Gravatar ada perasaan yang tidak bisa saya lukiskan saat membaca kata demi kata..
haru, bahagia tapi juga sedih, iri, pilu... semuanya berbalut kerinduan.

Beliau mengingatkan aku pada alm. kakek.

Kalo Ayahanda Pak Amril mencatat setiap harinya dilembaran diary, maka Pak Amril mencatatnya di lembar halaman website :P

Salam kenal dan salam hormat utk beliau ya, pak.


Gravatar aku suka postingan ini.

kangen ayahku:-(


Gravatar kak amril
saya apreciate dengan budaya menulis dan mencatat ayahanda ta
jelas sekali kebiasaan beliau mencatat kronik hidupnya akan mengajarkan banyak hal
bahwa kronik hidup bisa jadi bahan utk bercerita, atau juga utk look-back, menelisik masa lalu
untuk memperbaiki titian ke masa sekarang dan masa depan
bahwa kenangan itu ndak cukup cuma disimpan di memori kepala
yang sistem kerjanya bisa aus seketika digerus penyakit dan kepikunan...

luarbiasa...
saya membaca ini merasa cemburu...
akankah saya bisa jadi ayahanda yang pandai mencatat kronik juga?

salam kenal utk Om Karim!


Gravatar Pak Amril...
sekarang saya baru tahu, dari mana datangnya hobi menulis itu...ternyata menurun dari bapak dengan beberapa perbaikan dan upgrade mengikuti jaman..

salut dan salam hormat untuk bapaknya pak Amril....sama kayak Dg. Ruslee, saya juga bertanya-tanya, bisakah saya menjadi ayah seperti itu...?


Gravatar Iri juga punya ayah seperti itu. Sejak kecil saya suka menulis juga, pernah saya nulis cerpen mau dikirim ke majalah kawanku, tapi ayah saya komentarnya, "Ah, paling tulisanmu itu kamu contek dari mana?" Jadinya ciut dan tidak jadi dikirim. Perasaan saya waktu itu campur aduk. Sedih karena dianggap tukang contek. Kesal karena ayah sendiri tidak percaya sama kemampuan anaknya. Sometimes I just wish that I didn't have such a negative father. His negative thinkings affect my life until now...




Name:

Email:

URL:

Comment:  ? 

 

Commenting by HaloScan