my imagination, my soul

makasih pak rengparenduan {?}
atas uraian yang komprehensif

mengupas masalah kota tak akan pernah selesai
dinamika yg sering kita tak bisa 'tebak' arah kecenderungannya
bahkan saat kota telah direncana sedemikian rupa

khusus di Indonesia
kepentingan politik dan ekonomi masih sedemikian kuatnya
hingga proses pertumbuhan kota yg seimbang tentunya masih membutuhkan proses panjang

yang pasti tentunya 'kesadaran' tidak muncul tiba-tiba
kecuali saat manusia telah mengakui kebijakan alam sebenar-benarnya


Mengapa kota? apakah yang dapat dikonfrontasikan dengan desa? Dan adakah peluang untuk memandang kota dalam wawasan ideal? Ataukah ini fakta yang tak terelakkan karena proses kehidupan?
Dulu masa romawi dengan 100 jumlah penduduk sudah disebut kota..kini terminologi bergeser minimal 1000 penduduk untuk disebut kota dan harus berorientasi non agraris atau industrial (ironi muncul: ada istilah kota agropolitan.?)
Kini kota sudah mencapai 70% luas bumi. sebentar lagi akan sepenuhnya?
Lalu akan muncul istilah kota kecil, kota sedang, kota metro, lalu mega, lalu..lalu....???
Persis seperti ulasan bu Yola. Kota selalu butuh kritik dan pengawasan. Kota dan seluruh lingkungan artifisial termasuk arsitektur adalah sebuah proses yang belum selesai..dan tak akan pernah selesai.
Benar Hegel..selama manusia hidup maka akan terus berpikir.
Dan berpikir hanya akan tumbuh ketika melihat kenyataan sebagai permasalahan dan ketidakpuasan.
Apakah manusia pernah merasakan kepuasan?
Saya yakin pertanyaan seperti yang bu Yola tuliskan tidak akan pernah mendapat jawaban...keseimbangan-keseimbangan baru tumbuh berbanding lurus dengan permasalahan-permasalahan baru yang muncul kemudian..demikianlah bumi terus berputar...
Nietsze memandang hidup sebagai nihilisme...seperti lingkaran spiral tak berujung..
Islam berkata: "Tuhan menciptakan manusia berbangsa-bangsa. Satu sama lain akan saling bersaing. sampai datang hari kehancuran". Makna bersaing bisa berarti saling bersaing mencari yang lebih baik..dalam perspektif yang berlainan.


Gravatar setuju...setuju....
kota adalah romantika...
emang pastinya ada keseimbangan....
kita selalu terkenang akan hal2 detail yg kadang irrasional....
he....he....he....


Gravatar kota gudang ironi tetapi kaya dgn romantika. makin banyak penduduk, makin kompleks kehidupan. termasuk segala ekses yg diciptakannya. anehnya, kota tetap jadi primadona. urbanisasi tak ubahnya rombongan larong yg menyerbu lampion. hmm..mungkin karena kota kaya dgn romantika (meski tetap menyimpan ironi)..he..he..he..


Gravatar ya....salah satunya....
tapi sayangnya jokja juga udah macet-macetan juga gitu...
tapi masih 'dekat' kalo mau nyepi ke luar kota-nya...
naik motor masih nyampe - gak perlu muka item kena asap berlebihan he....he....he.....


Gravatar apa krn kesemrawutan kota besar ini yolanda pindah ke jogja..?




Name:

Email:

URL:

Comment:  ? 

 

Commenting by HaloScan