereka belajar mempercayai perasaan-perasaan mereka, mengatur emosi mereka sendiri dan menyelesaikan masalah-masalahnya. Mereka mempunyai harga diri yang tinggi, belajar dengan baik, dan bergaul dengan orang lain secara baik-baik.

Menarik bukan? tidak ada salahnya dicoba hehehe...


Gravatar hihi...anak gw malah udah gw ajak nonton Dark Knight, secara g ada pengasuh yg bisa gw percaya utk jaga anak gw...

so, skrg anak gw yg ngajak2 gw nonton, pdhl baru jg 4 taon...

heem..pola mengajar yg asik...aku jg terapin hal yg sama ke anakku, nda maksa kudu belajar,tp jd hobi nanya2 deh.tapi lingkungan yg g tahan dng metode gw yg menurut mereka "cuek banget" ke anak kekekekek


Gravatar Berarti pola mengasuh dan membesarkan anak juga ikut berevolusi seiring dengan perkembangan zaman yah? hahaha...

Tapi bener sih Mbak kalo dipikir-pikir. Keunggulan dalam bidang akademis memang bukan segala-galanya (tapi bukan berarti nggak penting, hehehe). Yang penting anak itu EQ-nya juga berkembang, hahaha... Jah, kaya sok ngerti aja gw, LOL.

Jah, koq ada butterfly effect segala seh. Kemarin lumayan pusing juga tu belajar mandiri sambil bikin slide presentasi buat menerangkan chaos theory yang bergantung pada kondisi awal yang ada hubungannya sama butterfly effect ini, wahahaha... (gak nyambung)


Gravatar Wahh..kudu belajar how to become a smart and cool parent dari Mama-nya Ima nich..
Salam kenal ya mbak


Gravatar nYam: kalau Ankaa ntar ngajak ke bioskop, trust me, pasti nggak bikin kangen hilang juga. Soalnya filmnya pasti 'gak gw banget'

Yah kalo wortel mentah sih biarin aja. Kalau cotton bud, awasin aja... Nara juga sering gw awasin nyobek2 kertas (dan berusaha mengemutnya)

PJ: authoritarian dengan sendirinya membatasi minat, bukan? Bisa sih berkembang, tapi susah kali ya?

Nirwana: iya, menarik banget . Kayaknya dasarnya authoritative, tapi ini dikembangkan ke arah mendampingi dalam aspek emosi Begitu nggak?

yunita: Ima pertama kali ngajak nonton juga umur segituan lho. Filmnya horor... lupa gw judulnya apa

Hehehe... emang tuh, biasanya kendala dari lingkungan. Gw pernah juga, bentrok sama lingkungan gara2 sex education Guru TK-nya Ima panik gara2 Ima "tahu lebih dari yang dibayangkannya"

Zilko: emang, Zil. Makanya gw gak pernah mematok prestasi akademis. Tapi juga nggak cuek bebek

Jadi, harusnya loe baca posting gw dulu, baru bikin slide? Gitu

Opie: salam kenal juga I'm not that cool sih... cuma sok cool aja kok


Gravatar Dasarnya dari orangtua yang 'hangat' dan 'positif'

Lebih daripada IQ, kesadaran dan kemampuan emosional untuk menangani perasaan akan menentukan keberhasilan dan kebahagiaan dalam segala jalur kehidupan, termasuk hubungan keluarga.

Kenyataan kebanyakan orangtua yang mengasihi dan penuh perhatian pada anak tidak/belum mampu secara efektif mengatasi perasaan-perasaan negatif anak. Bagaimana berinteraksi dgn anak ketika emosi 'memanas'

Ada 3 tipe orangtua;

1. Orangtua yg mengabaikan, yg tidak menghiraukan, mengganggap sepi, atau meremehkan emosi-emosi negatif anak.

2. Orangtua yg tidak menyetujui, yg bersifat kritis terhadap ungkapan perasaan negatif anak, memarahi bahkan menghukum anak karena mereka mengungkapkan emosinya.

3. Orangtua Laissez-Faire, yg menerima emosi anak dan berempati tapi tidak menberikan bimbingan atau menentukan batas-batas pada tingkah laku anak.

Agar tidak terjebak menjadi ketiga tipe orangtua di atas yang gagal mengajarkan kecerdasan emosional, cobalah belajar menjadi Orangtua Pelatih Emosi 'TiiiT''' dgn menerapkan 5 langkah;

1. menyadari emosi anak,
2. mengakui emosi itu sebagai peluang untuk kedekatan dan mengajar,
3. mendengarkan dengan penuh empati dan meneguhkan perasaan anak,
4. menolong anak menemukan kata-kata untuk memberi nama emosi yang sedang dialaminya dan
5. menentukan batas-batas sambil membantu anak memecahkan masalah yang dihadapi.

Bagi anak, yang mendapat sebagian besar pelajaran tentang emosi dari orangtua mereka, maka kecerdasan emosionalnya meliputi kemampuan untuk mengendalikan dorongan hati, menunda pemuasan, memberi motivasi diri mereka sendiri, membaca isyarat sosial orang lain, dan menangani naik turunnya kehidupan.

Kunci menjadi orangtua yang baik tidak ditemukan dalam teori yang rumit, peraturan keluarga yang terperinci, atau rumus tingkah laku yang sulit Kunci ini didasarkan pada perasaan-perasaan kita yang paling dalam, yaitu kasih dan kemesraan bagi anak kita, dan kunci ini dibuktikan hanya melalui empati dan pengertian. Menjadi orangtua yang baik dimulai di dalam hati kita, kemudian berlanjut secara terus menerus dari saat ke saat dengan bergaul dengan anak-anak kita ketika perasaan-perasaannya memanas; ketika mereka sedih, marah atau ketakutan. Inti menjadi orangtua adalah mendampingi anak dengan cara istimewa ketika betul-betul dibutuhkan.

Giman tertarik? ayo simak bukunya...

http://us.macmillan.com/ theheart...eartofparenting


Gravatar Setuju kalo anak harus dibebasin, tapi juga tetep diawasin...

Ada beberapa contoh murid2ku yg dipaksa les piano, padahal anaknya ga minat sama sekali... Yg ada akhirnya anaknya sendiri yg ogah2an... Akhirnya kan wasting time... Dan akhirnya jg orangtuanya sendiri yg buang2 duit, buang2 waktu anaknya...


Gravatar Nirwana: MENARIK BANGET, Nir Ntar gw cari bukunya kalau udah sempat ke Kinokuniya Thanks

Gottman ini penulis lama, kalo gak salah jaman kuliah dulu gw sempat baca bukunya juga (judulnya lupa). So, setuju kalau dibilang buku2nya bagus/menarik

bubble pinkz: ya, ya, itu juga sering terjadi. Gw suka jengkel sama ortu yg begini! Anak kok dijadikan trofi




Name:

Email:

URL:

Comment:  ? 

 

Commenting by HaloScan